Riset itu penting, tapi….
Pentingnya penelitian

Artikel dari Pak Nanang Manaf
Kegiatan eksplorasi migas merupakan industri yang berbasis pada data, knowledge, dan experiences. Akurasi dan ketersediaan data yang dikelola dengan baik, kemampuan melakukan interpretasi data dengan latar belakang pengetahuan dan konsep yang matang, serta pengalaman dalam melakukan study dengan cakupan yang luas, akan menjadi modal yang kuat untuk mencapai keberhasilan di dalam kegiatan usaha pencarian cadangan migas baru.
Tentu saja ketiga unsur tersebut perlu didukung oleh kebijakan perusahaan yang mendorong terhadap kegiatan penelitian tersebut, melalui alokasi dana dan sumberdaya manusia yang memadai.
Selanjutnya kita mengharapkan kerja keras, fokus, serta didukung team work yang baik dari tim peneliti tersebut, sehingga dapat menghasilkan karya-karya penelitian yang langsung dapat bermanfaat bagi peningkatan akurasi metoda, konsep dan teknologi didalam melakukan kegiatan eksplorasi migas ini.
Perkembangan riset migas di Amerika
Menurut John C Lorenz, President of American Association of Petroleum Geologist (AAPG) periode 2009-2010 dalam kolomnya yang bertajuk Geoscience : Now than ever, Explorer edisi bulan Desember 2009 menyatakan bahwa tidak lama setelah berakhirnya perang dunia ke II orang-orang baru menyadari bahwa cadangan minyak dunia telah menurun sangat drastis.
Sebagai respons dari kondisi tersebut, berbagai perusahaan minyak independen telah membentuk lembaga-lembaga penelitian geologi yang berjumlah sekitar 22 laboratorium dan merekrut para peneliti, yang umumnya bergelar doktor dan master, serta didukung dengan dana yang cukup untuk melakukan berbagai topik penelitian.
Masih menurut Lorenz, yang menyitir catatan dari James Parks, salah seorang yang direkrut oleh Shell pada awal tahun 1950-an, bahwa hasil-hasil riset pada waktu itu telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan, ditandai dengan banyaknya penemuan metoda dan konsep-konsep baru dalam eksplorasi migas serta para peneliti juga didorong untuk selalu mempublikasikan hasil penelitiannya ke masyarakat luas.
Ketika terjadi embargo minyak oleh dunia Arab terhadap Amerika di tahun 1973-1974 dimana saat itu laboratorium-laboratorium penelitian di bidang eksplorasi migas milik perusahaan-perusahaan besar mulai meredup kiprahnya, maka saat itu pemerintah Amerika berinisiatif untuk mensponsori program-program penelitian, terutama menginisiasi penelitian sumber energi fosil non konvensional. Program-program tersebut dikelola oleh lembaga-lembaga pemerintah, seperti Gas Research Institute dan U.S. Department of Energy.
Contoh-contoh penelitian yang dilakukan pada tahun-tahun ini seperti Low Permeability Sandstone Reservoirs, In Situ Coal Gasification, Oil Shale dan lain-lain. Pada saat ini seluruh peneliti didorong untuk memplubikasikan hasil-hasil penelitiannya. Hasil-hasil penelitian ini sampai sekarang masih banyak yang digunakan dalam kegiatan eksplorasi migas oleh perusahaan-perusahaan minyak, seperti eksploitasi tight gas reservoir, yang merupakan hasil penelitian oleh Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian Nasional, dan institusi penelitian lainnya, yang disponsori pemerintah.
Namun demikian kondisi saat ini sangat berbeda dengan sebelumnya, dimana laboratorium-laboratorium penelitian milik perusahaan minyak kebanyakan sudah banyak meninggalkan kegiatan penelitiannya dan tidak seagresif lagi seperti jaman dulu. Perusahaan-perusahaan minyak saat ini memang masih gencar membiayai kegiatan penelitian, tetapi terbatas pada aplikasi yang spesifik dan tidak memprioritaskan untuk mempublikasikannya. Bahkan terjadinya banyak peristiwa merger antara perusahaan besar, telah ikut andil dalam memperkecil kegiatan penelitian dan juga sekaligus mengurangi tenaga penelitinya. Tak heran banyak para peneliti akhirnya memilih pindah jalur menjadi pengajar di berbagai perguruan tinggi.
Ide melakukan riset bersama
Ide melakukan riset bersama dan terintegrasi oleh badan-badan penelitian pemerintah yang pernah di gagas oleh pengurus IAGI ketika dikomandani Cak Andah Bachtiar ini sangat baik, terutama ditujukan untuk peningkatan kinerja masing-masing badan penelitian tersebut dalam bentuk hasil-hasil yang dapat segera diaplikasikan dan meningkatkan produktivitas didalam pengelolaan sumberdaya alam.
Hanya saja hingga saat ini mulai hilang lagi dari pembicaraan, apakah program ini masih berjalan atau jalan ditempat. Memang idak mudah untuk menjaga spirit dalam melakukan langkah-langkah ideal, apalagi hal seperti ini, khususnya di negeri tercinta ini, bukan komoditas yang laku dijual atau untuk menjadi sekedar wacana publik. Sudah pasti akan tenggelam dengan riuh rendahnya suasana politik atau intrik-intrik lainnya.
Lebih sedih lagi mendengar sahabat saya Achmad Yani Arief dan kawan-kawannya yang telah mengembangkan metoda baru didalam melakukan advance seismic processing dengan menggunakan brand WAVIV yang merupakan pengembangan dari penemuan spektakuler dari anak negeri yang bernama Yogi A Erlangga belum mendapat sambutan dan apresiasi yang semestinya dari industry yang ada di dalam negeri ataupun dari para pengambil keputusan. Terlihat masih terlalu banyak hambatan dalam memasarkan ide yang sangat original ini. Padahal semesti hal-hal seperti inilah yang harusnya kita dorong bersama-sama untuk lebih menggiatkan dan memacu kita dalam melakukan penelitian.
Tampaknya banyak sekali orang pintar di negeri ini, namun sayang sekali tidak banyak yang bisa menjadi integrator, yang mempunyai kemampuan untuk mengintegrasikan seluruh modal dan kemampuan yang kita punyai dengan visi yang jauh ke masa depan.
Wallohu’alam