Skip to content

Krakatoa (Simon Winchester)

2009 March 10

Oleh: Awang Harun Satyana

Cover dicopy dari amazone.com

Cover dicopy dari amazone.com

Membaca “Krakatoa” Winchester (2003) sangat mengasyikkan, pengetahuan kita diperkaya oleh etail geologi dan detail sejarah Banten dan Batavia. Tulisan Winchester tentang geologi selalu detail, eperti dua buku lainnya tentang William Smith (The Map that Changed the World, 2001) dan tentang gempa

San Francisco dan San Andreas Fault (A Crack in the Edge of the World, 2005). Semoga kelak muncul geologist Indonesia yang bisa bercerita seperti Simon Winchester, memperkenalkan geologi kepada masyarakat dalam kemasan cerita.
 
Indonesia adalah dunia perbenturan, semuanya di sini berbentur, termasuk mineralisasinya. Ini telah
diketahui sejak lama, disintesis pertama kali oleh Westerveld (1952) yang menulis “Phases of mountain building and mineral provinces in the East Indies” dan mempresentasikannya dalam suatu  ongres geologi internasional di Inggris pada tahun 1948. Tahun 1974, Katili merevisi publikasi jalur  mineralisasi Westerveld ini menggunakan teori tektonik lempeng, dan mempublikasikannya dalam tulisan “Geological environment of the Indonesian mineral deposits – a plate tectonic approach (Publikasi Teknik Direktorat Geologi-Seri Geologi Ekonomi no. 7).
 
Bisa dibaca pada kedua publikasi penting di atas bahwa terjadi mineralisasi yang menyolok antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat, batas keduanya lebih kurang pada Wallace Line.
 
Westerveld memperkenalkan bahwa ada kaitan erat antara fase pelipatan, gaya tektonik, dan umur mineralisasi. Ia memperkenalkan empat jalur orogen. Orogen Malaya Yura Akhir yang
menghubungkan lipatan2 di Sundaland dan Semenanjung Malaya dan membawa deposit kasiterit, emas dan bauksit. Orogen Sumatra Kapur melalui Sumatra, Jawa Tengah, dan Kalimantan Tenggara membawa besi piro-somatik dan deposit logam dasar emas-perak, laterit besi, dan plaser intan dan emas. Orogen Sunda Miosen Tengah yang melalui busur kepulauan dalam Sumatra dan Jawa, Nusa Tenggara dan Sulawesi bagian barat membawa bijih manggan dan emas-perak epitermal. Orogen Maluku Kapur Akhir-Miosen tengah yang melalui busur kepulauan luar Sumatra-Timor-Banda-Sulawesi bagian timur yang membawa nikel-silikat, bijih besi laterit yang berasosiasi dengan peridotit. 
  
Katili menyimpulkan bahwa mineralisasi Tersier di Sulawesi, Halmahera, dan Irian Jaya lebih penting dibandingkan di Jawa, Sumatra dan Nusa Tenggara. Ini mungkin berhubungan dengan unsur-unsur kerak yang digenerasikan di pusat pemekaran Pasifik yang kelihatannya lebih kaya akan logam dibandingkan yang digenerasikan di Samudra Hndia, ini bisa dibuktikan dengan banyaknya nodul polimetalik di beberapa bagian Pasifik.
  
Deposit nikel lateritik di Sulawesi, Gebe, Gag, dan Pegunungan Cycloops di Irian Jaya berasal dari batuan ultrabasa yang dihasilkan oleh subduksi dan collision yang berasal dari pusat pemekaran di Samudra Pasifik. Saya pernah mengeksplorasi deposit laterit nikel Cycloops, Jayapura ini, pemandangannya begitu menakjubkan – sebuah plato yang ke utara terbuka ke laut lepas Pasifik.  
  
Lingkungan geologi nikel lateritik di wilayah ini menunjuk kepada fakta bahwa lingkungannya berupa busur kepulauan samudra yang terbuka yang dicirikan oleh lapisan tipis sedimen pelagis yang terdeformasi kuat dan melibatkan bagian mantel. Area ini juga berhubungan dengan zone benturan Sulawesi dan Maluku, wilayah dengan kerak oseanik dan mantel tersesarsungkupkan di atas busur kepulauan. 
  
Kejadian tembaga porfiri di Sulawesi tengah dan utara dan Irian Jaya menunjukkan bahwa busur kepulauan volkano-plutonik asal Pasifik juga kaya akan mineralisasi tembaga. Langkanya deposit tembaga di Sumatra dan Jawa mungkin disebabkan beberapa faktor antara lain : tutupan volkanik Resen, penetrasi magma berbagai umur pada jalur-jalur orogen yang tumpang tindih, dan mungkin sedikitnya kandungan mineral logam pada kerak samudra Hindia yang menunjam di bawah kerak benua Asia yang tebal dan tua.
  
Maka, perbedaan komposisi mantel di bawah pusat pemekaran Samudra Hindia dan Samudra Pasifik bertanggung jawab bagi perbedaan mineralisasi di Indonesia Barat dan Indonesia Timur. Lingkungan geologi sistem palung-busur yang berbeda, perubahan temporal lokasi dan arah kemiringan zone Benioff juga bertanggung jawab bagi komplikasi dan keragaman geologi dan mineralisasi di dalam sistem palung-busur yang sama.
  
 Karena Indonesia Barat datang dari Asia dengan mineralisasi yang dipengaruhi kerak samudera Hindia dan benua Asia, dan Indonesia Timur datang dari Australia dengan mineralisasi yang dipengaruhi kerak samudera Pasifik, maka mineralisasi kedua wilayah ini berbeda, dan garis batas keduanya lebih kurang di jalur tempat Wallace menarik garis atas namanya.

Review ini diposting oleh Awang HS di iagi-net pada tanggal 6 April 2008

One Response leave one →
  1. meylani permalink
    May 7, 2010

    kak…
    dlm nikel ada dua pembagian,, nikel laterit and nikel sulfida…
    klw nikel laterit kan dr proses pelapukan,,,
    yg mo aku tanyain,, ada gak hubungan antara proses mineralisasi dgn pembentukan kedua jenis nikel tersebut…
    mohon jawabannya y kak’… ???
    komen ke emailq ya kak…
    makasih sebelumnya….

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS