Skip to content

Kerajaan Demak dan Geologi Selat Muria

2009 July 23

Oleh Pak Awang

Sebuah  buku baru, “Ensiklopedi Kelirumologi” (Jaya Suprana, 2009 – Elex Media Komputindo-Kompas Gramedia), memuat sebuah entri berjudul “Demak” di halaman 98. Di dalam entri itu diceritakan bahwa tentang lokasi bekas Keraton Kerajaan Demak belumlah ada kesepakatan di antara para ahli. Sekelompok ahli mengatakan bahwa letak lokasi keraton tersebut paling mungkin ada di kawasan selatan alun-alun kota Demak sekarang dan menghadap ke utara. Di kawasan selatan Demak ini terdapat suatu tempat bernama Sitinggil/Siti Hinggil–sebuah nama yang biasanya berasosiasi dengan keraton. Namun kelompok ahli yang lain menentang pendapat tersebut sebab pada abad XV, yaitu saat Kerajaan Demak ada, kawasan Demak masih berupa rawa-rawa liar. Sangat tidak mungkin kalau Raden Patah mendirikan kerajaannya di situ. Yang lebih mungkin, menurut kelompok ini, pusat Kerajaan Demak ada di wilayah sekitar Semarang yaitu Alastuwo, Kecamatan Genuk. Pendapat ini didukung oleh temuan benda-benda arkeologi. Menurut Jaya Suprana, salah satu dari kedua pendapat itu mungkin keliru, tetapi bisa juga dua-duanya keliru (!). Demikian ulasan tentang Demak dalam kelirumologi ala Jaya Suprana.

Kedua pendapat di atas menarik diuji secara geologi sebab keduanya mau tak mau melibatkan sebuah proses geologi bernama sedimentasi. Mari kita lihat sedikit proses sedimentasi di wilayah yang terkenal ini. Terkenal ? Ya, wilayah ini dalam hal sedimentasi Kuarter terkenal. Ada pendapat bahwa dahulu kala Gunung Muria di sebelah utara Demak tidak menyatu dengan tanah Jawa, ia merupakan sebuah pulau volkanik yang kemudian akhirnya menyatu dengan daratan Jawa oleh proses sedimentasi antara Demak-Muria. Mari kita periksa pendapat ini berdasarkan literatur-literatur lama sejarah.

Runtuhnya Hindu-Jawa (cover dicopy dari somewhere)

Runtuhnya Hindu-Jawa (cover dicopy dari somewhere)

Sedikit hal tentang Kerajaan Demak, perlu dituliskan lagi untuk sekedar menyegarkan pikiran. Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa dan ada sesudah era Kerajaan Majapahit. Sebagian raja Demak adalah turunan raja-raja Majapahit, termasuk Raden Patah –sang pendiri Kerajaan Demak. Riwayat penaklukan Majapahit oleh Demak ada kisah tersendiri yang secara sangat detail diceritakan dalam buku Slamet Muljana (1968, 2005) “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” – Bhratara – LKiS. Pada tahun 1515, Kerajaan Demak sudah berwilayah dari Demak sampai Cirebon. Pada tahun 1546, Kerajaan Demak sudah semakin luas wilayahnya termasuk Jambi, Palembang, Bangka, Banten, Sunda Kalapa, dan Panarukan di Jawa Timur. Tahun 1588 Demak lenyap dan penerusnya berganti ke Pajang yang merupakan pendahulu kerajaan/kesultanan di Yogyakarta dan Surakarta sekarang. Runtuhnya Kerajaan Demak tak berbeda dengan penaklukannya atas Majapahit. Peristiwa gugurnya tokoh2 penting Demak saat menyerang Blambangan yang eks Majapahit, dan rongrongan dari dalam Demak sendiri membuat kerajaan makin lemah dan akhirnya runtuh dengan sendirinya. Sebuah pelajaran dari sejarah –cerai-berai dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan.

Kembali ke pencarian pusat Kerajaan Demak, buku Mohammad Ali (1963), “Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara” –Bhratara, menarik untuk diacu. Dalam menguraikan terjadinya Kerajaan Demak, Moh. Ali menulis bahwa pada suatu peristiwa Raden Patah diperintahkan oleh gurunya, Sunan Ampel dari Surabaya, agar merantau ke barat dan bermukim di sebuah tempat yang terlindung oleh tanaman gelagah wangi. Tanaman gelagah yang rimbun tentu hanya subur di daerah rawa-rawa. Dalam perantauannya itu, Raden Patah sampailah ke daerah rawa di tepi selatan Pulau Muryo (Muria), yaitu suatu kawasan rawa-rawa besar yang menutup laut atau lebih tepat sebuah selat yang memisahkan Pulau Muryo dengan daratan Jawa Tengah. Di situlah ditemukan gelagah wangi dan rawa; kemudian tempat tersebut dinamai Raden Patah sebagai “Demak”.

Menurut Slamet Muljana (1983), “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit” – Inti Idayu, hutan di Gelagah Wangi itu dibuka dan dijadikan tempat hunian baru rnama “Bintara”. Dari nama wilayah baru itulah Raden Patah terkenal sebagai Pangeran Bintara. Slamet Muljana (1968, 2005) juga menulis bahwa Raden Patah (nama Tionghoanya Jin Bun – Raden Patah adalah anak raja Majapahit Prabu Brawijaya dan salah seorang istrinya yang disebut Putri Cina) memilih tinggal di daerah kosong dan berawa di sebelah timur Semarang, di kaki Gunung Muria. Daerah itu sangat subur dan strategis untuk menguasai pelayaran di pantai utara. Jin Bun berkedudukan di Demak. Di Demak, Jin Bun menjadi ulama sesuai pesan gurunya, Sunan Ampel. Ia mengumpulkan para pengikutnya baik dari masyarakat Jawa maupun Cina. Saat sebelum memberontak kepada Majapahit, Jin Bun atau Raden Patah adalah bupati yang ditempatkan di Demak atau Bintara.

Bahwa Demak dulu berlokasi di tepi laut, tetapi sekarang jaraknya dari laut sampai 30 km, dapat diinterpretasikan dari peta genangan air yang diterbitkan Pemda Semarang (Daldjoeni, 1992, “Geografi Kesejarahan II” –Alumni). Peta genangan banjir dari Semarang sampai Juwana ini dengan jelas menggambarkan sisa-sisa rawa di sekitar Demak sebab sampai sekarang wilayah ini selalu menjadi area genangan bila terjadi banjir besar dari sungai-sungai di sekitarnya. Dari peta itu dapat kita perkirakan bahwa lokasi Pulau Muryo ada di sebelah utara Jawa Tengah pada abad ke-15 sampai 16. Demak sebagai kota terletak di tepi sungai Tuntang yang airnya berasal dari Rawa Pening di dekat Ambarawa.

Di sebelah baratlaut kawasan ini nampak bukit Prawoto, sebuah tonjolan darat semacam semenanjung yang batuannya terdiri atas napal di Pegunungan Kendeng bagian tengah. Dalam sejarah Demak terdapat tokoh bernama Sunan Prawoto (Prawata) yaitu anak Pangeran Trenggono. Nama sebenarnya adalah Mukmin, tetapi kemudian ia dijuluki Sunan Prawoto karena setiap musim penghujan, demi menghindari genangan di sekitar Demak, ia mengungsi ke pesanggrahan yang dibangun di bukit Prawoto. Sisa-sisa pesanggrahan tersebut masih menunjukkan pernah adanya gapura dan sitinggil (siti hinggil) serta kolam pemandian (De Graaf, 1954, “De Regering van Panembahan Senapati Ingalaga” – Martinus Nijhoff).

De Graaf dan Th. Pigeaud (1974), “De Eerste Moslimse Voorstendommen op Java” –Martinus Nijhoff) punya keterangan yang baik tentang lokasi Demak. Letak Demak cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian. Selat yang memisahkan Jawa Tengah dan Pulau Muryo pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, sehingga dari Semarang melalui Demak perahu dapat berlayar sampai Rembang. Baru pada abad ke-17 selat tadi tidak dapat dilayari sepanjang tahun.

Dalam abad ke-17 khususnya pada musim penghujan perahu-perahu kecil dapat berlayar dari Jepara menuju Pati yang terletak di tepi sungai Juwana. Pada tahun 1657, Tumenggung Pati mengumumkan bahwa ia bermaksud memerintahkan menggali terusan yang menghubungkan Demak dengan Pati sehingga dengan demikian Juwana dapat dijadikan pusat perniagaan.

Pada abad ke-16 Demak diduga menjadi pusat penyimpanan beras hasil pertanian dari daerah-daerah sepanjang Selat Muryo. Adapun Juwana pada sekitar tahun 1500 pernah pula berfungsi seperti Demak. Sehubungan itu, menurut laporan seorang pengelana asing terkenal di Indonesia saat itu –Tom Pires, pada tahun 1513 Juwana dihancurkan oleh seorang panglima perang Majapahit dan Demak menjadi satu-satunya yang berperan untuk fungsi itu. Perhubungan Demak dengan daerah pedalaman Jawa Tengah adalah melalui Kali Serang yang muaranya terletak di antara Demak dan Jepara. Sampai hampir akhir abad ke-18 Kali Serang dapat dilayari dengan kapal-kapal sampai pedalaman. Mata air Kali Serang terletak di Gunung Merbabu dan di Pegunungan Kendeng Tengah. Di sebelah selatan pegunungan tersebut terdapat bentangalam Pengging (di antara Boyolali dan Pajang/Kartasura).

Ketika dalam abad ke-17 sedimen di Selat Muryo sudah semakin banyak dan akhirnya mendangkalkannya sehingga tak dapat lagi dilayari, pelabuhan Demak mati dan peranan pelabuhan diambil alih oleh Jepara yang letaknya di sisi barat Pulau Muryo. Pelabuhannya cukup baik dan aman dari gelombang besar karena terlindung oleh tiga pulau yang terletak di depan pelabuhan. Kapal-kapal dagang yang berlayar dari Maluku ke Malaka atau sebaliknya selalu berlabuh di Jepara.

Demikian ulasan singkat berdasarkan literatur2 lama sejarah tentang lokasi Kerajaan Demak yang lebih mungkin memang berada di selatan kota Demak sekarang, di wilayah yang dulunya rawa-rawa dan menhadap sebuah selat (Selat Muryo) dan Pulau Muryo (Muria). Justru dengan berlokasi di wilayah seperti itu, Demak pada zamannya sempat menguasai alur pelayaran di Jawa sebelum sedimentasi mengubur keberadaan Selat Muria.

Jalan raya pantura yang menghubungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana sekarang sesungguhnya tepat berada di atas Selat Muria yang dulu ramai dilayari kapal-kapal dagang yang melintas di antara Juwana dan Demak pada abad ke-15 dan ke-16. Bila Kali Serang, Kali Tuntang, dan Kali Juwana meluap, ke jalan-jalan inilah genangannya –tak mengherankan sebab dulunya juga memang ke selat inilah air mengalir.

Bila kapan-kapan kita menggunakan mobil melintasi jalan raya pantura antara Demak-Pati-Juwana-Rembang, ingatlah bahwa sekitar 500 tahun yang lalu jalan raya itu adalah sebuah selat yang ramai oleh kapal-kapal niaga Kerajaan Demak dan tetangganya.

Kembali ke kelirumologi lokasi Kerajaan Demak, yang mungkin keliru adalah pendapat bahwa pusat Kerajaan Demak berada di Semarang.

Salam,

Awang

20 Responses leave one →
  1. Yanto R Sumantri permalink
    October 26, 2009

    Awang

    Berapa kecepatan sedimentasi yang dapat menjadikan suatu selat yang tadinya merupakan kanal dimana kapal pedagang dapat melewatinya menjadi daratan dalam kurun waktu geologi begitu cepat ?
    Bagaimana kalau dihubungkan dengan menurunnya muka laut di kota semarang ?
    Bukankah katanya daerah Candi (kira kira loksi hotel patrajasa sekarang dulunya pantai ?
    Apakah ad pengaruh geologi yang menyebabkan hal ini ?

    • Mahmud Slamet Pujo permalink
      August 25, 2010

      Bukan daerah Candi yang dulu pantai, tapi Bergota.

  2. Amru Sulistyono permalink
    December 28, 2009

    Wah…Luar Biasa
    Terima Kasih Bp. Awang atas ulasannya.
    Sebagai ‘Wong nDemak’, saya sangat menghargai ulasan panjenengan ini.
    Tulisan Panjenengan ini menjadi satu referensi saya, yg nantinya akan saya ‘getoktularkan’ ke temen2….Suwuuun

  3. nasspur permalink
    January 29, 2010

    pak, bisa minta peta demak abad 16? atau peta jawa tengah abad 16? kirim ke nasspur_77@yahoo.co.id

  4. Moh Aslim Akmal permalink
    March 8, 2010

    saya butuh peta kepulauan muria seperti yang anda ceritakan di atas, apa anda bisa membantu, tks banyak

  5. March 13, 2010

    @ Moh Aslim Akmal

    untuk peta demak bintoro ada kok dibeberapa situs. Setau saya yg asli ada di Jepang tapi dah di scan n dimuat di web. di blog saya ada tp dah dikompres jd hslnya krg bgs. Yg bgs ada kok tgl cari di google.

    http://javasun3.wordpress.com

  6. ema thea permalink
    August 13, 2010

    pa boleh minta peta kerajaan demak,kirim aja ke alamat email,,,,,,,,,,,,,,,
    d tnggu s’cepatnya………….

  7. ema thea permalink
    August 13, 2010

    pa boleh minta peta kerajaan demak,kirim aja ke alamat email,,,,,,,,,,,,,,,
    d tnggu s’cepatnya………….

    echamot39zyahoo.co.id

  8. September 7, 2010

    eh buset ribet banget bisa di sedehanakan ngk….
    tpi thank’ya!!!!!!!!!!

  9. Radityo permalink
    December 15, 2010

    Saat Kerajaan Demak berdiri, bagaimana dengan Semarang? Sepertinya Semarang sudah menjadi kota pelabuhan yang maju.

    Berikut timelinenya:

    Abad 8-15 M
    Di daerah pesisir utara Jawa Tengah yg bernama Bergota/Plagota/Pergota ada sebuah pulau kecil bernama PULAU TIRANG ( Sekarang menjadi bagian dari bukit Bergota). Merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Pelabuhan Pergota merupakan pelabuhan yang ramai pda saat itu, lokasinya diperkirakan pada daerah Pasar Bulu sekarang memanjang sampai kaki bukit Bergota dan masuk ke Kali Semarang sampai Pelabuhan Simongan. Pada abad tersebut daerah tersebut masih merupakan daerah pantai dengan kepulauan yang kecil2. Sekarang pulau kecil2 tersebut sedah menyatu dengan daratan akibat pengendapan. Bahkan Kota Semarang Bawah yang dikenal saat ini dahulunya adalah laut, terbentuk daratan akibat dari pengendapan tersebut.

    Abad 15 M
    Awal abad ke 15 M Laksamana Cheng Ho mendarat di Pelabuhan Simongan (Kali Semarang sekarang) Mendirikan masjid dan klenteng. Sekarang menjadi Klenteng Gedong Batu.

    Akhir abad ke 15 M seorang dari kesultanan Demak bernama pangeran Made Pandan bersama putranya Raden Pandan Arang pergi ke pesisir utara bagian barat untuk mencari daerah baru . Sampai di Pulau Tirang beliau membuka hutan dan mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.

    1475

    Suatu hari di tahun 1475, tak kurang dari 1.000 tentara Kerajaan Demak di bawah pimpinan Jin Bun menyerang Semarang yang kala itu dikuasai oleh pemerintahan non-muslim dan orang-orang Tionghoa yang tidak lagi memeluk agama Islam (murtad)

    , Jin Bun bergerak menuju Klenteng Sam Po Kong.

    Kepada pasukannya yang tengah dimabuk kemenangan, Jin Bun bertitah. “Jangan hancurkan tempat ini.�

    Setahun sebelum penyerangan itu, Jin Bun sempat singgah di klenteng Sam Po Kong. Di sana dia berdoa, agar suatu hari kelak dia mampu membangun sebuah masjid yang selamanya akan tetap menjadi masjid.

    Sam Po Kong sebelumnya adalah sebuah masjid. Ia dibangun oleh orang-orang Tionghoa muslim dari daratan Tiongkok yang dikenal dengan sebutan Hanafi. Adalah kemerosotan nilai keislaman di kalangan Hanafi yang membuat masjid itu berubah menjadi klenteng.

    Kemerosotan ini berkaitan dengan melemahnya kekuasaan Dinasti Ming di Daratan Tiongkok. Sejak armada Dinasti Ming tak lagi menyinggahi Semarang, hubungan antara orang-orang Tionghoa muslim dengan sanak saudara mereka di Daratan Tiongkok pun terhenti. Lalu, satu persatu masjid di Semarang dan Lasem yang dibangun di era Laksamana Cheng Ho berubah menjadi klenteng, lengkap dengan patung-patung yang diletakkan di mimbar masjid.

    Selain tak menghancurkan Sam Po Kong, Jin Bun pun meminta agar pasukannya tak menyembelih orang-orang Tionghoa yang telah murtad. Dia juga tak memaksa agar mereka kembali memeluk agama Islam. Kebaikan hati Jin Bun disambut orang-orang Tionghoa bukan-Islam itu dengan janji kesetiaan akan menjadi warga negara yang baik dan tunduk pada hukum kerajaan Demak yang Islam.

    Nun jauh di sana, Raja Kung Ta Bu Mi yang tak lain adalah ayahanda Jin Bun, gembira mendengar Semarang telah takluk. Sebagai hadiah, Jin Bun diangkat sebagai Bupati Bing Tolo dan diundang ke Majapahit.

    Sikap Jin Bun tegas. Walau Raja Kung Ta Bu Mi adalah ayahandanya dan secara hierarki dia berada di bawah kekuasaan Majapahit, namun sebagai muslim yang taat Jin Bun tak mau memberi sembah.

    Pada 1478, Bong Swi Hoo yang menetap di Ngampel sejak 1450 meninggal dunia. Jin Bun segera menggelar pasukan dan bergerak menuju Ngampel. Dalam perjalanan, Jin Bun membelokkan pasukan ke Majapahit dan menaklukan Kung Ta Bu Mi serta menawannya di Demak. Kini giliran Majapahit berada di bawah kekuasaan Demak.

    Untuk memperkuat kekuasaannya di Semarang, Jin Bun mengangkat saudara tirinya, Kin San, sebagai bupati. Sementara Gan Si Cang yang telah murtad diangkat menjadi kapten Tionghoa-bukan Islam di Semarang.

    Gan Si Cang ini salah salah seorang anak dari almarhum Haji Gan Eng Cu, seorang saudagar Tionghoa yang pada tahun 1430 menjadi bupati di Tu Ma Pan, yang berada di bawah kekuasaan Majapahit.

    Kin San dan Si Cang membangun kembali industri kapal dan penggergajian kayu jati di Semarang, yang tiga generasi sebelumnya didirikan Laksamana Haji Sam Po Bo. Di saat bersamaan, Demak memulai proyek pembangunan masjid yang bertahan hingga hari ini. Dan pada 1481, Jin Bun mengizinkan orang-orang Tionghoa bukan-Islam di Semarang ikut membangun Masjid Raya Demak.

    2 Mei 1547

    Setelah konsultasi dengan Sunan Kalijaga, Sultan Hadiwijaya dari Pajang mengangkat Pandan Arang sebagai Bupati pertama Semarang, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW , tgl 12 Rabiul Awal 954 H atau 2 Mei 1547. Bergelar Kyai Pandan arang.Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.

  10. Radityo permalink
    December 15, 2010

    Artinya jauh sebelum Kerajaan Demak berdiri, kota Semarang sudah maju, menjadi wilayah Majapahit. Baru ditaklukkan oleh pasukan Demak pada 1475

  11. tsania permalink
    August 15, 2011

    pak tolong sebutkan wilayah kerajaan demak

  12. happy k permalink
    September 1, 2011

    Betul letak kerajaan demak yg ke 2 setelah yg 1(jepara)kena wabah pindah sbelah timur semarang/perbatasan smg-demak adalah sekitar alas tuwo atau tlogo timun saya temukan artefak dan benda2 lain yg berhubungan dng kerajaan demak spt lingga yoni,mata /singgasana ratu(tnghnya ada permata) dsb matur nuwun

  13. ogi permalink
    October 29, 2011

    nice info///jadi tahu aslinya dulu kudus itu adalah lautan.. tapi ko ada yang mengganjal di dalam pikiran saya….kok kalau lautan di
    mesjid kudus ko sudah berdiri padahal dari pemaparan tersebut lo kudus itu dulunya lautan….

  14. wonk demak permalink
    January 7, 2013

    pak,tolong minta data sebelum hilangnya keraton demak dong…

  15. wonk demak permalink
    January 7, 2013

    tolong kirim lewat e-mail ya pak

  16. September 16, 2013

    Ђм(•͡˘˛˘ •͡)Mmm​()˚°◦º pantes Θĩ daerahku daratan,tapi konon ada perahu Ɣªπg karam Ɣªπg cungkupna kapalna ªja̲̅ mpe sekarang masih kapalna besar sekali ,namana mbh senare!”Konon karena Αϑά adu domba\perselingkuhan antara istri sunan muria dan sunan prawoto dgn mbh senare sendiri.

  17. September 16, 2013

    Terimakasih atas ulasana,skrg ªķΰ Ɨɑ̣̣̝̇̇ϋ bekas cungkup kapal Ĩ†ΰ asal muasalana!!”

  18. September 16, 2013

    Teman2 kita Ҩɑ̤̈ª a͡ќ bakalan ngerti ªρ̩̩̩̩hªª dan Θĩ м̣̇λп̥ά̲̣ ‎​ letak kerajaan demak,karena demak ϑ̥υ̲̣ℓυ̲̣ adl selat!”Dan bekas jajahan demak jg luas,mga ªja̲̅ Αϑά ke ajaiban Θĩ th 2020 demak bukan hanya Θĩ kenal Θĩ jateng ataupun pulau jawa bahkan indonesia!”Mungkin dunia, karena kerajaan demaka akan muncul =))‎​Шǎ̜̣̍к̣̣̥ǎ̜̣̍к̲̣̣̥ǎ̜̣̍‎​Шǎ̜̣̍к̣̣̥ǎ̜̣̍к̲̣̣̥ǎ̜̣̍‎​=)) ..

  19. tsabita shada permalink
    January 26, 2014

    ada yg punya peta pulau jawa sebelum pulau muria bergabung yg jelas…

    suwun,,,trimakasih

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS