<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa</title>
	<atom:link href="http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/jan-reerink-1871-dan-tantangan-eksplorasi-jawa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/jan-reerink-1871-dan-tantangan-eksplorasi-jawa/</link>
	<description>Tulisan geologi popular dari IAGI</description>
	<pubDate>Tue,  7 Sep 2010 07:34:08 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Teguh Hudaya</title>
		<link>http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/jan-reerink-1871-dan-tantangan-eksplorasi-jawa/comment-page-1/#comment-6308</link>
		<dc:creator>Teguh Hudaya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 21:29:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.iagi.or.id/?p=109#comment-6308</guid>
		<description>Mohon dan minta tolong untuk mencarikan sejarah perminyakan untuk Kaltim alias Kalimantan Timur.   Terima kasih banyak atas infonya.  Saya punya beberapa tetapi rasanya Sejarah perminyakan itu hanya dimulai sejak tahun 1955 saja,  sebelumnya saya belum bisa menemukannya.  Sekali lagi terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon dan minta tolong untuk mencarikan sejarah perminyakan untuk Kaltim alias Kalimantan Timur.   Terima kasih banyak atas infonya.  Saya punya beberapa tetapi rasanya Sejarah perminyakan itu hanya dimulai sejak tahun 1955 saja,  sebelumnya saya belum bisa menemukannya.  Sekali lagi terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Margono M. Amir</title>
		<link>http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/jan-reerink-1871-dan-tantangan-eksplorasi-jawa/comment-page-1/#comment-5828</link>
		<dc:creator>Margono M. Amir</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 01:03:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.iagi.or.id/?p=109#comment-5828</guid>
		<description>Menurut Poleydalam bukunya "Eroïca: the quest for oil in Indonesia (1850-1898)"
ayah Jan Reerink memiliki grocery store di Haarlem, Belanda, di mana Jan Reerink sempat magang. Jadi bukan saudagar penggilingan beras. Toko di Cirebon adalah toko milik Jan Reerink sendiri.
Pada awalnya Reerink menggunakan bor tumbuk (percussion drilling) yang berhasil memproduksi minyak sampai 160 liter/hari.
Setelah dia menggunakan Canadian type drilling system yang mampu membor sumur yang lebih dalam dia malah gagal, karena tanahnya terlalu lunak.
Semoga info saya ini bermanfaat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut Poleydalam bukunya &#8220;Eroïca: the quest for oil in Indonesia (1850-1898)&#8221;<br />
ayah Jan Reerink memiliki grocery store di Haarlem, Belanda, di mana Jan Reerink sempat magang. Jadi bukan saudagar penggilingan beras. Toko di Cirebon adalah toko milik Jan Reerink sendiri.<br />
Pada awalnya Reerink menggunakan bor tumbuk (percussion drilling) yang berhasil memproduksi minyak sampai 160 liter/hari.<br />
Setelah dia menggunakan Canadian type drilling system yang mampu membor sumur yang lebih dalam dia malah gagal, karena tanahnya terlalu lunak.<br />
Semoga info saya ini bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Budi Prasetyo</title>
		<link>http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/jan-reerink-1871-dan-tantangan-eksplorasi-jawa/comment-page-1/#comment-5141</link>
		<dc:creator>Budi Prasetyo</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 15:39:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.iagi.or.id/?p=109#comment-5141</guid>
		<description>berikut alamat e-mail saya. 

prassmania@yahoo.com


thanks....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>berikut alamat e-mail saya. </p>
<p><a href="mailto:prassmania@yahoo.com">prassmania@yahoo.com</a></p>
<p>thanks&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/jan-reerink-1871-dan-tantangan-eksplorasi-jawa/comment-page-1/#comment-5120</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 15:02:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.iagi.or.id/?p=109#comment-5120</guid>
		<description>Pak Budi y baik, silahkan bapak ketik alamat email Bapak di bagian komen, biar kami sampaikan kepada pak Awang.

Salam
awak blog</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Budi y baik, silahkan bapak ketik alamat email Bapak di bagian komen, biar kami sampaikan kepada pak Awang.</p>
<p>Salam<br />
awak blog</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: budi prasetyo</title>
		<link>http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/jan-reerink-1871-dan-tantangan-eksplorasi-jawa/comment-page-1/#comment-5118</link>
		<dc:creator>budi prasetyo</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 12:30:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.iagi.or.id/?p=109#comment-5118</guid>
		<description>Kepada 
Yth Pengelola Situs IAGI

Saya Budi Prasetyo dari Majalah Energi Indonesia, jika berkenan saya membutuhkan kontak dan alamat e-mail Bapak Awang Harun dari BP Migas tersebut untuk referensi bagi tulisan tentang sejarah wilayah penambangan Migas tertua di Indonesia. Semoga pengelola situs berkenan untuk memberikan informasinya.

terima kasih

Budi Prasetyo</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada<br />
Yth Pengelola Situs IAGI</p>
<p>Saya Budi Prasetyo dari Majalah Energi Indonesia, jika berkenan saya membutuhkan kontak dan alamat e-mail Bapak Awang Harun dari BP Migas tersebut untuk referensi bagi tulisan tentang sejarah wilayah penambangan Migas tertua di Indonesia. Semoga pengelola situs berkenan untuk memberikan informasinya.</p>
<p>terima kasih</p>
<p>Budi Prasetyo</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/jan-reerink-1871-dan-tantangan-eksplorasi-jawa/comment-page-1/#comment-241</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 06:49:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.iagi.or.id/?p=109#comment-241</guid>
		<description>Pak Rovicky,

Sumber tulisan saya, sebagaimana biasanya, banyak dan campur2. Tentang Jan Reerink ini salah satunya saya ambil dari website CCOP bab Indonesia tentang sejarah eksplorasi di Indonesia, dikonfirmasi oleh beberapa buku seperti van Bemmelen (1949) vol. IB dan beberapa buku serta laporan lain.

Sumber seperti yang disebutkan Pak Koesoema (Poley, 2000) saya pikir akan sangat baik; kapan-kapan barangkali saya boleh fotokopi bukunya bila diizinkan.

Akan halnya Telaga Tunggal, tokoh yang terkenal adalah Jan Zijlker (nama Jan adalah nama "pasaran" orang Belanda). Tahun 1880, ia ditugaskan atasannya mengunjungi sebuah perkebunan tembakau di Sumatra Utara. Jan Zijlker adalah manager of the East Sumatra Tobacco Company. Di sana, ia melihat penduduk setempat (Langkat) menggunakan obor dengan suatu zat untuk membuatnya tahan lama menyala. Zijlker mengenal zat itu sebagai minyak tanah.

Selidik punya selidik, ia mengetahui bahwa minyak yang digunakan penduduk berasal dari sebuah rembesan minyak yang keluar dari kebun tembakau. Tak berpikir lama lagi, instink bisnisnya berjalan, ia segera mendapatkan konsesi sebuah wilayah bernama Telaga Said di wilayah Langkat di mana rembesan minyak itu berada. Konsesi itu ia dapatkan dari Sultan Langkat. Dengan eksplorasi sederhana dimulailah pekerjaan berburu minyak. Usahanya ini mendapatkan dukungan Pemerintah Belanda.

September 1884 (perhatikan bukan 1885 - tahun 1885 adalah tahun yang selama ini digunakan sebagai angka tahun mulainya sejarah perminyakan di Indonesia) sebuah sumur pertama di Sumatra bernama Telaga Tunggal-1 di Sumatra Timurlaut sukses menemukan minyak. Sesuai aturan pemerintah saat itu, konsesi Telaga Said beralih ke Royal Dutch (sebuah perusahaan milik Kerajaan Belanda untuk mengeksploitasi minyak di Indonesia) pada September 1890. Tiga bulan kemudian, Zijlker meninggal dunia (Desember 1890), apakah ia meninggal karena kecewa melihat sukses beralih dari tangannya, bisa diselidiki lebih jauh.

Maka jelas, bahwa Maja-1 (Cibodas Tangat-1) lebih dulu dibor (1871) daripada Telaga Tunggal-1 (1884).

Seorang sahabat pena saya, generasi ke-3 dari orang-orang Amerika dan Belanda yang mengembangkan Telaga Said pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, baru-baru ini mengirimkan foto-foto lama tentang suasana Telaga Said saat itu, foto-foto itu warisan dari kakek buyutnya yang dulu bekerja di Telaga Said. Foto2 ini tak pernah dipublikasikan sebelumnya tentu.

Sejarah perminyakan di Indonesia dimulai oleh para independen yang berani seperti Jan Reerink (1871) dan Jan Zijlker (1880). Mungkin kita perlu melihat lagi bahwa sejarah perminyakan Indonesia dimulai bukan dari 1885, tetapi lebih awal lagi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Rovicky,</p>
<p>Sumber tulisan saya, sebagaimana biasanya, banyak dan campur2. Tentang Jan Reerink ini salah satunya saya ambil dari website CCOP bab Indonesia tentang sejarah eksplorasi di Indonesia, dikonfirmasi oleh beberapa buku seperti van Bemmelen (1949) vol. IB dan beberapa buku serta laporan lain.</p>
<p>Sumber seperti yang disebutkan Pak Koesoema (Poley, 2000) saya pikir akan sangat baik; kapan-kapan barangkali saya boleh fotokopi bukunya bila diizinkan.</p>
<p>Akan halnya Telaga Tunggal, tokoh yang terkenal adalah Jan Zijlker (nama Jan adalah nama &#8220;pasaran&#8221; orang Belanda). Tahun 1880, ia ditugaskan atasannya mengunjungi sebuah perkebunan tembakau di Sumatra Utara. Jan Zijlker adalah manager of the East Sumatra Tobacco Company. Di sana, ia melihat penduduk setempat (Langkat) menggunakan obor dengan suatu zat untuk membuatnya tahan lama menyala. Zijlker mengenal zat itu sebagai minyak tanah.</p>
<p>Selidik punya selidik, ia mengetahui bahwa minyak yang digunakan penduduk berasal dari sebuah rembesan minyak yang keluar dari kebun tembakau. Tak berpikir lama lagi, instink bisnisnya berjalan, ia segera mendapatkan konsesi sebuah wilayah bernama Telaga Said di wilayah Langkat di mana rembesan minyak itu berada. Konsesi itu ia dapatkan dari Sultan Langkat. Dengan eksplorasi sederhana dimulailah pekerjaan berburu minyak. Usahanya ini mendapatkan dukungan Pemerintah Belanda.</p>
<p>September 1884 (perhatikan bukan 1885 - tahun 1885 adalah tahun yang selama ini digunakan sebagai angka tahun mulainya sejarah perminyakan di Indonesia) sebuah sumur pertama di Sumatra bernama Telaga Tunggal-1 di Sumatra Timurlaut sukses menemukan minyak. Sesuai aturan pemerintah saat itu, konsesi Telaga Said beralih ke Royal Dutch (sebuah perusahaan milik Kerajaan Belanda untuk mengeksploitasi minyak di Indonesia) pada September 1890. Tiga bulan kemudian, Zijlker meninggal dunia (Desember 1890), apakah ia meninggal karena kecewa melihat sukses beralih dari tangannya, bisa diselidiki lebih jauh.</p>
<p>Maka jelas, bahwa Maja-1 (Cibodas Tangat-1) lebih dulu dibor (1871) daripada Telaga Tunggal-1 (1884).</p>
<p>Seorang sahabat pena saya, generasi ke-3 dari orang-orang Amerika dan Belanda yang mengembangkan Telaga Said pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, baru-baru ini mengirimkan foto-foto lama tentang suasana Telaga Said saat itu, foto-foto itu warisan dari kakek buyutnya yang dulu bekerja di Telaga Said. Foto2 ini tak pernah dipublikasikan sebelumnya tentu.</p>
<p>Sejarah perminyakan di Indonesia dimulai oleh para independen yang berani seperti Jan Reerink (1871) dan Jan Zijlker (1880). Mungkin kita perlu melihat lagi bahwa sejarah perminyakan Indonesia dimulai bukan dari 1885, tetapi lebih awal lagi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
