Skip to content

Menghentikan Semburan Lumpur Lapindo

2010 June 19

prof-rudi

Rudi Rubiandini (sumber: metrotvnews.com)

Kebocoran dari pipa minyak bawah laut milik British Petroleum (BP) telah memasuki minggu ketujuh. Meskipun sulit, ahli-ahli di BP berjuang menutup kebocoran sumur bawah laut di Teluk Meksiko itu. Tak ingin reputasinya merosot, BP mengerahkan aneka upaya dan berbagai macam teknologi. Mereka optimistis kebocoran bisa dihentikan agar pesisir pantai Amerika Serikat tidak tercemar berat oleh tumpahan minyak.

Semburan ini menjadi sorotan dunia, terutama terkait keselamatan migas. Maklum, dengan semburan 3.000-5.000 barrel minyak per hari, insiden ini merupakan pencemaran terburuk dalam sejarah AS, melampaui bencana tumpahan minyak dari kapal tanker Exxon Valdez pada 1989 yang menebarkan minyak di laut lebih dari 245.000 barrel. Pemerintah AS memperkirakan, 18 juta sampai 40 juta galon minyak mentah telah mencemari Teluk Meksiko.

Akibat kejadian ini, Pemerintah Barack Obama mendapatkan tekanan berat dari oposisi, pencinta lingkungan, dan warga AS. Pemerintah Obama menekan BP agar terus berupaya menghentikan kebocoran. Obama tidak mau tahu, bahkan dengan tegas mengatakan penanganan kebocoran dan penanggulangan kerusakan lingkungan sepenuhnya menjadi tanggung jawab BP. Obama juga menebarkan optimisme: ”Kami tidak akan menyerah sampai kebocoran bisa dihentikan, hingga air dan pantai-pantai dibersihkan, hingga orang-orang yang jadi korban bencana buatan manusia mendapatkan hidupnya kembali.”

Kondisi kontras terjadi di Indonesia. Sejak empat tahun lalu, persisnya per 29 Mei 2006, kita dihadapkan kepada semburan lumpur panas yang terus terjadi di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Sekitar 600 hektare kawasan terkena dampak semburan lumpur panas tersebut. Ribuan keluarga terpaksa dipindahkan dari lokasi bencana, termasuk pabrik. Infrastruktur publik, seperti jalan dan rel kereta api, rusak. Tak terhitung kerugian sosial dan ekonomi yang diderita oleh rakyat Jawa Timur akibat petaka lumpur panas itu.

Jika BP berjuang keras menghentikan kebocoran, sebaliknya semburan lumpur panas di Sidoarjo cenderung dibiarkan. Kita menyerah dan menganggap sebagai fenomena alam, seperti putusan Mahkamah Agung bahwa lumpur Lapindo adalah bencana alam. Bahkan, muncul ide dari Presiden Yudhoyono untuk menjadikan pusat semburan lumpur sebagai kawasan wisata. Bencana lumpur dianggap sebagai sesuatu yang layak jadi tontonan.

Untuk mematikan semburan membutuhkan tekad dan kesungguhan dari pelaksana. Karena itu, kasus semacam ini sering melahirkan “pahlawan” sejati, seperti yang dilakukan Wang Jin Xi tahun 1960 saat menanggulangi semburan di lapangan Daqing, China utara. Karena spirit dan inisiatifnya yang sangat kuat itu Jin Xi diberi gelar “Iron Man”. Berkat “pahlawan-pahlawan” itu pula kecelakaan serupa di Selat Timor, Utara Australia, September 2009, berhasil dihentikan. Hampir semua negara di dunia yang memiliki lapangan migas, puluhan kali terjadi kasus serupa, baik di Indonesia, di AS, Afrika, Eropa, maupun Asia. Semua semburan tersebut berhasil dijinakkan.

Semburan migas yang tidak terkontrol dikenal dengan istilah “blow out”. Di Indonesia, ini pernah terjadi di kawasan laut, seperti di pantai Kalimatan Timur, pesisir Sumatra, dan pesisir Jawa. Semburan migas di Indonesia dan Selat Timor terjadi pada kedalaman laut hanya beberapa puluh meter air laut. Sebaliknya, semburan di Teluk Meksiko berada pada kedalaman sekitar 1500 meter. Jadi, penangannya lebih sulit dan lebih mahal.

Karena air laut yang harus ditembus begitu dalam, maka teknologi selubung menggunakan “Riser”, yaitu pipa yang menghubungkan dasar laut dengan permukaan yang memisahkan tercampurnya lumpur pemboran dari air laut. BOP (blow out preventer) atau alat pencegah semburan ditempatkan di dasar laut yang pengontrolannya dilakukan dari permukaan. Semburan dalam kasus di Teluk Meksiko ini sampai membuat Riser terputus dan lepas, sementara BOP tidak sempat mampu menahan tekanan yang datang dari bawah, sehingga semburan terjadi mulai dari dasar laut.

Untuk menutupnya dimulai dengan langkah “pendek”, yaitu melokalisasi semburan dengan cara menurunkan Kubah yang besar dan berat, dan di puncaknya dihubungkan dengan pipa sebagai penyalur minyak sampai ke permukaan. Ini memungkinkan minyak dapat dialirkan ke tanker dan tidak tersebar ke segala arah dan mencemari laut. Analogi serupa dilakukan untuk menghentikan semburan lumpur di Sidoarjo, yaitu semburan diarahkan ke Sungai Porong dengan tanggul untuk sementara waktu.

Untuk mematikan semburan secara permanen dilakukan tahap berikutnya dengan teknologi “Dynamic Killing”. Teknologi ini membutuhkan beberapa sumur miring yang dikenal dengan “Relief Well” untuk saluran menginjeksikan lumpur berat ke sumur sumber semburan. Lumpur berat tersebut akan memiliki tekanan hidrostatis yang cukup besar, sehingga mampu menahan tekanan yang datang dari bawah yang mendorong fluida ke permukaan. Di Teluk Meksiko, kegiatan lokalisasi semburan sudah berhasil dilakukan. Kini memasuki tahap mematikan semburan dengan teknologi dynamic killing.

Dengan metoda serupa, semburan di Selat Timor bisa dimatikan dalam waktu lebih dari empat bulan. Di Subang, Jawa Barat dan Randu-Blatung, Jawa Timur, memakan waktu sekitar lima bulan. Waktu tiga hingga enam bulan jadi pegangan para pelaksana dalam menanggulangi semburan pada kegiatan pengeboran migas. Di Teluk Meksiko, dua relief well sudah berjalan sejak 4 dan 26 Mei 2010. Di Sidoarjo telah disiapkan dua relief well. Sayangnya, kegiatan baru berjalan sekitar 20 persen harus terhenti karena biaya terbatas.

Lokalisasi semburan lumpur di Sidoarjo tidak perlu dengan kubah besar karena terjadi di darat. Lokalisasi cukup dengan mengalirkan ke Sungai Porong. Di Teluk Meksiko, lokalisasi juga dibantu dengan menebar bahan kimia “surfactant” yang memungkinkan minyak bersatu dengan air laut dan membuat minyak jatuh ke dasar laut tidak menyebar di permukaan. Di Sidoarjo tidak memerlukan surfactant karena semburan tidak mengeluarkan minyak secara signifikan, hanya air-panas-asin yang mengandung tanah liar serta gas hidrokarbon sedikit yang tentunya akan menguap sendiri ke permukaan.

Untuk mematikan semburan lumpur di Sidoarjo bisa dilakukan dengan metoda dynamic killing menggunakan relief well. Teknologi dynamic killing dengan bantuan relief well menjadi pilihan standar dalam setiap usaha mematikan semburan pada kegiatan migas, terutama yang memiliki semburan sangat kuat. Teknologi ini sudah dikuasai ahli-ahli migas anak negeri. Jadi, tidak perlu harus mengimpor ahli dan teknologi dari luar negeri.

Sebagai contoh, tahun 1984 di Subang, Jawa Barat, pada 1997 di lepas pantai Kalimantan, dan tahun 2001 di Randu-Blatung, Jawa Timur, semuanya ditangani oleh tenaga ahli dari Indonesia. Begitu pula setelah semburan lumpur di Sidoarjo, pada Desember 2008 semburan lumpur di Gresik, Jawa Timur, April 2009, dan semburan lumpur dan gas di Merbau, Sumatera Selatan, juga dapat dimatikan oleh tenaga ahli dari Indonesia Sendiri.

Untuk semburan yang ringan, dynamic killing bisa dilakukan pada sumur yang sedang menyembur dengan menggunakan bantuan pipa yang dimasukan ke dalam lubang yang sedang menyembur. Kemudian semburan dialirkan ke dalam pipa tersebut setelah di bagian bawah ada alat penyekat, disebut “Packer”, diaktifkan. Metoda ini dipakai pada kasus ratusan sumur di Irak, dekat perbatan Kuwait, yang diledakan saat perang Irak-Kuwait sepuluh tahun lalu.

Metoda ini, diberi nama Top Kill, pernah dicoba di Teluk Meksiko. Namun, metoda ini tidak berhasil karena aliran semburan cukup kuat. Metoda ini juga pernah diaplikasikan di Sumur Banjarpanji, Jawa Timur, dikenal dengan metoda “Snubbing Unit” dan “Side Tracking”. Namun, metoda ini tidak berhasil karena kualitas sumurnya sudah permanen tersemen dan pipa selubung casing-nya sudah penyok dan rusak.

Kecepatan dalam mengambil keputusan, seperti dilakukan “Iron Man” di China dan Obama di AS, untuk mematikan semburan adalah sebuah kebutuhan. Kegiatan tersebut didukung sepenuhnya oleh segenap kemampuan peralatan dan teknologi yang dimiliki manusia saat ini. Sejarah mencatat, dengan langkah all out, tidak ada satupun kejadian semburan blow out yang tidak bisa dimatikan. Ironisnya, semburan lumpur di Sidoarjo empat tahun dibiarkan merana tanpa disentuh teknologi apapun.

Jika semburan lumpur di Sidoarjo tidak dihentikan, diperkirakan radius retakan yang diikuti semburan gas dan air tawar akan sampai sejauh tiga kilometer dari pusat semburan. Perkiraan itu muncul karena pusat semburan air di kedalaman tiga kilometer dari permukaan tanah. Oleh karena itu, sebaiknya warga yang berada di sekitar tiga kilometer atau kurang dari pusat semburan segera dievakuasi atau menjauhkan diri. Karena, cepat atau lambat, area tersebut akan turun atau ambles (subsidance) dan tanahnya retak. Hasilnya, di retakan-retakan tersebut akan timbul semburan gas baru.

Sampai saat ini jumlah semburan baru mencapai 182 buah. Semburan baru itu terjadi karena retakan di permukaan tanah yang mengakibatkan air bercampur gas metan keluar. Jika semburan terus terjadi, tanah di bawah menjadi berlubang dan membuat area sekitarnya tertarik turun. Akibatnya, retakan akan semakin banyak terjadi. Begitu pula semburan yang muncul akan kian banyak. Bentuk turunnya tanah akan seperti corong atau seperti gelas es krim. Jadi, di tengah amblesnya akan paling dalam.

Saat ini amblesan tanah permukaan di dekat semburan sudah mencapai lebih dari 14 meter. Jika dibiarkan, amblesan tersebut akan semakin dalam. Area yang terdampak amblesan saat ini mencapai 1000 meter lebih. Karena itu, area tiga kilometer dari pusat semburan sebaiknya tidak dibangun infrastruktur baru karena wilayah tersebut daerah yang berbahaya.

Menurut analisa sejumlah pihak, semburan lumpur di Sidoarjo bisa sepuluh tahun, atau bahkan 100 tahun lamanya. Ini tidak penting, yang paling penting justru jangan pasif menunggu berhenti, tapi harus dihentikan. Sebab, yang menyembur di lokasi lumpur Lapindo saat ini adalah air asin panas dari bawah tanah. Air itu tidak akan cepat habis dan tak ada yang tahu kapan habisnya.

Biaya yang dibutuhkan untuk menutup semburan lumpur di Sidoarjo diperkirakan hanya sekitar 100 juta dollar Amerika. Biaya ini tergolong murah dibandingkan dengan biaya menghentikan semburan di Teluk Meksiko yang makan miliaran dolar AS, 500 juta dollar di antaranya untuk penelitian lingkungan. Biaya 100 juta dolar AS ini juga termasuk kecil dibandingkan dengan pendapatan tahunan dari usaha migas di Indonesia yang sekitar 25 miliar dolar AS, dan belanja industri migas mencapai 10 miliar dolar AS. Diperlukan keseriusan dan keberanian, seperti halnya Wang Jin Xi dan Obama, dari para pemimpin negeri ini untuk memutuskan penutupan semburan lumpur Sidoarjo.

Rudi Rubiandini R.S.

Pakar Migas dari ITB

Sumber: http://metrotvnews.com/index.php/metromain/analisdetail/2010/05/31/17/Menghentikan-Semburan-Lumpur-Lapindo

14 Responses leave one →
  1. November 30, -0001

    mari kita berdoa bersama untuk saudara kita yang ada di sidoarjo khususnya yang sedang terkena dampak dari lumpur panas lapindo…..

  2. June 27, 2010

    Saya salut bahwa semburan lumpur lapindo dapat disumbat, dan sangat aneh kalau negeri ini yang sedang kena bencana yang sudah menelan korban nyawa dan harta masyarakat mau dijadikan tontonan atau wisata,sungguh sangat menjatuhkan harga diri bangsa Indonesia. jelas bahwa tanggapan dari negara luar pemerintahnya bermasa bodoh tidak memperdulikan rakyatnya yang sedang menderita. Padahal mungkin biaya untuk pekerjaan tersebut tidak menghabiskan biaya yang terlalu banyak jika dengan perhitungan yang matang. saya sebagai masyarakat biasa turut prihatin atas kejadian tersebut bahkan saya membuat metode untuk penyumbatan semburan lumpur tersebut,bila metode saya dibutuhkan tidak ada salahnya memberikan pendapat dan yang penting masuk
    diakal dan perlu juga diadakan penelitian apakah metode yang saya buat bisa mengatasi semburan lumpur atau tidak, nanti para ahli yang bisa menentukan saya hanya menyumbang saran dan mudah-mudahan dapat diterima. dan segera bisa mengatasi bencana tersebut. terima kasih. Sutrisno Hp. 085242258407

  3. June 27, 2010

    Saya salut bahwa semburan lumpur lapindo dapat disumbat, dan sangat aneh kalau negeri ini yang sedang kena bencana yang sudah menelan korban nyawa dan harta masyarakat mau dijadikan tontonan atau wisata,sungguh sangat menjatuhkan martabat bangsa Indonesia.”Apa kata dunia” jelas bahwa tanggapan dari negara luar pemerintahnya bermasa bodoh tidak memperdulikan rakyatnya yang sedang menderita,kasihan seandainya saya seorang milioner saya bersiap membantu dana tetapi maklum dimakan untuk tiap hari sudah sangat bersyukur.bayangkan sudah menjelang 4 tahun bencana belum bisa teratasi Padahal mungkin biaya untuk pekerjaan tersebut tidak menghabiskan biaya yang terlalu banyak jika dengan perhitungan yang matang. saya sebagai masyarakat biasa turut prihatin atas kejadian tersebut bahkan saya membuat metode untuk penyumbatan semburan lumpur tersebut,bila metode saya dibutuhkan tidak ada salahnya memberikan pendapat dan yang penting masuk
    diakal dan perlu juga diadakan penelitian apakah metode yang saya buat bisa mengatasi semburan lumpur atau tidak, nanti para ahli yang bisa menentukan saya hanya menyumbang saran dan mudah-mudahan dapat diterima. dan segera bisa mengatasi bencana tersebut. terima kasih. Sutrisno Hp. 085242258407

  4. Ali Azhar Akbar permalink
    August 31, 2010

    Persoalan lapindo yang utama adalah kemauan Politik, niat pemerintah untuk menutup semburan baru setelah 102 hari dari kejadian, itupun kendali ada di Lapindo, terutama kendali keuangan sementara keputusan tidak ditangan pelaku, ada di birokrasi yang telah dihegemoni Lapindo…….

  5. Dona permalink
    October 17, 2010

    Saya mau langsung tanya kepada bapak. ayah saya memiki saran dan rencana untuk menghentikan semburan lumpur lapindo. mohon kepada bapak agar kiranya dapat membantu ayah saya untuk bisa langsung menghentikan semburan lumpur lapindo untuk bertemu langsung dengan pihak-pihak yang terkait.
    terima kasih..

  6. January 11, 2011

    dngn cara apakah menghentikan umpur lapindo ……

    cz udh bbrapa kali cara untuk mmberhntikan semburan lumpur lapindo,tapi tetap gagal,….:(

    • Abdurahman permalink
      January 16, 2011

      Dgn usaha dan doa, tdk ada sesuatu yg tdk mungkin. Ini adalah pemikiran sederhana. Mari kita pelajari tentang lumpur. Kita sama tau, yg trdapat dlm lumpur adalah 3bahan dasar yaitu TANAH, PASIR DAN AIR. Lalu bagaimana klo TANAH, PASIR DAN AIR itu kita saring atau kita FILTER? jwbn kita sama, BISA. Kmudian utk smburan lumpur lapindo FILTER sperti apa? Itulah yg harus kita kmbangkan. Jika FILTER bisa dikmbangkn, dgn FILTER kita juga bisa terus belajar mengimbangi tekanan kuat dari volume smburan tsb. Kita bisa persentasikan, misalkn 200rb kubik perhari dan yg kita filter 1% saja, maka kita punya mnimal 50 kubik tanah dan pasir yg kan brpungsi mengecilkan ronga dlm sumur smburan dlm sehari. Dari persentasi tsb, dgn filter smburan secara prlahan akan tertutup dgn sendirinya. amiin… Itulah tugas kita utk meminimalisir bencana amblasnya tanah di Sidoarjo. Utk teknik dasar ada di ABDURAHMAN hp. 081318255778

  7. February 6, 2011

    kami punya solusinya di http://4lapindo.blogspot.com/ . silahkan kunjungi kami disana…disana kami paparkan do action untuk pemecahan masalah lumpur lapindo

  8. anang permalink
    June 21, 2011

    siapa yang bertanggung jawab atas penghentian lumpur lapindo,,?
    kami warga gresik siap menghentikan lumpur lapindo,,,
    mohon info’nya.
    thx

  9. abdurahman permalink
    August 7, 2011

    biarlah penyebab semua itu mndapat balasan ALLAH. Dan mngenai smburan lumpur sekarang sudah mnjadi tanggung jawab ita bersama. itu karena bpls dan pemerintah kita sudah tdk dapat i percaya. berbuatlah semampunya sobat, dan jangan mngharap pamrih. insya allah, allah yg akan mmberi imbalan pada kita dg jalan NYA.

  10. December 2, 2011

    Amaze! Thank you! I constantly wished to produce in my internet site a thing like that. Can I take element of the publish to my blog?

  11. January 18, 2012

    Tremendous review! Would like had this analyzing. I’m hoping to find out a lot more of you. I know you may have beneficial details combined with prospect. I’m just seriously contented from this information and facts.

  12. March 30, 2013

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
    Bismillahirrahmanirrahim…

    Assalamu’alaikum Bapak Abu Rizal Bakrie Yang Terhormat… InsyaAllah ada jalan tuk penyelesaian masalah Lapindo…( Lapindo tidak dapat diberhentikan dengan kecanggihan teknologi, yang hanya kan menambah beban perusahaan Bapak semakin membengkak dan Rakyat disana semakin menderita karenanya ).. Tentu Bapak Yang Terhormat sangat ingin masalah Lapindo cepat terselesaikan… Mohon dengan segala kerendahan hati kepada Bapak tuk menindaklanjutinya…

    Segala puji hanya kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya hingga saat ini.
    Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya dan umatnya yang setia hingga akhir zaman. Teriring doa semoga senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT… Amin allahuma yarobbal alamin.

    Dalam sejarah terbentuknya Pulau Jawa, telah ada dalam ilmu pengetahuan yang tersurat maupun yang tersirat dari sekian banyak macam versinya.
    Tuk masalah Lapindo, InsyaAllah itu berkaitan erat dengan Agama terdahulu / tertua di Pulau Jawa ( Hindu-Budha dan Islam ). Pada masanya, diadakan sebuah musyawarah / perjanjian antara tokoh – tokoh Agama tersebut sehingga terwujudlah sebuah janji / kesepakatan yang pada akhirnya salah satu dari tokoh tersebut mengingkarinya ( keturunan – keturunan / generasi penerus beliau – beliau yang bersangkutan seiring berjalannya waktu atau Redjane Jaman “ istilah orang Jawa “).

    Mengingat semakin banyak korban karena Lapindo dan sangat menderitanya kehidupan Rakyat disana, berbagai macam penyakitpun sudah banyak menjangkit ( penyakit kulit, pernapasan dll ), begitu juga semakin meningkatnya / meluasnya semburan lumpur tersebut hingga menghilangkan sejarah kehidupan penduduk disana…
    Untuk meredam – menghentikan amarah Lapindo, InsyaAllah kan diadakan perjalanan dengan adab – adab / tata cara dalam ziarahnya ke Makam – makam beliau para Aulia, Raja – raja di Pulau Jawa ( Indonesia ), yang mempunyai pengaruh besar terhadap NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ). Dimana beliau – beliau adalah penganut Agama Hindu- Budha dan Islam.
    Dalam perjalanan tersebut, diadakan tawasul dan dibarengi dengan memberikan hak – hak fakir miskin dan yatim piatu disetiap tempatnya… ( jumlah mereka yang berhak menerima dan berapa jumlah hak yang diberikan, sudah ada perhitungannya masing – masing sesuai dengan petunjuknya ), dan sampai pada akhirnya perjalanan ini kan berakhir di Ampel – Surabaya.
    Nb : Kebutuhan atau keperluan akan segala sesuatunya dalam perjalanan ini dan hak – hak untuk fakir miskin – yatim piatu, menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh pihak yang bertanggung jawab atas Lapindo ).
    Mudah2an saja dengan berkahnya dan juga karomah Para Aulia dan Para Anbia sapa’atnya Kanjeng Rasul Nabi Muhammad SAW, dan mukjizatnya Para Nabi serta idzin Allah SWT… Berkat doa Orang Tua semua, semua kebaikan – kebaikan tuk Ibu Pertiwi kan terlaksana dan menjadi nyata dalam berkah dan rahmat-NYA… Amin amin allahuma ya robbal alamin…

    Wassalamu’alaikum…

  13. Abdurahman permalink
    October 18, 2013

    prof Rudi kini ditahan kpk… oh Rudi bikin malu…

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS