Seperti apa Gajah itu ?

2010 February 19
by RDP (admin)

By Nanang Manaf

elephant1Mungkin kita pernah dengar cerita beberapa orang buta yang mencoba mendeskripsikan bentuk seekor gajah yang didasari persepsinya setelah meraba salah satu bagian dari tubuh gajah.

Orang buta pertama menyebut gajah menyerupai sebuah kipas, karena memang persepsinya didasari oleh pengalaman meraba bagian kuping dari gajah. Orang buta lainnya mempunyai pendapat yang berbeda, setelah melalui pengalamannya, meraba bagian yang berbeda. Sehingga muncul kesimpulan bahwa gajah itu binatang seperti ular ditafsirkan oleh orang buta yang meraba belalai gajah, gajah seperti tiang ditafsirkan oleh orang buta yang meraba bagian kaki gajah dan penafsiran lainnya.

source http://www.treehugger.com/happy-elephant-01.jpg

Perumpamaan seperti di atas sangat tepat sebagai analogi ketika kita mendiskusikan analisa resiko pada bisnis E & P (Exploration and Production) atau saat ini digunakan istilah bisnis hulu. Cerita di atas memberikan ilustrasi kepada kita bagaimana perspektif yang sangat terbatas membawa kita pada kesimpulan yang berbeda-beda, bahkan -mungkin- bisa menyesatkan.

Team Work

Peter R Rose, seorang Managing Director konsultan dalam bidang E & P investment, merupakan orang yang sangat gencar menyampaikan ide-ide mengenai team work building. Di dalam suatu team work yang baik dibutuhkan keahlian personal, yang diturunkan melalui hasil penelitian individunya, atau melalui sharing data secara periodik dan pengembangan perspektifnya, yang akan membantu pada pembentukan konsesus suatu kelompok kerja berkaitan dengan evaluasi suatu proyek, strategi dan eksekusi bisnis. Two heads are better than one; four better than two.

Saat ini penggunaan workstation sangat meluas di dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan bisnis hulu, yang menawarkan produktivitas yang sangat tinggi dengan resolusi yang lebih baik. Namun demikian, berbagai keuntungan yang kita dapatkan dengan revolusi teknologi computer ini, harus dibayar dengan beberapa kerugian yang cukup signifikan, seperti :
• Kehilangan waktu yang panjang seorang professional untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya, karena bekerja secara individual di depan workstation, untuk menyelesaikan proyeknya.

• Proyek yang dihasilkan umumnya bersifat deterministic expression (kesimpulan yang kaku), bukan suatu yang lebih bersifat probabilistic ranges. Atau lebih sebagai jawaban pasti daripada beberapa pilihan alternatif.

Ada dua hal yang sangat esensial di dalam multi-disciplinary team yang kita harapkan, yaitu :
1. Obyektivitas professional
2. Team work yang mempunyai integritas yang tinggi

Profesionalisme

Tanggung jawab professional terhadap stakeholders untuk tidak dibiaskan dan geotechnical analysis sebagai practicing professional merupakan objective daripada geoscientist. Namun, kadang-kadang, atau malah kebanyakan, para geoscientist yang pertama bekerja di dalam bisnis hulu berfikir bahwa mereka hanya sebagai scientist atau pekerja biasa ketimbang sebagai seorang professional. Sehingga banyak sekali kawan-kawan junior yang baru bekerja beberapa tahun di perusahaan migas hulu enggan untuk bergabung dalam organisasi-organisasi professional untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan barunya.

Pernah ada satu pertanyaan dari seorang yang sangat senior di bidang bisnis hulu migas kepada seorang profesor akhli struktur geologi : Seberapa jauh respons dari mahasiswa anda dalam diskusi yang membedah masalah profesionalisme dalam ilmu kebumian (earth science) ? Nampaknya sang professor menjawabnya dengan cuek : Mereka umumnya akan merasa gelap berdiskusi mengenai tema itu. Wong kita juga nggak pernah mendiskusikannya dalam kuliah sehari-hari. Au ah gelap…….. !

Inilah bukti bahwa antara dunia perguruan tinggi dengan industri sering kali tidak nyambung, atau istilahnya tidak ada link and match diantara keduanya. Sehingga yang terjadi adalah lulusan perguruan tinggi, pada saat mulai memasuki dunia pekerjaan di dalam bisnis hulu migas, mereka akan belajar kembali pada kelompok-kelompok kerja atau multi-disciplinary teams dimana mereka bergabung. Dan tuntutan dari team adalah mereka harus bekerja dengan integritas yang baik.

Keterbukaan

Ada dua hal yang menjadi kunci keberhasilan dalam membangun team work yang baik, yaitu : mendengarkan secara aktif dan melakukan interaksi secara respek. Dengan demikian anggota team yang merasa kurang percaya diripun diberi kesempatan untuk melontarkan ide-idenya dan diskusi menjadi sangat terbuka. Iklim keterbukaan seperti inilah yang kelak akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang kaya akan pilihan alternatif, biasanya dilengkapi dengan berbagai konsekwensinya. Para decision makers, biasanya, amat menyukai input-input seperti ini, sehingga dalam memutuskan sesuatu sudah dapat memperkirakan hasil seperti apa yang diharapkan.

Ada satu cerita tentang mengenai proses pengambilan keputusan melalui diskusi di dalam team work untuk mengusulkan suatu play (konsep eksplorasi) yang nantinya akan diusulkan untuk mengambil suatu blok eksplorasi baru yang berada di daerah remote, di blok luar negeri.

Bicara play (konsep eksplorasi), sebenarnya kita tidak jauh-jauh berkaitan dengan topik petroleum system, yaitu : masalah batuan reservoir, batuan induk, perangkap hidrokarbon, migrasi dan batuan tudung. Kelima faktor petroleum system tersebut merupakan syarat mutlak terjadinya pemerangkapan hidrokarbon pada suatu prospek.

Kembali lagi pada cerita diskusi teknis diatas, salah seorang anggota team (ahli geokimia) menyampaikan rasa pesimisnya tentang prospektifitas kandidat blok yang akan diambil tersebut dengan argumentasi bahwa chance factor dari keberadaan batuan induknya hanya berkisar antara 0.2 - 0.4 atau 20 - 40 % saja, padahal batuan induk merupakan faktor penting dari suatu prospek, karena berbicara apakah didaerah tersebut hidrokarbon sudah digenerasikan atau belum. Dengan kata lain apakan hidrokarbon sudah terbentuk atau belum dari batuan induk yang ada di daerah tersebut. Dengan demikian anggota team tersebut mengusulkan untuk membatalkan niat dari perusahaan tersebut mengambil blok barunya.

Kemudian ada anggota team lainnya, yang lebih senior, berdasarkan pengalamannya bekerja, ia secara optimistik menyampaikan argumentasi bahwa chance factor yang pantas diberikan untuk kandidat blok tersebut adalah 0.8 (80 %).

Untungnya, pimpinan dari team work tersebut adalah seorang yang sangat cerdas dan bijaksana. Maka ia bertanya pada si senior geologist tersebut : Kenapa anda begitu optimisnya memberikan angka chance factor untuk batuan induk tersebut ? Kemudian si senior geologist menjawab bahwa beberapa tahun silam ia bekerja pada perusahaan pengeboran air. Pada saat melakukan bor air yang cukup dalam di area tersebut ia mendapatkan pengalaman yang berharga. Ketika pengeboran menembus batuan serpih hitam (black shale) kita selalu mendapatkan tekanan gas yang sangat kuat (hard gas kick). Tetapi ia tidak pernah menceritakan kejadian ini kepada siapapun. Karena kalau informasi ini sampai ke tim manajemen perusahaan maka ada kemungkinan proyek ini akan dihentikan dan ia akan kehilangan pekerjaannya……

Beruntung, pimpinan team work ini selalu membudayakan diskusi yang terbuka dan trasparans dengan interaksi yang sangat baik diantara anggota team, sehingga muncul pendapat-pendapat yang sangat penting dan dapat dijadikan kunci untuk melakukan pengambilan keputusan. Kembali pada cerita di atas, kemudian team tersebut melakukan evaluasi lagi dan merevisi proposalnya untuk mengajukan kandidat blok tersebut diambil dan dijadikan wilayah kerja baru. Beberapa tahun kemudian, perusahaan tersebut mendapatkan cadangan gas yang sangat besar dari hasil temuan eksplorasi di wilayah kerja barunya tersebut.

Hal ini mengingatkan saya pada penemuan lapangan S (sengaja saya tulis initialnya saja), Sumatera Selatan, beberapa tahun lalu. Blok yang baru diakuisisi oleh Pertamina itu, merupakan eks wilayah kerja KPS lain. Berdasarkan evaluasinya, maka blok itu dikembalikan pada pemerintah (relinquisment), dikarenakan - menurut evaluasinya mereka- area ini tidak menarik untuk dilanjutkan sebagai lahan eksplorasi yang potensial.

Kemudian Pertamina mengakuisisinya dan melakukan evaluasi kembali blok tersebut. Beberapa tahun kemudian Eksplorasi Pertamina mengusulkan pemboran sumur eksplorasi dan selanjutnya dilakukan pengeboran dengan nama sumur S-1. Di penghujung tahun 1998 itu, prospek S menjadi salah satu kontributor dalam keberhasilan kegiatan eksplorasi Pertamina. Dan sampai hari ini, sudah lebih dari 10 tahun, S merupakan lapangan produksi minyak di Sumatera Selatan yang punya kontribusi cukup signifikan. Seperti kata Peter R Rose bahwa : There is a profit basis for good professional manners.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS