Di Mana Pusat Sriwijaya : Argumen Geomorfologi
Kerajaan Sriwijaya (683-1377 M) adalah kerajaan maritim tertua di Indonesia dan merupakan kerajaan pertama di Nusantara yang menguasai banyak wilayah : seluruh Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Mindanao. Karena wilayah kekuasaannya itu, Sriwijaya di dalam literatur sejarah suka disebut sebagai Negara Nusantara I. Dalam hal keberadaannya, Sriwijaya punya periode kekuasaan tiga kali lebih panjang daripada Majapahit, meskipun Majapahit juga yang menaklukkan Sriwijaya.
Para ahli sejarah, arkeologi dan ilmu-ilmu yang terkait (termasuk geologi), pernah bersilang pendapat soal pusat kerajaan besar ini. Literatur-literatur sejarah pernah menyebut pusat-pusat kerajaan ini di : Palembang, Jambi, Malaya, Thailand, bahkan Jawa.
Adalah I-Tsing (Yi-Jing), musafir Cina yang belajar agama Budha di Sriwijaya yang menyebutkan bahwa pusat/kota Sriwijaya terletak di daerah khatulistiwa. I-tsing mendeskripsikan tempat itu sebagai : “apabila orang berdiri tepat pada tengah hari, maka tidak akan kelihatan bayangannya”. Coedes, ilmuwan Prancis sejak awal abad ke-20 mengajukan argumen bahwa pusat Sriwijaya terletak di sekitar kota Palembang sekarang (dalam Robequain, 1964, “Malaya, Indonesia, Borneo, and the Philippines”, Longman)
Sukmono, arkeolog Indonesia pada suatu Kongres Ilmiah Pasifik tahun 1957 (dipublikasi dalam “Geomorphology and the location of Criwijaya”, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, April 1963) menantang argumen/hipotesis Coedes dan menyatakan bahwa pusat Sriwijaya di Jambi. Ini didasarkannya kepada analisis geomorfologi yang didukung foto udara. Sukmono diinspirasi oleh ahli geomorfologi Belanda Obdeyn yang pada tahun 1941-1944 mempublikasi seri paper tentang perkembangan geomorfologi Sumatra Selatan (dalam Tijdschrift. Kon. Ned. Aardr. Gen no 59-61 - hasil penelitian ini digunakan juga oleh Bemmelen (1949) dalam adikaryanya “The Geology of Indonesia”.
Tahun 1954, Sukmono dibantu Angkatan Udara RI merekonstruksi pantai timur Sumatra di sekitar Palembang dan Jambi melalui telaah fotogrametri. Sukmono menemukan kesimpulan menarik : semua situs peninggalan Sriwijaya baik yang di sekitar Palembang maupun Jambi berlokasi bukan di tanah aluvial, tetapi di tanah perbukitan berbatuan sedimen Neogen. Penelitian ini pun menemukan bahwa Jambi dulunya berlokasi di suatu teluk pada muara Sungai Batanghari. Teluk tersebut menjorok masuk ke daratan sampai wilayah Muaratembesi sekarang. Sementara itu, Palembang justru terletak di sebuah ujung jazirah yang memanjang ke laut berpangkal dari Sekayu sekarang. Baik Jambi maupun Palembang saat ini berjarak 75 km dari laut di sebelah timurnya.
Sukmono berkesimpulan, sebagai kerajaan maritim yang besar, Sriwijaya sebgai bandar besar lebih mungkin terletak di tepi sebuah teluk yang besar daripada di ujung jazirah yang sempit. Sukmono juga mengajukan argumen-argumen arkeologi di samping argumen geomorfologi.
Pendapat Sukmono mendapat dukungan dari Sartono, geolog dan arkeolog ITB, juga Slametmuljana, ahli sejarah (dalam Slametmuljana, 1981 “Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi”, Yayasan Idayu). Sartono berpendapat bahwa teluk di sekitar Jambi saat zaman Sriwijaya begitu besarnya sehingga orang mengira bahwa itu merupakan perbatasan antara Swarnadwipa (Jambi ke utara) dan Jawadwipa (Palembang, Lampung dan Jawa). Selat Sunda belum diketahui adanya atau mungkin belum seluas sekarang, hanya teluk besar saja bukan selat (lihat tulisan saya terdahulu soal “para pendahulu Tarumanegara” di milis ini). Harrison (1954) “Zuid-Oost Azie : en beknopte geschiedenis” berpendapat bahwa Selat Sunda terbentuk akibat tenggelamnya wilayah ini akibat volkanisme dan gempa-gempa Krakatau sepanjang masa.
Masih menurut Sartono, di sekitar Jambi pada zaman Sriwijaya terdapat sebuah teluk purba yang dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh. Ini memanjang ke arah tenggara dan menjadi perbukitan Bukit Bakar dan Bukit Tutuhan serta Teluk Sirih. Ke arah barat, teluk tersebut berhenti di Pegunungan Barisan dan bercabang menjadi dua teluk kecil yaitu Teluk Tebo dan Teluk Tembesi. Di antaranya, terjepitlah Bukit Duabelas. Di Teluk Tebo bermuara Batang Tembesi dan anak-anak sungainya.
Adapun kota Palembang menempati suatu ujung jazirah sempit yang berupa bukit setinggi 26 meter di atas permukaan laut. Inilah yang dinamakan Bukit Seguntang (”guntang” dalam bahasa Melayu Kuno berarti terapung). Memang, ujung jazirah ini seolah-olah terapung diapit dua teluk sempit.
Maka berdasarkan analisis paleogeografi (paleogeomorfologi), Sukmono dan Sartono berpendapat bahwa kota Sriwijaya yang besar tak mungkin berlokasi di suatu wilayah tanah genting berupa ujung jazirah sempit seperti Palembang, tetapi di kota Jambi yang terletak di tepi teluk yang besar (bandingkan dengan kota Jakarta yang berlokasi di tepi Teluk Jakarta).
Namun, pendapat Sukmono dan Sartono bukan merupakan pendapat final sekalipun cukup meyakinkan.
Tahun 1982 diadakan kongres internasional khusus mendiskusikan lokasi pusat Sriwijaya (Daldjoeni, 1992 “Geografi Kesejarahan, Alumni). Kongres dihadiri para ahli dari Indonesia, Prancis, Belanda dan Thailand. Para ahli bersepakat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya pada masa awal berlokasi di Palembang kemudian pindah ke Jambi. Kapan masa awal itu ? Antara abad ke-7 sampai abad ke-9, kata Casparis ahli dari Prancis. Casparis pun berpendapat mungkin saja kedua kota itu bersama-sama jadi ibukota Sriwijaya. Palembang wajar jadi ibukota kerajaan, di samping diapit dua teluk, terdapat Pulau Bangka di depannya yang merupakan jalur memutar dari Malaka menuju Cina (dulu belum ada jalan laut di antara pulau-pulau Kepulauan Riau). Ini posisi strategis sebagai bandar. Manguin, arkeolog Prancis mendukung pendapat itu sebab banyak prasasti menyebut Palembang, juga ada catatan-catatan dari para pelaut Portugis. Namun reruntuhan pusat kerajaan belum ditemukan di
Palembang.
Mengapa Sriwijaya mundur ? Robequain (1964) berpendapat bahwa kemunduran terjadi akibat pendangkalan pantai-pantai timur Sumatra dan sedimentasi muara-muara sungainya. van Bemmelen (1949) menulis bahwa garis pantai di muara Batanghari telah maju setahun rata-rata 75 meter, sedangkan garis pantai di muara Musi telah maju setahun rata-rata 125 meter. Sedimentasi Musi lebih tinggi dibandingkan Batanghari, mungkin itu pula yang membuat Sriwijaya memindahkan ibukotanya ke Jambi.
Tahun 1377, Raja Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan pasukannya ke Sumatra dan tunduklah beberapa kerajaan di Sumatra termasuk Sriwijaya. Itu adalah babak terakhir Sriwijaya, sebenarnya Sriwijaya telah lemah sejak abad ke-10 saat Dharmawangsa menyerangnya pada tahun 990 M. Perdagangan laut yang mundur seiring lajunya sedimentasi Batanghari dan Musi menjadi pencetus melemahnya Sriwijaya. Sebuah bukti lagi bahwa alam memainkan peranannya dalam bangun dan jatuhnya kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Sesungguhnya sampai sekarang pun kita terus-menerus dipengaruhi alam. Bagaimana menjinakkan semburan LUSI ? Bagaimana mengantisipasi penenggelaman pantai utara Jakarta oleh land subsidence dan transgresi ? Bagaimana hidup berdampingan secara aman di negeri dengan ratusan gunungapi ? Berapa banyak nyawa dan korban harta benda telah direnggut gempa dan tsunami ? Alam punya siklus dan tanda-tanda tertentu yang bisa manusia pelajari. Semoga bijak kita sikapi. Masa lalu tetap berguna untuk masa kini.

The Rise of Sriwijaya Empire
( The Legend of Jaya Naga )
By : Agung Arlan
Pada tahun 600 Masehi terdapat suku di pedalaman Sumatera Selatan yang di kenal dengan nama suku Sakala Bhra ( purba ) yang berarti Titisan Dewa , suku ini mendiami daerah pegunungan dan lembah bagian utara di sekitar gunung Seminung daerah perbatasan Sumatera Selatan dengan Lampung .
Suku ini terpecah menjadi dua kelompok masyarakat, yang pertama yang mendiami kawasan sekitar gunung Seminung dan turun ke lembah bagian utara sampai ke Lampung kemudian sebagian lagi turun ke daerah bawah dengan mengikuti aliran sungai di daerah huluan sumatera selatan yang kemudian di kenal dengan suku SAMANDA_DI_ WAY yang berarti orang yang mengikuti aliran sungai dan berakhir di Minanga ( Purba ), suku ini yang kelak kemudian asal mula suku Daya, Komering, Ranau,. ( Van Royen -1927 )
Minanga karena kedudukannya di tepi Pantai di tinjau dari berbagai segi memikul beban sebagai ibukota negara. Adapun bahasa yang mereka pergunakan adalah Bahasa Malayu Kuno atau Proto Malayu yang merupakan cikal bakal bahasa komering, didaerah uluan sumatera selatan.
Kerajaan tersebut di pimpin oleh seorang Raja yang hebat dan sakti , yang bernama JAYA NAGA kemudian oleh masyarakat pedalaman di beri Gelar DA-PUNTA-HYANG yang berarti Maha Raja yang Keramat , sekarang pun di daerah uluan sumatera selatan masih dapat kita kenal gelar Pu-Yang untuk orang yang kita anggap sesepuh maupun orang yang mempunyai kesaktian tinggi..
Kerajaan ini kemudian di kenal dengan negeri kedatuan SRIWIJAYA disebut juga dalam kronik ( tulisan ) di negeri china yaitu kerajaan Shi Li Fo Shih
Kerajaan ini setiap tahun nya mengirim utusan ke negeri china tercatat sejak tahun 670 s/d 742 yang pada saat itu di negeri China sedang berkuasa Dinasti Tang ( 618–907 ).
Disebut pada dalm satu tulisan di negeri China bahwa ada kerajaan dari laut china selatan yang selalu mengirim utusannya ke Tiongkok, kerajaan itu bernama Shi-Li-Fo-Shih yang di transeleterasikan menjadi Sriwijaya.
Pada tahun 671 Masehi seorang pendeta China yang bernama It-Tsing mengunjungi kerajaan ini dalam perjalanannya menuju India untuk memperdalam ajaran Budha.
It-Tsing menetap 6 bulan di Minanga ibukota kedatuan Sriwijaya untuk memperdalam bahasa Sansekerta , dengan bantuan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga , It-Tsing Berangkat menuju tanah Melayu ( Jambi ) dan menetap selama 2 bulan sebelum melanjutkan perjalanan melalui Kedah terus keutara menuju India.
Dapunta Hyang Sri JayaNaga sangat di sayangi dan di sanjung oleh rakyatnya karena selain mempunyai kesaktian tinggi juga merupakan pemimpin yang arief , bijaksana dan adil terhadap rakyatnya. Jaya Naga juga seorang penganut Budha yang taat. Dengan Kesaktiannya ia dapat mengetahui dan membaca gerak gerik alam, langit, matahari,bulan, bintang , hawa, hujan, angin, batu, tanah dan hewan, sehingga penduduk kedatuan ini menganggap Jaya Naga merupakan sosok titisan Dewa diatas Brahmana yang merupakan perantara manusia dengan sang Ghaib yang diturunkan ke bhumi untuk menjaga dan melindungi pulau surga (Swarna Dwipa). Setiap kata yang diucapkannya merupakan petunjuk, setiap petuah dan nasehat menjadi adat dan istiadat, kebaikannya merupakan anugerah dan kebahagian bagi penduduk dan kemarahan beliau merupakan malapetaka.
Setiap daerah taklukkannya Jaya Naga selalu menunjuk pemimpin setempat yang di ambil dari Jurai Tua ( sesepuh masyarakat ) untuk menjadi Datu ( Ratu – pemimpin ) di daerahnya sendiri tetapi tetap terikat sebagai bagian dari daerah kedatuan Sriwijaya.
Jaya Naga juga mampu menyatukan beberapa rumpun suku yang ada di daerah pedalaman atau uluan sumatera selatan yang awalnya semua penduduk berasal dari tiga rumpun suku yang mendiami tiga gunung yang ada yaitu Gunung Seminung, Gunung Dempo dan Bukit Kaba, System pemerintahan inilah yang kelak menjadi asal mula system pemerintahan Marga yang ada di daerah uluan sumatera selatan.
Kedatuan Sriwijaya terkenal merupakan kerajaan yang makmur dengan hasil alamnya berupa kayu kamper, kayu gaharu, Pinang, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Selain itu juga kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kebudayaan agama Budha Mahayana yang mana daerah ini merupakan perlintasan perjalanan para pendeta budha yang ingin memperdalam pertapaannya dari India ke China maupun sebaliknya, dan dalam perkembangannya kerajaan Sriwijaya merupakan pusat Studi agama Budha di kawasan Asia tenggara terutama daerah semenanjung Selat Malaka dan Selat Sunda terbukti dari catatan It-Tsing, kerajaan Sriwijaya mempunyai 1.000 pendeta Budha, pendeta Budha yang cukup terkenal dari Kedatuan Sriwijaya ini bernama Sakyakirti.
Penduduk kerajaan ini sebagian merupakan petani dan sebagian lagi merupakan saudagar yang melakukan perdagangan dengan India , Melayu dan China . Pedagang dari Tiongkok dagang ke Sriwijaya dengan membawa keramik ,porselein dan sutra untuk di tukarkan dengan emas, permata dan komoditas lain dari negeri ini yang merupakan tempat dimana komoditas penting pada jaman itu sampai dengan sekarang merupakan kekayaan alam pulau ini sehingga orang pada masa itu menyebut pulau ini dengan Pulau Surga ( Swarna Dwipa ) .
Kerajaan ini di aliri oleh sungai-sungai ( kanal-kanal) kecil yang memasuki perkotaan sehingga perahu merupakan sarana transportasi penting masyarakat kota tersebut sehingga kerajaan ini terkenal dengan armada kapal – kapal yang kuat dan rapi yang kemudian dapat menguasai seluruh kawasan pelayaran di selat Malaka dan selat Sunda .
Pada saat itu pelabuhan Palembang yang merupakan pintu masuk ke perairan sungai-sungai yang ada di uluan sumatera selatan banyak di kuasai perompak-perompak.
Kondisi seperti ini membuat kapal kapal yang berlayar di pantai timur pulau sumatera berlabuh di pelabuhan Melayu ( Jambi ) kemudian melanjutkan pelayaran tanpa memasuki pelabuhan Palembang.
Kisah perkembangan kerajaan Sriwijaya ini dimulai dari apa yang diutarakan dalam Prasasti Kedukan Bukit. Pada Hari kesebelas bulan terang bulan Wai Saka tahun 605, Dapunta Hyang Jayanaga berperahu kembali ke Minanga selepas melakukan pertapaan di gunung Seminung. Dalam pertapaannya Jaya Naga meminta restu dan memohon petunjuk dan kekuatan dari sang Ghaib di Gunung Seminung untuk menaklukkan tempat-tempat yang strategis agar dapat menguasai jalur pelayaran di Laut Cina Selatan di karenakan pada waktu itu Minanga ( ibukota kerajaan ) terletak dalam suatu teluk dimana sungai komering bermuara kurang strategis di pandang dari sudut perdagangan.
Untuk Mewujudkan cita – citanya tersebut Dapunta Hyang Sri Jaya Naga melakukan konsolidasi dengan daerah belakang yang satu rumpun yaitu rumpun Sakala Bhra (Purba). Kemudian Dapunta Hyang Sri Jaya Naga menaklukan daerah yang juga satu Rumpun tersebut yang terletak di sekitar bukit Pesagih di Hujung Langit Lampung Barat dan kemudian semua penduduk di ikat oleh Sumpah setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya. ( Prasasti Hujung Langit – Lampung Barat )
Sepulang dari penaklukan daerah belakang makin kuatlah pasukan kerajaan Sriwijaya yang di dukung oleh pasukan tambahan dari satu rumpun, pasukan atau laskar sriwijaya terkenal akan keberanian, dan kekuatannya.
Dapunta Hyang Sri Jaya Naga mulai melakukan expansi pertamanya yaitu dia harus menaklukan Tanjung Palembang dan menunjuk Mukha Upang ( Kedukan Bukit ) di daerah palembang sebagai titik temu. Palembang pada jaman itu merupakan kota di pinggir pantai di mana bukit Sigiuntang merupakan tanjung palembang yang menjorok ke laut. Tempat ini adalah dataran tinggi yang merupakan mercu suar atau tempat pintu masuk ke tanjung Palembang yang merupakan akses laut menuju ke sungai sungai yang ada di sumatera.selatan.
Pada peta pantai timur Sumatra purba di tepi pantai timur teluk purba terdapat 2 tanjung yang menjorok jauh kearah laut , kearah utara dengan jambi di ujungnya, dan yang timur menjorok kearah tenggara dengan Palembang berada diujungnya. Tanjung Palembang terbentuk oleh Bukit Siguntang sedang di selatan bukit ini terdapat teluk yang menjorok dalam lagi di mana sungai komering bermuara.
Kemudian Dapunta Hyang Sri Jaya Naga membawa 20.000 ( Dua Puluh Ribu ) pasukannya dengan 1.312 berjalan kaki melalui daratan atau hutan belantara dan sebagian lagi membawa perahu mengikuti perairan. Selama dalam perjalanan terjadilah pertempuran – pertempuran kecil yang tidak terlalu berarti yang merupakan perlawanan dari daerah daerah yang di lintasi oleh laskar Kerajaan Sriwijaya.
Pada tanggal 16 Juni 683 Masehi atau sekitar tujuh hari perjalanan sampailah rombongan pasukan yang di pimpin Dapunta Hyang Sri Jaya Naga di Muka Uphang. Perjalanan pasukan Sriwijaya mendapat kemenangan besar sehingga memberikan kepuasan bagi Sang Raja Dapunta Hyang Sri Jaya Naga, kemudian Sang Raja memerintahkan untuk membuat bangunan atau rumah ( barak ) untuk tempat para laskar Sriwijaya yang berjumlah 2 laksa laskar Sriwijaya , untuk mengabadikan kemenangan tersebut di pahatlah Prasati Kedukan Bukit .
Setelah Mengadakan konsolidasi di daerah Mukha Upang ( Kedukan Bukit ) dan kemudian menguasai pelabuhan palembang , maka “ pada hari kedua bulan terang bulan Caitra tahun 606 Saka ( 23 Maret 684 M ) Dapunta Hyang Sri Jaya Naga sangat puas akan kesetiaan rakyat setempat. Oleh karena itu di bangunlah Taman Sriksetra dengan pesan agar semua hasil yang di dapat di dalam taman ini seperti Nyiur, Pinang, Enau, Rumbia dan semua yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, demikian pula halnya dengan tebat dan telaga agar dapat di pelihara sehingga berguna bagi sekalian makhluk. Untuk itu Dapunta Hyang Sri Jaya Naga memohon restu agar ia selalu sehat sentosa terhindar dari para penghianat yang tidak setia, termasuk para abdi bahkan oleh istri-istri beliau. Karena beliau tidak akan menetap lama beliau menambah pesannya : “ Walaupun dia tidak berada di tempat dimanapun dia berada janganlah hendaknya terjadi Curang, Curi, Bunuh dan Zinah di situ. Akhirnya di harapkan doa agar beliau mendapatkan Anuttara bhisayakasambodhi “
( Parasasti Talang Tuo )
Setahun kemudian terjadilah pemberontakan yang di pimpin oleh Perwira Lokal yaitu Kandra Kayet sehingga menimbulkan korban termasuk salah satu Panglima Perang Sriwijaya terbunuh yang bernama Tan Drun Luah, walaupun demikian Kandra Kayet yang gagah perkasa dapat di di bunuh oleh Dapunta Hyang Sri Jaya Naga dan mati sebagai penghianat.
Untuk mengingat hal ini maka di buatlah suatu prasasti persumpahan untuk mengikat setiap para pejabat lokal yang ada di daerah taklukan agar dapat tetap setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kalau tidak maka akan terkutuklah dan di makan sumpah ( Prasasti Telaga Batu ).
Batu persumpahan yang dimaksud antara lain berbunyi :
- “……. kamu sekalian, seperti kamu semuanya, anak raja, bupati, panglima Besar,…….hakim pengadilan……kamu sekalian akan dimakan sumpah yang mengutuk kamu. Apabila kamu sekalian tidak setia kepada kami kamu akan dimakan sumpah. ( 1-6 )”.
- “ Apabila kamu berhubungan dengan pendurhaka yang menghianati kami …………orang yang tidak tunduk kepada kami serta kedatuan kami kamu akan di bunuh oleh sumpah kutuk ini. ( 7-8 ) “.
- “ Apabila kamu menabur emas permata untuk meruntuhkan kedatuan kami atau menjalankan tipu muslihat………..dan apabila kamu tidak tunduk kepada negara kedatuan kami maka terkutuklah kamu akan dimakan dibunuh sumpah kutuk. ( 11-12 ) “.
- “ Demikian pula apabila kamu melawan kepada kami di daerah-daerah perbatasan negara kedatuan kami kamu akan dimakan, di bunuh. (13-14).
- “ ……lagi pula kami tetapkan pengangkatan menjadi datu dan mereka yang melindungi sekalian daerah negara kedatuan kami putra mahkota, putra raja kedua, dan pangeran lain yang didudukan dengan pengangkatan menjadi datu, kamu akan dihukum apabila kamu tidak tunduk kepada kami ( 19-20 )”.
Secara Geografis palembang adalah tempat yang strategis untuk menguasai lalu lintas pelayaran di Laut China Selatan. Namun kebanyakan pada waktu itu kapal – kapal berlayar singgah di kerajaan Melayu ( Jambi ) yang juga merupakan pelabuhan strategis di pantai timur sumatera kemudian kapal kapal tersebut melanjutkan perjalanannya ke utara tanpa singgah lagi di pelabuhan palembang.
Melihat kondisi seperti ini Dapunta Hyang Jaya Naga berencana untuk menaklukan kerajaan Melayu ( Jambi ) untuk di jadikan wilayah kekuasaan kedatuan Sriwijaya.
Dapunta Hyang Sri Jaya Naga bersama pasukannnya segera menuju Melayu, yang dari semula tanah Melayu sudah di rencanakan untuk di tundukkan.
Pada tahun 685 di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga, Kerajaan Melayu takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya.
Untuk meneruskan perjalanan ke Selatan dengan tujuan akhir adalah bumi Jawa tentu saja Melayu harus segera pula di tinggalkan. Peristiwa pemberontakan Kandra Kayet terus saja terbayang oleh sri baginda dan ini di jadikan sebagai contoh oleh Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kepada setiap pejabat lokal bahwa setiap penghianatan, walau di lakukan oleh seorang perkasa sekalipun dapat di tumpas . kemudian penduduk kerajaan Melayu pun di ikat dengan Sumpah maka di pahatlah prasasti Karang Brahi.
Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kembali berangkat dengan melalui lautan berarti harus melalui selat Bangka . Oleh karena itu kerajaan Bangka harus pula di tundukkan lebih dahulu. Setelah menaklukan kerajaan Bangka, Dapunta Hyang Jaya Naga bersiap melanjutkan perjalanannya ke Bumi Jawa, namun sebelum keberangkatan Sri Baginda, penguasa lokal dan rakyatnya harus di beri peringatan dan di ikat dengan persumpahan untuk selalu setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga. Demikianlah pada akhirnya : “ Pada hari pertama bulan terang Waiseka tahun 608 Saka atau tahun 686 Masehi Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga meninggalkan Batu Prasasti Persumpahan yang kita kenal sebagai Parasasti Kota Kapur dan segera menuju Bumi Jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.
Dalam perjalanan Sri Baginda menuju Bumi Jawa masih ada daerah yang berdiri sendiri di pantai timur Sumatera Bagian Selatan, untuk kepentingan keamanan penguasaan laut selatan, kerajaan itu harus pula di tundukan. Kerajaan itu sebenarnya berasal dari satu rumpun wangsa Sakala Bhra. Kerajaan itu adalah kerajaan Ye-Po-Ti ( Way Seputih ) di lampung Selatan. Sama dengan peristiwa- peristiwa lainnya, setiap beliau meninggalkan daerah – daerah yang rawan pemberontakan harus diadakan sumpah setia terlebih dahulu. Sumpah tersebut terpahat dalam Prasasti Palas Pasemah.
Dari Way Seputih Rombongan langsung menuju Bumi Jawa, Dapunta Hyang Sri Jaya Naga mengutus salah Satu Panglima terbaiknya yang juga merupakan kerabat dekat kerajaan yaitu Dapunta Sailendra untuk memimpin pasukan Sriwijaya menuju Bumi Jawa. Dari data yang ada tampaknya mereka menuju Jawa tengah bagian utara.
Pada saat inilah di nyatakan oleh berita di neger China ( Dinasti Tang ) bahwa kerajaan Sriwijaya terpecah menjadi dua bagian masing- masing mempunyai pemerintahan sendiri. ( Kronik Dinasti Tang ).
Pada periode perkembangan kerajaaan Wangsa Sailendra di Jawa Tengah harus melaksanakan perintah Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk membangun candi di Ligor ( Muangthai ) candi tersebut baru selesai tahun 775 di resmikan oleh raja Wisnu dari Wangsa Sailendra.
Sementara itu Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kembali ke Minanga untuk melanjutkan memerintah Kedatuan Sriwijaya yang menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka dan Laut China Selatan .
Berdasarkan prasasti Kota Kapur, Kerajaan Sriwijaya menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan.
akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Budha Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya.
Masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
Di akhir Abad ke 7 ibukota Minanga telah mengalami malapetaka hingga Silap atau hilang secara misterius di telan bumi. Keadaan ini membuat Sri Baginda Dapunta Hyang Jaya Naga bersedih sehingga mengasingkan diri ke Gunung Seminung untuk bertapa sampai akhir hayatnya.( Legenda Minanga Sigonong-Gonong )
Di angkat dari Buku :
Periodisasi Kerajaan Sriwijaya
Karangan : H.M. Arlan Ismail, SH ( 2003 )
Minanga Ibukota Kerajaan Sriwijaya……..
Nama Minanga ( Komering Ulu Sumatera Selatan ) sebagai nama tempat sudah ada semenjak sebelum Van Rokel membaca prasasti kedukan bukit tahun 1924. Oleh karena itu nama Minanga di Komering Ulu itu bukanlah mencontoh kebesaran nama dalam prasasti kedukan bukit.
Ini terlihat dalam suatu piagam perjanjian tahun 1629 dengan mamakai tulisan Arab-Melayu oleh kesultanan Palembang yang pada waktu itu di berkuasa Sedaing Kenayan mengenai tapal batas Marga Minanga. Piagam tersebut masih tersimpan sebagai dokumen Marga Semendawai Suku III.
Minanga yang kita identifikasikan sebagai ibukota Sriwijaya sekarang adalah merupakan nama dua buah desa yaitu desa Minanga Tengah dan desa Minanga Besar .
Desa Minanga sekarang terletak di daerah rawa-rawa dataran rendah. Daerah yang agak tinggi permukaannya mengelilingi desa-desa tersebut yaitu di sebelah hulu sungai disekitar daerah Betung ( dahulu bernama Kedaton ) di sebelah barat ada dataran tinggi yang membentang sampai ke batas Kedaton dan sungai Ogan. Jadi bahwa kawasan Minanga berada di antara dua daerah yang bernama Kedaton yang berada di pedalaman Sumatra Selatan di pinggir Sungai Komring. Ada yang menarik tentang nama-nama tempat sebagai petanda monumen sejarah yang terdapat di Desa Minanga Komring Ulu dengan menamai kampungnya dengan nama-nama yang memberi kesan seolah-olah tersebut ada bekas pusat suatu pemerintahan antara lain :
1. Kampung Ratu — Menggambarkan komplek Perumahan para Raja-raja
2. Kampung Kadalom — menggambarkan adanya kompleks perkampungan para abdi dalam.
3. Kampung Balak — berasal dari kata Bala atau Laskar kedaton
4. Kampung Binatur — berasal dari kata Batur yang berarti pelayan keraton
5. Pasar Malaka — yang sekarang merupakan ladang penduduk yang di yakini oleh penduduk setempat dahulunya merupakan tempat orang memperdagangkan barang dagangan dari Malaka.
Nama nama tersebut sudah ada sama tuanya dengn nama Minanga komring ulu yang sudah ada sejak sebelum tahun 1629 Masehi
Kemudian di kawasan Minanga ini banyak sekali kita jumpai Makam Kuno ( makam keramat ) lebih kurang terdapat 15 makam kuno sepanjang uluan sungai komring yang di kenal dan di percayai oleh penduduk setempat merupakan makam Raja-Raja maupun panglima perang jaman dulu yang menjadi keramat bagi desa desa sekitar.
Antara lain :
- Pu-Hyang ( Puyang ) Ratu Kadi yang berarti Pangeran Mahkota
- Pu-Hyang ( Puyang ) Naga Brinsang yang berarti Raja Naga Ajaib.
- Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Alam Basa Berarti Raja Alam berasal dari Dewa.
- Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Randah ( Randuh ) yang berarti Raja yang dapat berpndah- pindah tempat.
- Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Ranggah yang berarti raja banyak Cahang.
- Pu-Hyang ( Puyang ) Marabahu ( diucapkan Marbau ) yang berarti Raja yang berkali-kali mati dan hidup kembali.
- Tan Junjungan ( Puyang Tan Junjungan ) yang berarti panglima yang penuh sanjungan.
- Tan Adi ( Puyang Tan Adi ) yang berarti Panglima Utama
- Tan Aji ( Puyang Tan Aji ) yang berarti Panglima Raja
- Tan Mandiga ( Puyang Tan Mandiga ) yang berarti Panglima yang ampuh.
- Tan Salela ( Puyang Tan Salela ) yang berarti Panglima yang menarik hati
- Tan Robkum ( Puyang Tan Robkum ) yang berarti Panglima yang tahan rendam dalam air.
- Tan Hyang Agung ( Puyang Tihang Agung ) yang berarti Panglima dewa Agung
- Tan Minak Batara ( Puyang Minak Batara ) yang berarti panglima turunan Raja
- Tan Mahadum ( Puyang Mahadum ) yang berarti panglima penyelamat.
Jarak Minanga dengan Pantai timur sekarang jika di tarik lurus horizontal lebih dari 100 Km. Karena Minanga berada di pinggir sungai yang sekarang di kenal dengan sungai Komring maka penduduknya di sebut orang Komring. W.V. Van Royen dalam bukunya “ De Palembang Sche Marga ( 1927 ) “ tidak menyebut orang komring tetapi “ Jelma Daya “ . Nama sungai Komring sendiri diambil dari nama seorang yang berasal dari India yang bernama Komering Singh ,makam nya terdapat di sebelah hulu desa Muara Dua , sungai yang mengalir mulai dari makam tersebut tepatnya mulai dari Muara Selabung yang mengalir ke hilir sampai muara Plaju di sebut sungai Komring .
Menurut sejarah Kabupaten Ogan Komering Ulu ( 1979 ) Jelma Daya kelompok pertama yang turun dari gunung Seminung melalui Danau Ranau kemudian seterusnya menelusuri sungai Komring sampai di Gunung Batu adalah kelompok Samandaway. Samandaway berasal dari kata Samanda Di Way yang berarti mengikuti aliran sungai.
Pada tahun 1974 telah ditemukan sebuah arca Budha yang terbuat dari Perunggu ukuran tinggi ±35 cm, tebal 11 cm di temukan 15 km dari desa Minanga yang di temukan tidak sengaja oleh petani setempat yang kemudian menjadi barang koleksi pribadi mantan bupati OKU pada saat itu.
Minanga hanyalah monumen sejarah dalam bentuk nama tempat, tapi kawasan Minanga purba adalah begitu luas yaitu paling sedikit sebesar Marga Semendawai Suku III dan di sebelah barat berbatasan dengan daerah Kedaton ( Ogan Ulu Sumatera Selatan ).
Karena langka nya peninggalan Sriwijaya dalam bentuk benda kepurbakalaan di manapun termasuk di daerah Minanga ( Komring Ulu sumatera selatan ) maka alternative lain yang harus di cari identitasnya ke dalam nilai-nilai Budaya dimana salah satu aspek budaya yang penting dan masih menonjol adalah Bahasa . :
“ Bahasa adalah alat utama Kebudayaan. Tanpa Bahasa kebudayaan tidak mungkin ada. Kebudayaan tercermin dalam Bahasanya. ( S Gazalba 1966 : 102 ) “
Seperti di utarakan di muka bahwa rumpun Seminung mempunyai bahasa dan tulisan sendiri. Orang Rumpun Seminung tergolong suku Malayu Kuno ( Proto Malayan Tribes ), bahasanya banyak terdiri dari bahasa Malayu Kuno , bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta.
Bahasa Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, dan prasasti lainnya dalam periode Shi-Li-Fo-Shih ( 670 s.d 742 Masehi ) adalah bahasa Malayu Kuno dan kausa katanya banyak yang tertinggal dalam bahasa Rumpun Seminung ( Komering, Daya,Ranau, Lampung ).
Sebagai perbandingan kita mengambil contoh adalah prasasti Telaga Batu : menurut bacaan dan terjemahan Prof.Dr.J.G. de Casparis dalam bukunya “ Selted inscription from the 7 th to the 9 th century A.D ( 1956 )” . Prasasti itu terdiri dari 28 baris dengan jumlah ±709 kata-kata yang sudah terbaca, dari kata-kata tersebut terbentuk ±311 bentukan kata yang tidak kurang dari 50 kata yang terbukti di pakai dalam bahasa Komering ( Rumpun Seminung ). Antara lain sebagai berikut :
Bahasa Sriwijaya Bahasa Komering Indonesia
( Prasasti Melayu Kuno )
- Awai - Awai - Memanggil
- Dangan - Jongan - Cara
- Hulun - Hulun - Orang asing
- Inan - Inan - Biarkan
- Katahuman - Katahuman - Tertangkap tangan
- Labhamamu - La(m)bahanmu - Tempat tinggalmu
- Mulam - Mulang - Kembali
- Mancaru - Macuaru - Mangacau/menghianat
- Muha - Muha - Angap ringan / boros
- Muah - Muah - Lagi / Masih ada
- Marpadah/Padah - Mapadah/Padah-Tanggulangi / Andalan
- Pira - Pira - Berapa
- Puhawam - Puhawang - Pawang / Peramal
- Ri - RI - Bersama
- Sarambat - Sarambat - Setangkai
- Talu - Talu - Kalah / tunduk
- Tapik/Manapik - Tapik/Manapik - Menghindar/elak/serang
- Tuhan - Tuhan - Milik
Tidak teridentifikasinya Minanga Komring Ulu sebagai ibukota Sriwijaya selama ini di karenakan :
1. Para ahli sejarah tidak mengetahui bahwa ada Minanga di daerah Komering Ulu Sumatera Selatan yang berada di Muara Sungai di tepi Pantai pada waktu itu, sehingga orang mencari Minanga di luar Sumatra Selatan di dasarkan kepada semata-mata kesamaan bunyi dan penggantian huruf.
2. Penelitian Geomorfologi semata-mata di tujukan hanyalah penelitian kedudukan Jambi dan Palembang apakah berada di tepi pantai atau tidak pada jaman Sriwijaya
3. Minanga dalam Prasasti kedukan bukit di satukan dengan kata Tamvan sebagai Toponim (nama tempat ), Minanga yang tersebut dalam prasasti kedukan bukit di tafsirkan sebagai daerah yang ditundukkan oleh sriwijaya hanya semata-mata untuk memperkuat Palembang sebagai ibukota Kerajaan..
4. Para ahli sejarah hanya mau mengakui sesuatu atau mengarahkan penelitian pada suatu tempat kalau sudah ada bukti arkeologis di ketemukan lebih dahulu, sedangkan sumber sejarah bukan terletak kepada benda arkeologis semata, tetapi juga dalam bentuk ciri-ciri budaya, bahasa dan lain-lain peninggalan kebudayaan masa lampau yang dapat di jadikan petunjuk awal.
5. Karena tidak di ketahui bahwa Minanga ada di Komering Ulu Sumatera Selatan maka ia tersisihkan dari obyek penelitian sehingga tidak di temukan benda-benda yang bersifat arkeologis. Benda-benda arkeologis itu hanya di tunggu atau di harapkan untuk di ketemukan secara kebetulan seperti yang kita alami sekarang.
agung arlan… terimakasih atas referensi anda… yang cukup lengkap…. tapi cikal bakal sekala brak kurang memadai… skala bra ini lah yang masih menjadi fokus pembicaraan…. karrena sebagian besar suku2 di sumatera bagian selatan seperti lampung dan komering… memang berasal dari sana. disitu anda tulis bahawa sekala brak mulai menyebar pada tahun 600 M. bagaimana dengan kebudayaan yang sudah lebih dulu eksis dalam bentuk kerajaan tertua di sumatera seperti kata Fa Hien yaitu pengelana cina yang mengataka keberadaan kerajaan TO-Lang P’hwang / Kerajaan tulang bawang di tepi sungai tulang bawang (Propinsi Lampung) pada abad ke 4. nyaris sama dengan kerajaan tertua di indonesia di Kutai. mengingat bahasa Lampung dan Komering identik. budaya dan adat identik. tulisan aksara identik. akibatnya di situs melayu.com ditulis bahwa kerajaan sriwijaya adalah federasi kerajaan Melayu Kuno dan Tulang bawang karena mengingat eksistensi tulang bawang yang sudah mengakar dan lebih dahulu eksis dibanding sriwijaya/palembang. kronologis suatu cerita harus runut dan faktor kesamaan akar budaya melayu proto benar2 identik antara minanga dan kultur masyarakat daerah tulang bawang. memang sulit sekali kita menggali keberadaan tulang bawang sendiri. yang hanya diakui oleh penduduk setempat da kisah dari fa hien yang otentik. tapi setidaknya keberadaan sriwijaya dan tulang bawang yang lebih dulu eksis harus lah ada benang merah… mengabaikan cerita dari Fa hien pada abad ke 4 terkait tulang bawang dengan kemunculan sriwijaya di abad ke 7 di tengah2 kebudayaan melayu proto, agak nya terlalu disayangkan. apalagi jika benar minanga di daerah komering dan kerajaan tulang bawang di lampung adalah suku yang sama secara bahasa, aksara dan budaya bahkan karakter sifat kerasnya.
Lyzhera….
untuk intro saya mengatakan tahun 600 masehi bukanlah awal dari penyebaran dari suku Sakala Bhra(Purba) tetapi untuk menekan adanya suatu kesatuan Rumpun antara penduduk Komering Ulu dengan masyarakat Lampung paminggir….mengapa saya katakan Purba karna yg dimaksud disini adalah bukan suku Sakala Bhra yg ada sekarang….Sakala Bhra yg sekarang terbentuk sejak terjadinya Perang Abung sekitar tahun 1400 masehi….
Mengapa Komring kurang terkenal dibanding dgn Lampung dikarekan memang Komering bukanlah merupakan SUKU…..Nama Komring sendiri diambil dari nama seorang saudagar buah Pinang yang berasal dari India yang bernama Komring Singh , makam ( kuburan ) nya terdapat di sebelah hulu desa Muara Dua, sungai yang mengalir mulai dari makam tersebut tepatnya mulai dari pertemuan sungai Selabung dengan Wai Saka yang mengalir ke hilir sampai muara Plaju di sebut sungai Komring dan penduduk yang tinggal disepanjang aliran sungai ini disebut orang Komring ,tetapi tidak semua penduduk yang mendiami sungai komring di sebut orang komring, aliran sungai Komring sampai di Gunung Batu, penduduknya terbagi dalam 2 ( dua ) Kewedanaan Muara Dua dan Kewedanaan Martapura , sebagian penduduk kewedanaan Muara Dua di sebut Jelma Daya bukan Orang Komring walaupun mereka tinggal di pinggir sungai Komring sementara itu penduduk yang termasuk kewedanaan Martapura di sebut orang komring.
contoh bahasa yang anda tuliskan, masyarakat suku lampung pun tahu artinya. maka statemen saudara yang mengatakan bahasa sriwijaya adalah bahasa komering cukup aneh. mengingat bahasa sriwijaya itupun dengan mudah saya artikan. jumlah suku lampung dibanding komering juga jauh dari segi jumlah…. tapi jika saudara mengatakan bahasa sriwijaya sebagaimana tercantum dalam prasasti melayu kuno adalah bahasa melayu proto yang menurunkan bahasa lampung dan komering dan ternyata memang suku yang sama, itu baru sesuai. aneh memang. semua suku di propinsi lampung baik pepadun dan pesisir semua sepakat nama sukunya lampung. mereka terikat dgn budaya, bahasa, adat istiadat yang sama. semua bisa sepakat bilang jelma/ulun/jelmo lappung. termasuk suku di kota batu di dekat ranau sumsel. mereka bilang orang lampung. tapi komering kenapa tidak. bahasa, aksara, budaya mirip dan identik…. entah lah. bahkan di orang2 lampung di cikoneng jabar pun tetap mengakui sebagai masyarakat adat lampung. sehingga orang2 yang di sekitar kebudayaan way seputih pun gak bilang orang seputih. yang berasal dari way abung pun gak bilang kami abung. kenapa yang di way komering bilang mereka komering. sekarang kami di Propinsi lampung banyak jurai. ada orang banten, jawa, sunda, padang dan suku dari sumsel. semua sepakat dalam SANG BUMI RUWAI JURAI. arti nya satu tanah untuk banyak suku. hanya untuk renungan…..
Lyzhera….
didalam tulisan saya tidak mengatakan bahasa Sriwijaya adalah Bahasa Komring, tetapi yang saya maksud adalah Bahasa Sriwijaya ( Shi-Li-Fo-Shih) menggunakan bahasa Melayu Kuno dimana bahasanya masih dipakai oleh masyarakat Rumpun Seminung …antara lain adalah Bahasa Komring, Daya, Ranau, dan Lampung Peminggir…secara geologis seperti yg di tuturkan oleh Pendeta It-Tsing bahwa ibukota Sriwijaya(Shi-Li-Fo-Shih) berada di tepi Pantai dan dimuara sebuah Sungai ….dari sini beliau menuju kedah dan singgah di Melayu( jambi) harus melalui Palembang yang mana pada masa itu banyak perompak di pelabuhan Palembang sehingga It-Tsing meminta bantuan Dapunta Hyang Jayanaga untuk melewati pelabuhan Palembang dan singgah di Kerajaan Melayu(jambi) sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Utara…..dari Uraian It-Tsing diatas dapatkita Simpulkan bahwa dari Ibukota Sriwijaya menuju Jambi harus melalui Palembang….berarti ibukota Sriwijaya berada di Uluan Sumatera Selatan di Muara Sebuah Sungai yang Besar dan di tepi Pantai(Teluk Palembang) yang kami identifikasikan adalah MINANGA ( Purba )….Minanga (Purba ) sendiri begitu luasnya kalo kita perbandingkan dengan sekarang kira2 sebesar daerah Semendawai Suku III ( Komring Ulu sumatera Selatan )…..btw thx atas responnya…
ado cerita tentang suku pendatang marga haji idak??? yang puyangnya naga berisang, puyang rakihan sakti, puyang hujan sakti,lo ado bagi aku ceritanyo!!!
Adakah hubungannya motif kain tapis lampung yang berupa sebuah perahu besar yang dibentuk dengan benang emas?
Saya sangat tertarik dengan artikel ini, apalagi menggali asal-usul saya sebagai orang lampung. Saya memiliki peta silsilah keluarga (Asal-usul Orang Menggala) dan saya adalah turunan yg ke-19. Peta ini disalin ulang dari Kulit Kayu. Kalau dilihat dari peta ini, topnya adalah “Puyang Naga Brinsang/Minak Sekala Kuang/Asal Sekala Bhra”. Saya coba cari di Internet, menemukan ada 15 makam kuno di daerah Minanga, salah satunya adalah “Puyang Naga Brinsang”. Apakah hanya kesamaan nama saja? Kenapa di makamkan disana, apa karena memang beliau tinggal disana hingga akhir hayatnya? Apakah hubungannya antara Tulang-Bawang/Minanga/Sriwijaya? Dimanakah keberadaan Kerajaan Tulang-Bawang? Mohon infonya dan bisa email kesaya.
Asal - usul pencantuman nama marga di Maluku itu sejak kapan yah?
Diskusi menarik.
Saya tertarik dengan penyebutan “Minanga”. Di Toraja Utara di wilayah Sa’dan terdapat daerah yang disebut Minanga yang dalam kisah lisan turun temurun dikisahkan sebagai salah satu wilayah asal usul To Manurung (Titisan Dewa/Khayangan).
Mengingat kami memiliki pusaka keris (Toraja:gayang) yang memiliki motif yang sangat bertolak belakang dengan kebudayaan motif toraja.
Apakah ada korelasinya ?
Atas pencerahannya, saya ucapkan terima kasih.
Lizera dalam hal masalah bahasa dan kesamaan adat antara masyarakat komering dan lampung,sebenar itu bukanlah hal yang aneh, karna dari geografi nya daerah lampung dan komering itu bisa kita lihat antra kedua suku tersebut sebenarnya adalah pertengahan antara pembagian daerah antara sumatera selatan dan prov lampung hanya saja suku komering masuk ke daerah sumsel dan suku lampung tetap mendapatkan tempatnya dilampung, dan mungkin bs jadi kedua suku ini pada awalnya dalah satu suku yang Sama dan dikarenakan oleh adanya pembagian daerah provinsi maka suku serumpun ini pecah menjadi 2 bagian dan yg kita kenal dengan suku komering dan lampung,dan jg kt tidak bs meninggalkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang berabad2 dijajah oleh bangsa belanda yang menerapkan politik adudomba mungki pecahnya suku komering dan suku lampung,merupakan hasil olahan dari sistim penjajahan belanda pd bangsa Indonesia, contoh lain komering jg dibagi menjadi 2 yaitu OKU dan OKI itu hanya contoh kecilnya, dan kalau menurutkan bahasa siapa yang dipakai dalam penulisan prasasti kerajaan sriwijaya tersebut kalau dikatakan sebagai bahasa komring atau lampung saya kira kedua2nya tidak ada masalah karna bahasa kedua daerah tersebut Sama, hanya terjadi perbedaan sedikit antara bahasa dan logat bahasa yang diprgunakan, dan juga kalau menurut kan yang dikatakan pedagang cina tentang kerajaan yang ada di pesisir sungai tulang bawang apakah merupakan pakta yang kuat yang menjadikan tempat dan wilayah kekuasaan lampung sedangkan pada waktu itu kt belum tau lampung itu dimana dan batas2 wilayahnya berapa dan apa2 namanya, mungkin saja waktu itu kedua siuku ini mash dalam satu bentukan wilayah ntah apa namanya komring atau lampung, dan sebagian sejarah dari nenek moyang lampung juga mengatakan bahwa. Ada suku lampung yang terbentuknya dari perpindahan suku komrim ke daerah lampung salah satunya adalah tulang bawang tapi TD anda sudah memponis bahwa suku lampung lebih besar dari komring, padahal kita blm tau sejarah terbentuknya kedua provinsi sumsel dan lampung itu bagaimana?apakah komering itu asalnya lampung ataukah lampung itu asalnya komering karena antara komering dan lampung kalau dilihat dari daerahnya hanya dibatasi oleh tapal batas saja alias tidak ada pambatas yg jauh contohnya daerah way kanan dan martapura belitang dan bahuga semuanya tidak mempunyai pembatas yg dikatakan bisa dikatakan jauh memisahkan, jadi kalau menurut saya kalau seandainya kita mau serius untuk tau asal usul dari kerajaan sriwijaya kita juga harus melihat dan memperhatikan sejarah2 terdahulu dan pendapat2 yang di berikan orang2 yang sedikit banyak tau tentang sejarah, bs saja pakta yang dilihat beda dengan kenyataan, dan kl seandainya kita benr2 mau mencari kebenaran sejarah mengapa kita harus berdebat dengan pendapat orang lain yang mengarahkan kita dan mungkin bs diambil kebenarannya, dengan kata lain mengapa kita harus selisih paham seandai nya ingin tau yang sebenarnya ayo kita kitA cari kebenarn sumbernya….kl debat skrg sedgkan bukti yg kuat blm ada kan namanya sia2, ayo kt sam2 salg bantu membantu dan berlomb mencari kebanrn faktanya, dan seandainya ada ilmuan yang mau melakukan penelitian kedaerah komering kami masyarakat komering siap membantu………oke……..wsslam
saya sedikit bisa menambahkan catatan agung arlan, dan menjawab tentang tulang bawang, lampung dan komering….,
untuk itu kita harus mengetahui dulu apa itu orang lampug.., hingga sekarang tak ada satupun penjelasan mengenai orang lampung itu apa, berasal dari kata mana , banyak sumber yang berbeda beda pendapat…, secara garis besar lampung dibagi 2 yaitu pesisir dan pepadun, pesisir inilah yang mempunyai corak bahasa dan budaya yang mirip dengan komering adapun pepadun mempunyai corak bahasa dan budaya yang sangat berbeda jauh dengan komering, nah TO-Lang P’hwang / Kerajaan tulang bawang di tepi sungai tulang bawang ini adalah bagian dari pepadun yang mempunyai bahasa dan budaya yang berbeda jauh dengan komering .
mengenai kenapa orang pesisir dan pepadun sepakat sebagai orang lampung saya pribadi melihatnya sebagai intervensi penjajah belanda yang mengkotak kotak kan suku, memecah belah dengan tujuan melemahkan persatuan, banyak sumber sejarah tentang lampung berasal dari peraturan atau pertemuan yang di fasilitasi oleh penjajah belanda, secara sederhana saja mengapa pepadun dan pesisir yang mempunyai bahasa dan budaya berbeda bisa menjadi satu suku ? adakah penjelasan (bukan penjelasan dari hikayat atau cerita rakyat) yang tepat darimana kata LAMPUNG ? atau suku LAMPUNG ?
umumnya jika suatu suku yang tua keberadaannya akan terdapat catatan tertulis atau peninggalan benda atau bangunan yang membuktikan keberadaannya, utk didaerah lampung justru peninggalan yang ada tidak merujuk pada kata kata Lampung justru kerajaan lain
kata kata lampung banyak di temukan di referensi2 penjajah belanda
di daerah lampung sendiri ada beberapa desa komering yang menuturkan keberadaan mereka dilampung karena dulunya menuturkan tugas keprajuritan seperti di menggala yang mengakui bahwa nenek moyang mereka ditugaskan utk menumpas gerombolan bajak laut di menggala.
saya sudah membaca penjelasan2 di atas mengenai dimana letak kerajaan sriwijaya yg sesungguhnya, dan sangat menarik sekali dg artikel ini, sdh lama saya membaca literatur2 mengenai keberadaan sriwijaya, namun tidak ada satu pun yg bisa meyakinkan saya keberadaan srwijaya yg sesungguhnya..
sampai pada suatu ketika saya ditemui oleh seseorang yg menjelaskan secara singkat keberadaan kerajaaan (kantor/pusat pemerintahan/istana) sriwijaya di masa lampau
namun hal ini perlu kajian dan penelitian yg lebih mendalam dari berbagai aspek dan ilmu pengentahun dan teknologi tentunya, sebenernya informasi ini sdh lama saya ketahui namun untuk membuktikannya harus pemerintah dan instansi terkait mencari jalannya….rahasia ini sdh saya simpan belasan tahun… mohon nanti pada temen2 mohon di bantu apabila bagaimana situs yg saya sebutkan ini bisa diteliti oleh pakar arkeologi dan lain2.
Informasi yg saya dapat letak pemerintahan atau istana kerajaan srwijaya itu menurut orang yg menjumpai saya adalah di palembang.
tepatnya di daerah sekitar stadion bumi srwijaya dan sport hall palembang, di lokasi inilah kerjaan sriwijaya yg sebenernya
oleh karena sdh berabad-abad lamanya lokasi ini akhirnya mengalami erosi dan lain sebagainya, pendangkalan dan lain sebgainya maka lokasi yg sebenarnya tertutup berabad2 silam, silahkan bila ada instansi atau peneliti, silahkan diteliti dari segi letak geografis dan lain sebagainya saya serahkan kepada yg ahlinya karena menurut informasi parit besar yg ada di sekitar kompleks stadion olah raga itu dulunya adalah sungai, karena perubahan alam lama2 pendangkalan dan mengecil bayangkan berabad silam…
dan coba kita menelaah dan menganalisa dg situs2 yg ada di sekitarnya yg telah di temukan,seprti di bukit siguntang, di daerah sekitar tangga buntung dan tempat2 makam beradius tidak terlalu berjarak jauh (kalo dulu termasuk agak jauh)dari lokasi pemerintahan/istana sriwijaya (stadion olah raga yg sekarang) sebenernya semua itu saling link or berhubungan dan perlu di ingat palembang tempo dulu semuanya sungai lihat sketsa yg digambarkan oleh org belanda saya lupa namanya
nah saya hanya bisa menyampaikan informasi ini, untuk selanjutnya mohon bagi teman2 dan instansi yg terkait, atau bila perlu ada arkeolog luar negri yg mau meneliti lebih lanjut itu yg kita harapkan, saya hanya dapat sepotong informasi itu, dan mengenai pusaka kerajaan sriwijaya dan singgasana dan lainnya menurut informasi yg saya dapat ketika sriwijaya runtuh sengaja ditenggelamkan ke sungai musi (ini perlu penelitian lagi)….
mudah2an informasi ini bisa berguna esok hari….
kerajaan tulang bawang menurut cerita adalah terdiri dari 2 yaitu tulang/talang di komering dan bawang di pesagi, kedua2nya merupakan penyebaran awal masyarakat lampung yang bersala dari sekala berak kuno (SAKALA BAKA) di pesagi.. namun seiring berjalannya waktu.. keturunan talang mengikuti sungai komering (kemungkinan mendirikan sriwijaya), dan bawang ke pesisir barat krui dan selatan sampai kalianda-jabung (kemungkinan menurunkan kerajaan seputih/Yeh-Poti)..
Sedangkan dipedalaman lampung belum ada penghuninya (rimba).. Maka bisa dilihat peninggalan di daerah situs batu bedil talang padang, situs pugung raharjo dll..
Baru pada penyebaran kedua terjadi setelah keturunan lampung asli bercampur dengan pendatang dari pagaruyung yang menyebarkan islam baru penyebarannya kedaerah2 pedalaman lampung sekarang, dan setelah itu baru berdiri adat pepadun (tahun 1700-an).. Sedangkan adat saibatin sudah sejak dulu dari nenek moyang di sekala berak sebelum islam..
Sedangkan pasukaan 40 orang dari lampung tersebut selain diambil dari skala berak, diambil dari keturunan lampung yang ada di pesisir selatan dan daerah tulang bawang yang keturunan komering.. Jadi orang lampung dulu tidak keberatan dia disebut dari sekala berak atau tulang bawang, ya asalnya nenek moyang mereka dari sekala berak juga (adat saibatin = sai-indra/sailendra = satu raja), sebelum adat pepadun berdiri..
Sedangkan adat saibatin sekarang unsur hindunya telah tehapus oleh unsur islam akibat pengaruh kepaksian pak sekala berak islam dan keratuan darah putih.. sehingga di lampung pesisir selatan tidak mengenal yang namanya pepadun, karena mereka keturunan lampung asli buay tumi.. sedangkan diskala berak dikenal pepadun karena memang mereka yang pertama kali menebang pohon lemasa kepampang yang dijadikan pepadun..
Jika mengetahui buay-buay dipesisir selatan hampir tidak dapat dikenali karena mereka termasuk buay-buay tua seperti : buay tumi, babok, khandu, sakha, tengklek, hulu dalung, hulu tutung, mikhadatu, tambakukha dll.. Tetapi hanya keturunan buay tumi di krui dan komering yang bisa mengenalinya..
Sejarah lampung tidak berhenti sampai di ratu dipuncak, ratu dipugung, ratu dibalau dan ratu pemanggilan, tetapi menyambung dengan sejarah kerajaan galuh-pejajaran, mataram kuno dan sriwijaya dll.. Yang silsilahnya bertemu di kerajaan champa/kamboja (RAJENRA SAILENDRA).. Hanya saja kita tidak banyak tahu dan gak mau tahu.. Karena semau kerajaan di indonesia saling berhubungan saudara antar raja-rajanya..
Sehingga dikenal dalam kitab jawa : SIJAWA RATU MAJAPAHIT, SIPASUNDAYANG RATU PAJAJARAN DAN SILAMPUNG RATU BAKA (maksudnya RATU SAKALA BAKA wangsa Sailendra)..
kerajaan tulang bawang menurut cerita adalah terdiri dari 2 yaitu tulang/talang di komering dan bawang di pesagi, kedua2nya merupakan penyebaran awal masyarakat lampung yang bersala dari sekala berak kuno (SAKALA BAKA) di pesagi.. namun seiring berjalannya waktu.. keturunan talang mengikuti sungai komering (kemungkinan mendirikan sriwijaya), dan bawang ke pesisir barat krui dan selatan sampai kalianda-jabung (kemungkinan menurunkan kerajaan seputih/Yeh-Poti)..
Sedangkan dipedalaman lampung belum ada penghuninya (rimba).. Maka bisa dilihat peninggalan di daerah talang padang, pugung raharjo dll..
Baru pada penyebaran kedua terjadi setelah keturunan lampung asli bercampur dengan pendatang dari pagaruyung yang menyebarkan islam baru penyebarannya kedaerah2 pedalaman lampung sekarang, dan setelah itu baru berdiri adat pepadun (tahun 1700-an).. Sedangkan adat saibatin sudah sejak dulu dari nenek moyang di sekala berak sebelum islam..
Sedangkan pasukaan 40 orang dari lampung yang membantu banten untuk mengalahkan pajajaran, selain diambil dari skala berak, diambil dari keturunan lampung yang ada di pesisir selatan dan daerah tulang bawang yang keturunan komering.. Jadi orang lampung dulu tidak keberatan dia disebut dari sekala berak atau tulang bawang, ya asalnya nenek moyang mereka dari sekala berak juga (adat saibatin = sai-indra/sailendra = satu raja), sebelum adat pepadun berdiri..
Sedangkan adat saibatin sekarang unsur hindunya telah tehapus oleh unsur islam akibat pengaruh kepaksian pak sekala berak islam dan keratuan darah putih.. sehingga di lampung pesisir selatan tidak mengenal yang namanya pepadun, karena mereka keturunan lampung asli buay tumi.. sedangkan diskala berak dikenal pepadun karena memang mereka yang pertama kali menebang pohon lemasa kepampang yang dijadikan pepadun..
Jika mengetahui buay-buay dipesisir selatan hampir tidak dapat dikenali karena mereka termasuk buay-buay tua seperti : buay tumi, babok, khandu, sakha, tengklek, hulu dalung, hulu tutung, mikhadatu, tambakukha dll.. Tetapi hanya keturunan buay tumi di krui dan komering yang bisa mengenalinya..
Sejarah lampung tidak berhenti sampai di ratu dipuncak, ratu dipugung, ratu dibalau dan ratu pemanggilan, tetapi menyambung dengan sejarah kerajaan galuh-pejajaran, mataram kuno dan sriwijaya dll.. Yang silsilahnya bertemu di kerajaan champa/kamboja (RAJENRA SAILENDRA).. Hanya saja kita tidak banyak tahu dan gak mau tahu.. Karena semau kerajaan di indonesia saling berhubungan saudara antar raja-rajanya.. Sehingga dikenal dalam kitab jawa : SIJAWA RATU MAJAPAHIT, SIPASUNDAYANG RATU PAJAJARAN DAN SILAMPUNG RATU BAKA (maksudnya RATU SAKALA BAKA wangsa Sailendra)..
Jika dilihat bahasa lampung merupakan bahasa Melayu Tua.. sehingga tidak heran jika nama API, BAH, APUI, WAY, LAWOK.. Merupakan bahasa asli kepulauan Austronesia yang tersebar dari kepulauan nusantara sampai kepulauan polinesia.. Nama asli kepulauan Krakatau dikenal dengan nama NUSA APUI (pulau Api)..
Sedangkan Hubungannya dengan Suku Lain (Hubungan Persaudaraan) terlihat dari bahasanya :
- LAMPUNG -BATAK : Bulung (daun), Biding (pinggir), dll..
- LAMPUNG - MELAYU : Buwok (rambut), Sudu (sendok), Pun - Tun (orang yg dimuliakan), dll..
- LAMPUNG - SUNDA/JAWA : Nga-Lampura (dibaca kh) -Hampura (mohon maaf), Bingi - Wengi (Malam), Mengan -Mangan (Makan), Uyah -Uyah (Garam), Kanca - Konco (saudara), Awi-Awi (bambu), Dalom - Dalem (gelar bangsawan), luwih - lewih (kaya/lebih), Mising - Ngising (BAB), dll..
Bahkan istilah PANG LIPANGDANG dan TANDANG MIDANG ada juga dalam bahasa Champa/Kemboja kuno.. dan kata Api (apa) dalam bahasa lampung disana disebut Apei (apa) juga…
Nama tmpt “palas pasemah” di lampung yg ditmukan prasasti sriwijaya, dulu bernama way pisang (klau tdk salah).. Krn thn 1900-an dtg pendatang dr daerah pasemah sumsel, drh trsbt berubah nama mjd “palas pasemah”.. Jadi sriwijaya jng diidentikan dgn pasemah..
Sejak dulu nenek moyang lampung sudah berhubungan erat dgn krjaan di jawa terutama pajajaran dan majapahit.. Bahkan lampung dianggap sbg klan terdekat dgn raja2nya.. Spti nama SUSUK LAMPUNG, AJI SAKA dan SILAMPUNG RATU BAKA srg disbt2 dlm kitab kuno krjaan..
Dalam wasiat prabu darmasiksa (galuh) trsbtlah: “..Waspadalah direbutnya kebuyutan dari sunda, jawa, lapung, baluk, cina..” nama lapung/lampung dimungkinkan sama dgn SRIWIJAYA..
Raja-raja Sriwijaya berasal dari wangsa sailendra.. Sailendra = sai+indra, indra artinya raja/penguasa.. Di lampung di sebut batin/sebatin.. Shg nama sailendra menjadi nama “SAI_BATIN”..
Memang benar wangsa sailendra brsal dr krjan champa/kamboja kuno yg merupakan ktrnan raja india (yudistira). Perkawinan dgn putri raja funan (ktrn tibet) melahirkan dapunta srijayanaga..
sriwijaya adalah kerajaan maritim yg bergantung pada perdagangan, oleh krn itu sriwijaya menguasai byk bandar2 pelabuhan tempat berlabuhnya pedagang asing dari cina, india dan arab. Daerah strategis kekuasaannya adlh perairan laut dan sungai2 besar dng pintu masuk muara sungai. Maka bisa dimungkinkan masy. Adat pesisir / sebatin lampung adalah bagian dr sriwijaya, krn permukiman awal masyrktnya pesisir menempati muara sungai dan berjenjang mengikuti sungai dan berjajar ditepi laut yg diknal dgn ADAT KEBANDAKHAN.
adat sebatin tdk hanya mengatur kekuasaan adat, upacara adat dll, tetapi lebih luas mengatur perekonomian masy. Adat yg dikepalai oleh seorang sebatin, sebatin dibantu raja, raja dibantu raden, raden dibantu minak, minak dibantu kimas, kimas dibantu layang,gimbakh dll. Bukan gelar adat yg bisa dibeli dgn uang agar memenuhi rasa gengsi saja, yg trjdi pd masa2 pnjajahn belanda sjk abad ke17, itu namanya PEOADALISME. Ya bkn tdk mungkin apa yg trjdi di wilayh lampung skrg, suap menyuap, politik uang menjadi hal yg biasa dan plg parah di indonesia, krn hal tsbt sudah terbiasa dilakukan dlm adat hasil bentukan belanda dulu. Di pesisir sdgn sibuk perang dgn belanda, Mereka dipedalaman sibuk membentuk adat dan perang dgn sesamanya. Itu realita sejarah bukan..?
oleh karena itu, sadarlah dan kembali kejalan yg benar, yg sesuai dgn ajaran islam. Adat dibntuk bukan untuk pamer gelar, tetapi menghimpun persaudaraan sedarah dan seiman/kemuwakhian.. Jngn beda2 kan pembangunan diwilyh lampung, yg hanya berpusat dikwsn pdlmn saja, yg ujung2nya kalau sudah maju, ingin membntk propinsi sendiri.. Ingat smua itu ada masanya.. INGAT PESISIR ITU WILAYAH ASAL NENEK MOYANG KALIAN JUGA, TANAHNYA TANAH TUA, APAKALIAN TIDAK TAKUT KUALAT, KALAU TIDAK PERCAYA BUKA DAN BACA TAMBO TUA YG KALIAN SIMPAN DAN KERAMATKAN..
sriwijaya oh sriwijaya
mohon lebih di teliti secara lebih detail lagi utuk referensi sejarahnya jangan lupa di sumatra selatan ada suku pasemah (ogan, lahat , semendo ) yang menggunakan bahasa melayu dengan dialek e jika anda mengupas suku lampung n komring anda tidak bisa meninggalkan suku pasemah dengan keunikan bahasa melayunya sekarang sudah mulai di teliti penemuan2 di daerah pagar alam sebaiknya anda ikut dalam exspedisi itu utk lebih memperdalam wawasan anda tentang sriwijaya dan tidak bertujuan untuk mengangkat nama suatu suku srwijaya milik indonesia khususnya sumatra selatan anda harus tau siapa2 suku di sumtra selatan yg merupakan bagian dari sriwijaya di sumtra selatan ada suatu daerah di ogan ,lahat ,muara enim trmasuk di lampung yg menggunakan dialek e dan punya aksara sendiri ,perluas lagi kupasan dan wawasan anda wahai saudara agung arlan jangan kedepankan ego dan ambisi yg hanya akan menenggelamkan sejarah bangsa!!!!!!!!!!!!!!!!!!
d skitar indralaya ada desa yg konon nenek moyangny merupakan plarian dr krajaan sriwijaya
kok makam ibu putri Sriwijaya ada di kota Pagar Alam ya?
maksudnya ibu Sri Vijaya, dekat makam Atung Bungsu… yang menimbang Sungai di Sumatera dan menamakan pulau Sumatera
Sy dari bengkulu kerajaan sriwijaya sebenarnya terletak d bukit sukumbang… bengkulu selatan di sekitar bukit barisan ..peratasan palembang dan bengkuku…thanks
terima kasih atas pengetahuan sejarahnya, sy sependapat dgn andidiraja, yg mengatakan pusat pemerintahan sriwijaya di seputar stadiun bumi sriwijaya dan kampus,kenapa? krn itu dulu merupakan wilayah aliran sungai yg besar dan dekat dgn suar kerjaan yaitu bukit siguntang, negacu kepada banyak sekali peninggalan bersejarah yg hilang dan akhirnya ditemukan dgn cari di gali, krn sebelum ditinggalkan terlebih dahulu situs tersebut ditimbun biar terjaga kelestariannya, menurut saya pusat kerajaan sriwijaya ada di daerah bukit besar dan bukit kecil krn itu merupakan dataran tinggi,masalahnya skrg krn belum ada ahli yg mencoba mengali wilayah tersebut, ini sangat masuk akal krn dekat dgn sungai, bukit siguntang dan penemuan di sekitar wilayah tersebut, terimakasih salam budaya