Urun Rembug Pasir Besi Kulonprogo
Kali ini aku crosspost tulisan Pak Dosenku di Geologi UGM sehubungan dengan penambangan pasir besi di Kulon Progo.
Urun Rembug Pasir Besi Kulonprogo
OLeh : Sukandarrumidi
PERLU penyadaran bersama, zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Kekayaan pasir besi di Kulonprogo yang terhampar di lahan seluas 3.000 hektar bukanlah barang yang harus ditelantarkan. Bila tanah seluas itu dikelola dengan baik, masyarakat menyadarkan pengusaha dan pemerintah membudidayakan masyarakat, bukan tidak mungkin keinginan untuk menambang pasir besi masih ada peluang. Tergantung bagaimana kita.
Mengolah potensi pasir besi di hamparan lahan seluas 3.000 hektar di pantai Kulonprogo yang dibatasi Sungai Progo di bagian timur dan Sungai Serang di bagian barat, tidak harus berpanas-panasan. Panasnya terik matahari pada saat menambang dan panasnya api pada saat mengubah pasir besi menjadi pelet besi mampu menciptakan pasir besi menjadi barang yang bermanfaat. Namun demikian, hendaknya panasnya hati yang saat ini menyulut arogansi sekelompok masyarakat dengan cara membakar beberapa poskamling yang dibangun masyarakat, sebenarnya tidak perlu terjadi.
Sudah merupakan kebijakan pemerintah bahwa untuk menambang pasir besi dilakukan kajian terlebih dahulu dengan menyusun dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), suatu pekerjaan yang disyaratkan kepada pengusaha untuk dilakukan terlebih dahulu sebelum bongkar-membongkar lahan pasir besi dilakukan. Sosialisasi kegiatan kepada masyarakat perlu dilakukan, dengan penuh kesabaran dan cara pendekatan orang Ngayogyakarta. Keinginan masyarakat petani pantai yang sudah telanjur merasakan manisnya melon dan pedasnya cabe yang berguna untuk membugarkan kesehatan, bukan tidak mungkin untuk sementara dihentikan pada saat lahan yang bukan miliknya ditambang.
Dalam proses pengerukan pasir di pantai, sebenarnya hanya 30 persen yang dapat diambil pasir besinya, sisanya dikembalikan ke tempat semula. Untuk mengembalikan, agar lahan bekas penambangan pasir besi dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian kembali, wajib dilakukan reklamasi dan untuk ini model wong Yogya ada cara tersendiri. Bagaimana caranya?
Sampah kota Yogyakarta yang merupakan dedaunan dan jumlahnya tidak kurang dari 40.000 meter kubik setiap harinya, dapat dimanfaatkan untuk dibuat kompos, semacam pupuk organik penyubur tanah. Sampah organik, tersedia dan tidak akan habis. Alat pembuat kompos dapat direkayasa dan disediakan oleh pengusaha penambang pasir besi.
Pembuatan kompos diserahkan kepada masyarakat. Hasil kompos dimanfaatkan oleh masyarakat petani pantai untuk menyuburkan tanah yang sudah direklamasi. Bukan tidak mungin, harga pupuk urea yang makin tidak terjangkau oleh kantong petani, kompos akan dapat menggantikan pupuk urea.
Uji coba penambangan pasir besi yang telah dilakukan ditengarahi oleh masyarakat menghasilkan debu yang mengganggu ladang masyarakat sekitar, bukanlah merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan. Pemisahan pasir besi dengan sistem kering di tempat “kubah tertutup” merupakan solusi yang ditawarkan. Tahap penambangan dengan sistem blok merupakan solusi yang dapat dilakukan. Hal inilah yang seharusnya ditempuh oleh para pelaksana lapangan, dalam usaha untuk merangkul masyarakat. Bukan dengan cara membakar poskamling yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang ingin membuat situasi semakin keruh. Masyarakat terpancing untuk menuduh pengusaha berada di belakang tindakan yang arogan, itu adalah suatu hal yang wajar, meskipun ulah tersebut mungkin dilakukan oleh sekelompok masyarakat penganggur yang senang membuat onar.
Satu kata kunci, marilah masyarakat kita buat sejahtera, pihak aparat keamanan dan pemerintah wajib sadar, masyarakat hanya ingin dapat makan dan menyekolahkan anak-anak mereka demi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Bukan tidak mungkin, keinginan menambang pasir besi masih dapat dilaksanakan. Jangan, pasir besi diolah untuk (memanasi) masyarakat. Siapa bilang, tidak ada harapan? Masyarakat petani pantai adalah masyarakat lugu, pergunakan pendekatan kepada masyarakat dengan gaya Ngayogyakarta. q - s. (4568-2008).
*) Prof Dr Ir Sukandarrumidi MSc, Dosen Fakultas Teknik, UGM. (note :Jurusan Teknik Geologi)
salam sukses
moga dpat sgera trcapai harapan itu…
(agriemz,T.geologi STTNas)
Maaf, apa ya semudah itu melaksanakan konsep penambangan yang “green”?..tidak ada pak kualitas lingkungan yang akan sama setelah ditambang dengan sebelum ditambang. Pernahkah terpikir bahwa dalam jangka panjang ketahanan pangan negara ini semakin rapuh karena pemerintah tidak pernah ngurusi petani dan pertanian.Tolong diingat populasi penduduk Indonesia semakin bertambah, sementara lahan pertanian semakin berkurang oleh pembangunan dengan motif ekonomi sesaat seperti contohnya penambangan pasir besi tersebut. Ketergantungan impor pangan kita untuk komoditi strategis sudah sangat tinggi pak, apa ya mau impor terus sementara banyak negara yang mulai memberlakukan export ban sebagai antisipasi dari efek pemanasan global yang sudah mulai terasa..
HELLO!
Our waterfront magnetic iron ore mining in Indonesia, in Indonesia’s East Java —BLITAR — beach — DS. BAKUNG, now can supply Iron Concentrates 50,000 tons per month, the supply of fine iron powder fineness is -70 project, and the other we need more iron ore, mining equipment will be invested, hope and mineral resources of companies or individuals to come to our company to discuss cooperation.
If mineral source or be able to supply IRON SAND products, please contact us as soon as possible as soon as possible, we would be grateful.
Best Regards!
Xiamen Minerals Ltd.
LIN ANSHUN Sincerely!
China H / P :0086-13906050009
Indonesia Surabaya concentrator Tel: 0062-81357752190
E-mail: indonesia_mineral@126.com
terserah prof aj mau bilang apa !! kami menolak dengan dasar yang sangat jelas
kalian cuma berbicara teori seakan2 tamabng di pesisir buat kamu sejahtera
semua teori kalian adalah omongan sampah saja…buktinya mana tambang di negeri ini yang menjalankan reklamasi sampai tuntas ?…..saya juga orang tambang ….
khusus di kulonprogo sampai mati kami akan melawan !!
Rakyat kulon progo umumnya dan pantai selatan khususnya hanya akan menikmati sampah, baik sampah beneran maupun sampah sosial dan tidak akan menikmati apa2 kerusakan lingkungan.
Karena hasil sampingan berupa logam titan yg hanya dapat diolah diaustralia hanya dinikmati oleh penambang
Lalu sampah kota jogja yg perhari 40000 meter kubik dari pengalaman sehari2 7o%nya adalah plastik dan tidak terdaur dan akan menjadikan kulon progo sbg tempat sampah.
kula nuwun, setiap orang boleh beraspirasi tapi dengan dasar pemikiran yang jauh kedepan, memang benar lahan pertanian akan berkurang tp hanya bersifat sementara karna yang telah disampaikan Pak Kandar itu hanyalah sebuah solusi, dan bukan solusi satu2ny…klo ada yg lebih baik ya silahkan, karna semua bertujuan baik…klo ada yg bilang itu cuma teori berarti orang yg bilang itulah yang cuma pengen teori dan ga mau mengawasi prakteknya..soal pembuangan sampah juga, karna mikirnya pasti konsumtif, setelah jadi sampah lalu dibuang dan ga berguna..ga berpikir produktif ttg fungsi sampah..lha sekali lagi tiap usaha ada efek negatif dan positifnya..mari kita buat agar efeknya positif semua untuk masyarakat sekarang dan di masa mendatang.
Sudah menjadi sunatullah, “….bumi dan isinya untuk dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya bagi umat manusia”. Suatu saat pasti potensi “pasir besi” tersebut akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Apa selama ini kita tidak butuh besi baja untuk membangun konstruksi??? kalo tidak mau ya bikin rumah gedek aja. Kadang yang nolak-nolak gitu tidak merasa!!!! taunya butuh besi ada, nggak mau tahu darimana itu????. Yang perlu diperhatikan dan diawasi dalam pelaksanaan penambangan dan pascanya harus sesuai dokumen AMDAL-nya.