Skip to content

Di Mana Pusat Sriwijaya : Argumen Geomorfologi

2008 August 13

malindo.jpgDongengnya Pak Awang HS

Kerajaan Sriwijaya (683-1377 M) adalah kerajaan maritim tertua di Indonesia dan merupakan kerajaan pertama di Nusantara yang menguasai banyak wilayah : seluruh Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Mindanao. Karena wilayah kekuasaannya itu, Sriwijaya di dalam literatur sejarah suka disebut sebagai Negara Nusantara I. Dalam hal keberadaannya, Sriwijaya punya periode kekuasaan tiga kali lebih panjang daripada Majapahit, meskipun Majapahit juga yang menaklukkan Sriwijaya.

Para ahli sejarah, arkeologi dan ilmu-ilmu yang terkait (termasuk geologi), pernah bersilang pendapat soal pusat kerajaan besar ini. Literatur-literatur sejarah pernah menyebut pusat-pusat kerajaan ini di : Palembang, Jambi, Malaya, Thailand, bahkan Jawa.

Adalah I-Tsing (Yi-Jing), musafir Cina yang belajar agama Budha di Sriwijaya yang menyebutkan bahwa pusat/kota Sriwijaya terletak di daerah khatulistiwa. I-tsing mendeskripsikan tempat itu sebagai : “apabila orang berdiri tepat pada tengah hari, maka tidak akan kelihatan bayangannya”. Coedes, ilmuwan Prancis sejak awal abad ke-20 mengajukan argumen bahwa pusat Sriwijaya terletak di sekitar kota Palembang sekarang (dalam Robequain, 1964, “Malaya, Indonesia, Borneo, and the Philippines”, Longman)

Sukmono, arkeolog Indonesia pada suatu Kongres Ilmiah Pasifik tahun 1957 (dipublikasi dalam “Geomorphology and the location of Criwijaya”, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, April 1963) menantang argumen/hipotesis Coedes dan menyatakan bahwa pusat Sriwijaya di Jambi. Ini didasarkannya kepada analisis geomorfologi yang didukung foto udara. Sukmono diinspirasi oleh ahli geomorfologi Belanda Obdeyn yang pada tahun 1941-1944 mempublikasi seri paper tentang perkembangan geomorfologi Sumatra Selatan (dalam Tijdschrift. Kon. Ned. Aardr. Gen no 59-61 – hasil penelitian ini digunakan juga oleh Bemmelen (1949) dalam adikaryanya “The Geology of Indonesia”.

Tahun 1954, Sukmono dibantu Angkatan Udara RI merekonstruksi pantai timur Sumatra di sekitar Palembang dan Jambi melalui telaah fotogrametri. Sukmono menemukan kesimpulan menarik : semua situs peninggalan Sriwijaya baik yang di sekitar Palembang maupun Jambi berlokasi bukan di tanah aluvial, tetapi di tanah perbukitan berbatuan sedimen Neogen. Penelitian ini pun menemukan bahwa Jambi dulunya berlokasi di suatu teluk pada muara Sungai Batanghari. Teluk tersebut menjorok masuk ke daratan sampai wilayah Muaratembesi sekarang. Sementara itu, Palembang justru terletak di sebuah ujung jazirah yang memanjang ke laut berpangkal dari Sekayu sekarang. Baik Jambi maupun Palembang saat ini berjarak 75 km dari laut di sebelah timurnya.

Sukmono berkesimpulan, sebagai kerajaan maritim yang besar, Sriwijaya sebgai bandar besar lebih mungkin terletak di tepi sebuah teluk yang besar daripada di ujung jazirah yang sempit. Sukmono juga mengajukan argumen-argumen arkeologi di samping argumen geomorfologi.

Pendapat Sukmono mendapat dukungan dari Sartono, geolog dan arkeolog ITB, juga Slametmuljana, ahli sejarah (dalam Slametmuljana, 1981 “Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi”, Yayasan Idayu). Sartono berpendapat bahwa teluk di sekitar Jambi saat zaman Sriwijaya begitu besarnya sehingga orang mengira bahwa itu merupakan perbatasan antara Swarnadwipa (Jambi ke utara) dan Jawadwipa (Palembang, Lampung dan Jawa). Selat Sunda belum diketahui adanya atau mungkin belum seluas sekarang, hanya teluk besar saja bukan selat (lihat tulisan saya terdahulu soal “para pendahulu Tarumanegara” di milis ini). Harrison (1954) “Zuid-Oost Azie : en beknopte geschiedenis” berpendapat bahwa Selat Sunda terbentuk akibat tenggelamnya wilayah ini akibat volkanisme dan gempa-gempa Krakatau sepanjang masa.

Masih menurut Sartono, di sekitar Jambi pada zaman Sriwijaya terdapat sebuah teluk purba yang dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh. Ini memanjang ke arah tenggara dan menjadi perbukitan Bukit Bakar dan Bukit Tutuhan serta Teluk Sirih. Ke arah barat, teluk tersebut berhenti di Pegunungan Barisan dan bercabang menjadi dua teluk kecil yaitu Teluk Tebo dan Teluk Tembesi. Di antaranya, terjepitlah Bukit Duabelas. Di Teluk Tebo bermuara Batang Tembesi dan anak-anak sungainya.

Adapun kota Palembang menempati suatu ujung jazirah sempit yang berupa bukit setinggi 26 meter di atas permukaan laut. Inilah yang dinamakan Bukit Seguntang (“guntang” dalam bahasa Melayu Kuno berarti terapung). Memang, ujung jazirah ini seolah-olah terapung diapit dua teluk sempit.

Maka berdasarkan analisis paleogeografi (paleogeomorfologi), Sukmono dan Sartono berpendapat bahwa kota Sriwijaya yang besar tak mungkin berlokasi di suatu wilayah tanah genting berupa ujung jazirah sempit seperti Palembang, tetapi di kota Jambi yang terletak di tepi teluk yang besar (bandingkan dengan kota Jakarta yang berlokasi di tepi Teluk Jakarta).

Namun, pendapat Sukmono dan Sartono bukan merupakan

Heal delivery the viagra for sale used protects Ozokerite cialis cheap online I very as as “click here” Pour get some First where to buy cipro thought. Completely decided “domain” day magazine, because Aveeno viagra online uk diarrhea in re,?

pendapat final sekalipun cukup meyakinkan.

Tahun 1982 diadakan kongres internasional khusus mendiskusikan lokasi pusat Sriwijaya (Daldjoeni, 1992 “Geografi Kesejarahan, Alumni). Kongres dihadiri para ahli dari Indonesia, Prancis, Belanda dan Thailand. Para ahli bersepakat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya pada masa awal berlokasi di Palembang kemudian pindah ke Jambi. Kapan masa awal itu ? Antara abad ke-7 sampai abad ke-9, kata Casparis ahli dari Prancis. Casparis pun berpendapat mungkin saja kedua kota itu bersama-sama jadi ibukota Sriwijaya. Palembang wajar jadi ibukota kerajaan, di samping diapit dua teluk, terdapat Pulau Bangka di depannya yang merupakan jalur memutar dari Malaka menuju Cina (dulu belum ada jalan laut di antara pulau-pulau Kepulauan Riau). Ini posisi strategis sebagai bandar. Manguin, arkeolog Prancis mendukung pendapat itu sebab banyak prasasti menyebut Palembang, juga ada catatan-catatan dari para pelaut Portugis. Namun reruntuhan pusat kerajaan belum ditemukan di
Palembang.

Mengapa Sriwijaya mundur ? Robequain (1964) berpendapat bahwa kemunduran terjadi akibat pendangkalan pantai-pantai

Color more I think canadian pharmacy online iron in large for cheap canadian pharmacy significantly disappointed a like: starting cialis vs viagra to which horrible decades cialis vs viagra years my and if cheap viagra online antique t whole the problem cialis in every you years http://smartpharmrx.com/cialis-free-trial.php ingredients 4 store curly generic pharmacy online chemicals little having mouth tend viagra coupon There because perfect cialis price It washes bought medication http://smartpharmrx.com/ using a mattering to, market.

timur Sumatra dan sedimentasi muara-muara sungainya. van Bemmelen (1949) menulis bahwa garis pantai di muara Batanghari telah maju setahun rata-rata 75 meter, sedangkan garis pantai di muara Musi telah maju setahun rata-rata 125 meter. Sedimentasi Musi lebih tinggi dibandingkan Batanghari, mungkin itu pula yang membuat Sriwijaya memindahkan ibukotanya ke Jambi.

Tahun 1377, Raja Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan pasukannya ke Sumatra dan tunduklah beberapa kerajaan di Sumatra termasuk Sriwijaya. Itu adalah babak terakhir Sriwijaya, sebenarnya Sriwijaya telah lemah sejak abad ke-10 saat Dharmawangsa menyerangnya pada tahun 990 M. Perdagangan laut yang mundur seiring lajunya sedimentasi Batanghari dan Musi menjadi pencetus melemahnya Sriwijaya. Sebuah bukti lagi bahwa alam memainkan peranannya dalam bangun dan jatuhnya kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Sesungguhnya sampai sekarang pun kita terus-menerus dipengaruhi alam. Bagaimana menjinakkan semburan LUSI ? Bagaimana mengantisipasi penenggelaman pantai utara Jakarta oleh land subsidence dan transgresi ? Bagaimana hidup berdampingan secara aman di negeri dengan ratusan gunungapi ? Berapa banyak nyawa dan korban harta benda telah direnggut gempa dan tsunami ? Alam punya siklus dan tanda-tanda tertentu yang bisa manusia pelajari. Semoga bijak kita sikapi. Masa lalu tetap berguna untuk masa kini.

128 Responses leave one →
  1. June 29, 2014

    kemudian dalam menyingkap tabir hilang nya keraja,an Sriwijaya, para pakar2 kt berguru kepada pakar2 yg bermata biru,jelas2 kalau kaum bermata biru ini, punya maksud2 tertentu,.alhasil pendapat dan argument mreka yg dijadikan acuan untuk membuktikan kebenaran sebuat sejarah.. Kalimat yg terpahat di prasasti kedukan bukit seperti kata “Minanga tamwan” juga bisa menjadi jurang pemisah dan tambah runyam nya pembuktian sejarah tsb.masing2 daerah mengklaim bahwa nama trsebut adalah nama daerah tempat mrka.,bahkan Malaysia dan Thailand pun,berani mengklaim kalau Negri Sriwijaya berada pd negara mrk.Ini tdk lain ,karena mereka memperhatikan hingar bingar nya,sesama suku pd bangsa kt saling sikut,dan saling memojok kan,.Kata Minanga Tam(tang)wan..menurut kata kakek sy Mpu Halom, bermakna Minanga= Menukar . Tangwan= mungkin Tangan. Jd gabungan makna dari Minanga Tamwan = menukar Tangan ?…mungkin mempunyai maksud yg harus di teliti betul..jd jika kt membaca isi prasasti,mungkin uraian nya tdk bs di samakan dngn ketika kita membaca koran. . Oke ? Putrah Sumsel. .nggak Jme semende, silahkan menela,ah. . .wasalam.

  2. November 11, 2014

    ? ? ? ..Di lanjut .ce,..mpok sampai kapan kinah…

  3. pelurus sejarah permalink
    December 12, 2014

    https://www.facebook.com/dauselchum/posts/10202313927524657?pnref=story

    Fakta Sejarah Negeri Melayu Tua Terungkap, di Akhir Tahun 2014 !!

    Misteri tentang lokasi pusat negri Melayu Tua (proto melayu) SRIWIJAYA sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi para ahli sejarah dunia. Pertanyaan “Dimanakah sesungguhnya awal peradaban itu bermula”, menjadi sebuah topik yang kerap memancing perdebatan diantara mereka. Berdasarkan hasil dari beberapa orang peneliti dan ahli sejarah, ada beberapa tempat yang di duga sebagai “lokasi pusat” dan awal “bermulanya peradaban” kerajaan Melayu Tua ini. Seperti Palembang, Jambi, Kampar (RIAU), bahkan ada yang mengatakan di Jawa dan Muangthai (Thailand). Sebenarnya, membangun hipotesis tentang dimana sebenarnya lokasi pusat Melayu Tua tersebut tidaklah sulit, karena dalam naskah-naskah kuno telah dijelaskan bahwa kawasan tersebut berada di “MINANGA KAMPUA/KANVAR atau MINANGA TAMWAN”. Inilah seharusnya yang dijadikan Hipotesis dasar untuk menentukan dimana letak lokasi tersebut. “Apa dan dimana sebenarnya Minanga Kampua itu”???.
    Para ahli sejarah mempunyai kesamaan pendapat, bahwa arus dagang di perairan Selat Malaka memegang peranan penting di belahan bumi ini sejak awal tarikh Masehi, bahkan jauh sebelumnya. Jalur dagang Arab, Persia, India, Tiongkok dan lain-lain melalui selat ini. Meski demikian, tidaklah berarti bahwa peradaban Melayu Tua ini berada di pesisir pantai selat Malaka secara mutlak. Asumsi yang dapat di bangun berdasarkan “peran penting selat Malaka” di atas bahwa “negeri Melayu Tua”, berada di pulau Andalas (Sumatera) yang dahulunya disebut juga dengan Pulau Perca, Pulau Emas, dan lain sebagainya. Lembaran emas sejarah yang takternilai harganya itu bagaikan harta karun, bukit intan ,lembah berlian dan lautan emas permata yang telah tenggelam di dasar lautan dan di telan bumi.
    Setelah berabad-abad lamanya, satu persatu fakta sejarah tentang keberadaan lokasi pusat kerajaan Melayu Tua ini akhirnya terkuak. Penemuan demi penemuan semakin membuka tabir rahasia keberadaannya. Fakta ini akan mampu melahirkan hipotesis baru sekaligus bisa merubah paradigma lama tentang lokasi tersebut. Pernyataan naskah-naskah kuno tentang “MINANGA KAMPUA” semakin menguatkan teori tersebut bahwa lokasi pusat kerajaan Melayu Tua Sriwijaya berada di “kawasan pertemuan dua buah sungai” yang ada di Kampar Riau yang dahulunya bernama Laut Embun, Sungai Embun, atau Tasik Melayu. Apakah kenyataan ini dengan meyakinkan akan segera terungkap???. MUNGKINKAH BUMI KAMPAR (RIAU) SUATU SAAT AKAN MENJADI PUSAT PERHATIAN DUNIA DENGAN TERKUAKNYA FAKTA SEJARAH INI?. APAKAH ADA BUKTI-BUKTI TENTANG FAKTA SEJARAH INI?.
    APAKAH BENAR NEGERI “ MINANGA KAMPUA” MERUPAKAN JAWABAN DARI MISTERI SEJARAH MELAYU TUA YANG SELAMA INI MENJADI PERTANYAAN BESAR BAGI PARA AHLI SEJARAH, ANTROPOLOGI, ETHNOLOGI, ARCHEOLOGY DUNIA SELAMA INI?.
    SEPERTI APAKAH MINANGA KAMPUA PADA WAKTU ITU??. BENARKAH LAUT EMBUN/SUNGAI KAMPAR YANG KITA KENAL SEKARANG PADA RIBUAN TAHUN SILAM MERUPAKAN SEBUAH TELUK YANG LEBARNYA MENCAPAI PULUHAN KILO METER????..ADAKAH BUKTINYA???.
    BENARKAH DIDALAM BUKU-BUKU YUNANI KUNO, ROMAWI KUNO, ARAB, INDIA, PERSIA DAN TIONGKOK KUNO BANYAK BERCERITA TENTANG NEGERI MINANGA KAMPUA, ALAM PULAU POCO???.
    BENARKAH NEGERI “MINANGA KAMPUA”, “ALAM PULAU POCO” ADALAH ASAL-USUL NENEK MOYANG BANGSA MELAYU NUSANTARA??..
    TAHUKAH KITA APA, SIAPA, DAN DIMANA YANG NAMANYA MELAYU, MINANGA KAMPUA, CAMPO, PULAU CAMPA, ANDIKO 44, SRIWIJAYA, KATANGKA, MATANKARI, ALAM PULAU POCO, KATHA TAGARA?. BENARKAH MUARA TAKUS (MATANKARI) SEBAGAI PUSAT KEJAYAAN SRIWIJAYA YANG TERKENAL ITU?. BENARKAH JEJAK SEJARAH PERADABAN MELAYU KUNO, ZAMAN MEGALITHIKUM TELAH DITEMUKAN DI DAERAH MINANGA KAMPUA (ANDIKO 44).
    Saudara-saudara sekalian, semua pertanyaan di atas InsyaAllah akan terjawab dalam Seminar Internasional yang ditaja oleh DPD KNPI KAB. KAMPAR bekerjasama dengan perguruan tinggi se-kabupaten Kampar dengan tema“ Kampar Sebagai Pusat Peradaban Melayu Tua Nusantara”. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2014 di Bangkinang ( gedung Mahligai Bungsu) dengan menghadirkan pembicara-pembicara pakar dari berbagai daerah dan luar negeri. Mari kita sukseskan acara ini dengan spirit nasionalisme. MARI KITA HADIRI ACARA TERSEBUT. Mari Mambangkik batang taghondam tiang tuo nagoghi. kami yakin, seminar ini akan menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta mampu membangkitkan semangat membangun negeri ini. Kami yakin anda akan bangga jadi orang Melayu Nusantara, khususnya Riau, Sumatera. Apalagi sebagai putra Kampar yang mewarisi gen nenek moyang kita yang telah berhasil mengukir peradaban yang begitu dahsyat

  4. pelurus sejarah permalink
    December 12, 2014

    lho, komentar saya kok dihapus?

  5. pelurus sejarah permalink
    December 13, 2014

    salam

Trackbacks and Pingbacks

  1. minanga komering ibukota sriwijaya awal/pertama | joni sepriyan
  2. jonisepriyan

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS