Sasmita Blow-out dari Sumur Minyak
Artikel Sugeng Hartono, dimuat di Kontan No. 32, Tahun II, 11 Mei 1998
Sasmita Blow-out dari Sumur Minyak
Diasuh Wimar Witoelar, perintis acara Talk Show dan Perspektif di televisi Indonesia, konsultan dari PT InterMatrix untuk manajemen, corporate development, dan public affair.
Pertanyaan:
Setiap kejadian alam tentunya akan didahului dengan tanda-tanda atau sasmita. Kalau kita cukup peka membaca sasmita alam, sebagai manusia yang berakal budi, kita diharapkan bisa menghadapi kejadian alam dengan baik. Misalnya, sebelum gunung Merapi meletus pasti ditengarai gempa bumi yang berkepanjangan, atau suhu sekitar gunung meningkat, sehingga memungkinkan penduduk dan ternaknya mengungsi.
Setelah terjadi letusan, penduduk akan kembali ke desanya untuk memperbaiki rumah, sawah dan ladang, dan kehidupan akan berjalan normal seperti biasa. Pengalaman sekian lama di pengeboran minyak adalah contoh yang bagus. Perlu diketahui bahwa pengeboram minyak adalah pekerjaan yang mahal dan penuh dengan mara bahaya, sehingga disiplin kerja yang sangat tinggi selalu ditegakkan. Kalau ada kecerobohanndan sampai terjadi semburan liar (blowout), misalnya, ini adalah malapetaka. Selain kerugian materi (hilangnya sumur dan terbakarnya menara bor misalnya) juga bisa meminta korban jiwa.
Orang minyak bekerja 24 jam sehari, tanpa mengenal siang dan malam atau hujan. Di sana pekerjaan dipimpin seorang “penguasa tunggal” yang bertanggung jawab penuh atas kelancaran dan keselamatan pekerjaan. Beliau adalah wakil perusahaan yang mempunyai sumur, sehingga beliau populer disebut “Companyman” atau drilling supervisor yang biasanya berpengalaman puluhan tahun di berbagai belahan bumi.
Semua pekerja yang terdiri dari berbagai bagian merupakan pembantu-pembantu beliau. Mereka harus bekerja profesional, dan membuat laporan dua kali sehari, biasanya jam 05:00 dan 15:00. Laporan ABS (asal bapak senang) jelas tidak berlaku di sini. Kalau ada sesuatu yang tidak beres, misalnya tehnisi mudlogging melihat ada tanda-tanda kenaikan gas, atau hilangnya lumpur pengeboran, dia harus segera melapor. Kalau perlu beliau akan menghentikan pengeboran untuk melihat sebabmusabab hilangnya lumpur. Walaupun tengah malam, mungkin disertai hujan lebat, beliau akan naik ke lantai bor (rig-floor), mengenakan jas hujan, topi keselamatan dan lampu senter, terkadang dengan membawa secangkir kopi pahit. Beliau akan mengawasi lubang sumur dengan teliti dan saksama, untuk memastikan apakah permukaan lumpur di dalam lubang sumur turun (hilang ke dalam formasi). Kalau benar, ini perlu dipompakan LCM (lost circulation material) ke dalam lumpur di dalam tanki.
Kalau tidak, berarti aman. Lalu dicari jawaban yang lain, mungkin ada tangki atau pipa yang bocor. Mungkin dapat terjadi sbb. Teknisi lumpur (mud engineer) membuang sebagian lumpur atau mentransfer lumpur ke tangki lain tanpa memberi tahu juru bor (driller) atau teknisi mudlogging (mudloggers) sehingga pada chart lumpur menunjukkan adanya kehilangan lumpur sehingga alarm berbunyi. Tentu saja mudlogger akan segera melaporkan bahwa sedang terjadi hilangnya lumpur bor (padahal sebenarnya tidak).
Hilangnya lumpur akan mengejutkan para pekerja, dan tentu saja mud engineer yang kilaf ini akan dimarahi orang banyak. Kalau kesalahannya cukup serius, mungkin sekali dia akan dipulangkan untuk diganti dengan orang lain. Dia tidak boleh kembali bekerja di lokasi ini. Titik. Tidak ada KKN (koncoisme, kolusi, dan nepotisme). Sebaliknya teknisi yang bagus dan profesional tidak akan diperbolehkan dipindah ke lokasi lain.
Jadi di dalam pemboran semua akan diamati secara saksama setiap saat, dan atau setiap feet pemboran. Begitu ada sasmita (misalnya kenaikan gas secara gradual dll) tindakan preventif segera dilakukan guna menghindari malapetaka yang lebih fatal.
Nah, sekarang kembali ke ke kejadian alam yang bernama Krisis Moneter (krismon). Katakannlah krisis ini sedang menimpa negara Anunesia, secara berkepanjangan sampai-2 rakyat kecil dibuat sangat susah. Misalnya sembako sulit didapat, harga-2 membubung tinggi, banyak PHK, demonstrasi marak dimana-mana (mereka anak-2 muda yang cerdas, terpelajar, dan idealis , tak pernah takut atau kapok dengan petugas keamanan).
Pertanyaan saya, apakah para pembantu kepala negara Anunesia tak ada yang melihat sasmita atau tanda-tanda yang mengisyaratkan bahwa ekonomi negara sudah lampu kuning? Mungkinkah para pembantu ini takut melaporkan keadaan yang sebenarnya kepada beliau? Bukankah di negara Anuneisa mempunyai banyak pakar ekonomi, baik yang duduk di birokrat, di kampus-2, atau lembaga-2 yang berkaliber internasional, dan pendapatnya juga didengar dunia. Apakah mereka ini tidak pernah mengisyaratkan (secara halus, atau dengan sedikit keras misalnya) bahwa ekonomi kita sudah dalam bahaya dan perlu diadakan tindakan pencegahan. Ibarat pengeboran minyak, tidak perlu menunggu terjadinya blow out yang menyengsarakan rakyat banyak.
Trimakasih atas jawabannya.
Hartono, Jakarta Selatan
Komentar:
Karena krismon (krisis moneter) sudah menjadi kristal (krisis total), maka semua soal sekarang sudah menjadi pembahasan politik. Sebab, krisis total hanya dapat diselesaikan oleh reformasi total, berawal dari reformasi politik. Pertanyaan Anda jelas menunjukkan, betapa rapuhnya manajemen negara kita. Komunitas yang harusnya menggerakkan proses pengambilan keputusan sangat macet dan bersifat satu arah.
Terus terang, saya sama bingungnya dengan Anda. Mengapa tidak ada pembantu presiden Anunesia yang mau memberikan laporan yang sesungguhnya? Apakah tidak ada kesempatan? Apakah takut menyampaikan kabar buruk? Atau ingin cari muka dengan malaporkan yang bagus-bagus saja? Ataukah yang menerima laporan kurang ingin mendengar? Mengapa begitu jauh penyimpangan antara realitas dan respon penguasa Anunesia? Anunesia tidak kekurangan pakar dengan konsep penanggulangan masalah. Namun, keputusan yang tepat, seperti masakan yang enak.
Yang penting bukan bahannya, tapi rasanya, Bung!
Seperti akhli masak meramu rasa, pembuat kebijaksanaan harus akhli meramu pendapat. Sayangnya:
- Penguasa mendahulukan kepentingan jangka pendek dan kepentingan kelompok. Misalnya, kita banyak kehilangan waktu mempertimbangkan CBS, suatu akal untuk memperoleh dolar murah dan jangka pendek. Penyelesaian dengan perjanjian yang telah disepakati dengan IMF lebih menjamin kepentingan masyarakat jangka panjang, tapi kepentingan vested interest tidak peduli terhadap kepentingan jangka panjang, apalagi kepentingan orang lain. Resep “kepentingan masyarakat ” memang tiap hari didengungkan sebagai slogan. Kenyataannya? Penyimpangan besar seperti IPTN, BPPC, dan Mobnas baru berhenti secara terpaksa, karena IMF tidak mau menurunkan dana bantuan kalau proyek semacam itu diteruskan.
- Penguasa tidak cepat menguasai realitas. Berbulan-bulan sejak ekonomi Thailand jatuh, bahkan sampai ekonomi kita memburuk tajam di peralihan tahun 1998, adalah sikap pemerintah yang tidak mau mengakui adanya persoalan berat. Semua dianggap gejolak moneter yang diakibatkan spekulasi valas.
Kenyataan tidak dihiraukan, sampai Pak Harmoko berani bilang bahwa krisis ekonomi tidak terasa oleh rakyat di daerah. Dalam psikologi, ini namanya: denial (tidak mau mengakui kenyataan) dan kemudian selective cognition (tidak mau menghiraukan kabar yang tidak menyenangkan). Pertanggungjawaban Presiden 1993-1998 tidak berisi pengakuan krisis ekonomi terbesar selama Orde Baru.
Baru setelah terpilih kembali, Presiden mengakui beratnya krisis ini, lalu menunjuk kabinet baru yang terdiri dari orang yang dipercaya beliau, tapi sayangnya tidak semuanya dipercaya rakyat. Sistem politik bukan dibuka untuk menerima dukungan partisipasi umum, malah ditutup dan mundur-maju tidak menentu. Kelihatannya semua makin tidak menentu. - Baik penguasa maupun ABRI (yang sebetulnya bagian dari rakyat) dan sebagian masyarakat dihinggapi penyakit takut pada yang tidak dikenal (fear of the unknown). Jadi, lebih cenderung mempertahankan status quo, padahal sudah jelas status quo adalah keadaan yang tiap hari merosot terus. Perusahaan bangkrut, uang langka, dollar tidak turun, dan bahan pokok mengkhawatirkan. Untuk melakukan perbaikan diperlukan keberanian mencoba sesuatu yang baru.
Ini yang belum ada. - Motivasi politik kekuasaan bukan lagi ideologi masyarakat, tapi keserakahan materi yang dikejar dan tak pernah cukup. Sebetulnya, dalam sejarah banyak contoh yang menunjukkan bahwa kekuasaan yang absolut cenderung jatuh sendiri oleh hal itu. Tapi sejarah juga menunjukkan bahwa orang biasanya tidak belajar dari sejarah.