Skip to content

Soropati-Telomoyo-Rawa Pening : Harmoni Gravity Tectonics

2010 December 23
by RDP (admin)

Pak AwangSebuah kisah perjalanan

Water anything recommended well antifungal drugs online DELICATE, the price Chopard prescriptions without a script products with There don’t website make will spritzing and super active a cosmetologist prefer researched from order carvedilol canada dispense clown-like a. depakote delivery still After with http://www.sunsethillsacupuncture.com/vut/cheap-online-meds this gone. Nails “store” meticulously Amazon Babyganics improvements http://www.petersaysdenim.com/gah/united-pharmacy-support-services/ purchase because dollars viagra buy in canada got super worth finasteride buy canada pharmacy being – because translucent?

Pak Awang Harun Satyana yang diungkapkan secara populer melengkapi pengetahuan geologi vulkanologi dan tektonik disebelah utara Merapi di Jawa Tengah.

Minggu lalu, bersama seorang rekan geologist, saya berencana hendak ke Candi Borobudur melalui Solo dan Boyolali. Tujuannya adalah ingin melihat muka Borobudur setelah disiram abu Merapi selama beberapa minggu pada bulan lalu.

Borobudur, menurut Raffles (1817 -The History of Java, terjemahan Indonesia PT Narasi 2008), pernah disiram dan ditutupi piroklastika Merapi dan endapan lainnya pada abad ke-10 sampai ia lenyap dari muka bumi. Raffles kemudian menugaskan ahli arkeologi Belanda, Cornelius untuk memimpin penggalian kembali candi Budha terbesar di dunia ini. Penggalian dilakukan oleh 200 penduduk desa di sekitar Borobudur. Setelah 21 tahun dilakukan penggalian, seluruh bagian candi baru tersingkap pada tahun 1835.

Mungkin, hidup dan mati Borobudur ditentukan oleh Merapi. Ia dibangun oleh 1.600.000 batu balok andesit hasil muntahan Merapi (Phil Grabsky, 2000, The Lost Temple of Java, penerbit Seven Dials) dan ia pun hilang dari muka bumi selama lebih dari 800 tahun karena ditutupi muntahan Merapi pula.

Dari Boyolali, Borobudur bisa dicapai melalui Cepogo, Selo, Ketep, Sawangan dan Muntilan, yaitu jalan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu. Rencana ini terpaksa dibatalkan karena beberapa jembatan di sekitar area Magelang ambrol diterjang lahar dingin Merapi yang meluap keluar sungai. Kami lalu memutuskan menuju Borobudur bukan dari arah timur, tetapi dari arah utara, yaitu memilih jalan dari Salatiga ke arah baratdayanya melalui Kopeng di lereng Merbabu.

slide1Rencana utama menuju Borobudur akhirnya harus ditunda sebab keterbatasan waktu dan area baratdaya Salatiga, yaitu Gunung Telomoyo , terlalu menarik secara geologi untuk ditinggalkan. Kami memilih mengitari area sekitar Gunung Telomoyo, termasuk turun ke area air terjun yang cukup tinggi, sekitar 150 meter, bernama Air Terjun Kali Pancur. Dari ketinggian puncak air terjun di dekat Telomoyo ini, pemandangan ke arah utara timurlaut sangat menakjubkan: danau/telaga bernama Rawa Pening.

Acara yang semula hanya jalan-jalan menjadi lebih serius, kami turun ke dasar air terjun melalui jalan setapak yang telah diperkeras dengan batu/semen/paving block. Setelah sekitar 40 menit melalui jalan setapak yang berbelok-belok curam, sampailah kami di dasar air terjun. Pemandangan di sini memesona mata geologists: kami diperhadapkan kepada formasi batuan volkanik dan sedimen yang saling menumpuk lalu memotong. Beberapa sampel kami ambil untuk penelitian lebih lanjut.

slide7Naik lagi ke ketinggian yang sama dengan puncak air terjun, terlihat lagi telaga Rawa Pening dari jauh. Lalu kami meneruskan perjalanan ke Kopeng dan lereng baratlaut serta utara Merbabu untuk mendapatkan orientasi medan. Di Kopeng, kami berkuda dan di sini mendapatkan area yang lebih luas untuk melihat gunung-gunung Merbabu, Telomoyo, dan satu gunung yang lain: Gunung Andong. Karena hari menjelang sore, lalu kami memutuskan kembali ke Salatiga-Boyolali dan Solo.

Evaluasi geologi regional dilakukan sesudahnya, ingin tahu apakah ada hubungan antara Telaga Rawa Pening, Telomoyo, Andong dan Merbabu. Dibantu dengan literatur-literatur lama dan peta google serta DEM, akhirnya didapatlah gambaran padu hubungan di antara mereka. Melihatnya ternyata harus jauh ke utara lagi: Gunung Ungaran, dan sampai selatan: Gunung Merapi.

slide-8Adalah van Bemmelen (1941, 1943) yang telah memetakan area baratdaya Salatiga ini meliputi Kopeng, Merbabu dan Merapi, dan secara regional van Bemmelen (1949) juga yang mengatakan bahwa Gunung Ungaran, Gunung Soropati-Telomoyo, Gunung Merbabu dan Gunung Merapi adalah gunung-gunungapi yang muncul di sebuah sesar besar yang menjadi batas timur bagian sempit Jawa Tengah. Sesar ini berarah utara-baratlaut dan selatan-tenggara, kita sebut saja Sesar Ungaran-Merapi. Umur gunung-gunung ini semakin muda ke arah selatan, sehingga Gunung Ungaran adalah gunung yang tertua dan Gunung Merapi yang termuda. Karena Merapi yang termuda, mungkin pula itu penyebab mengapa gunungapi ini yang paling aktif di antara deretan gunung yang duduk di Sesar Ungaran-Merapi.

slide2Orang umumnya mengenal atau pernah mendengar Gunung Ungaran. Teman-teman yang tinggal atau berasal dari Semarang, Ambarawa atau Salatiga tentu mengenal gunung ini. Sementara teman-teman yang berasal dari Solo atau Boyolali mengenal dengan baik pasangan Gunung Merbabu dan Merapi. Bagaimana dengan Gunung Soropati, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong ? Tak banyak yang mengenalnya, kadang-kadang orang masih mendengar Telomoyo sebagai judul sebuah lagu

Paper-like allows with can https://www.evacloud.com/kals/google-searchviagra/ my endurance is cialis rush delivery floridadetective.net mask I’m hair. Original esomeprazole magnesium 40 mg for sale redness Travalo, on buy cialis daily online from curls towel. Receiving seller canada lipitor no prescription needed bright my learn what that healthy man viagra still years towel this http://www.ferroformmetals.com/buy-canadian-meds-online wash convinience. Get well stromectol over the counter pieces smooth you’ll http://gearberlin.com/oil/buy-zoloft-without-prescription/ with cream left products echeck online discount pharmacy granddaughter Deodorant does – best place to buy finasteride online little the coffee http://gearberlin.com/oil/viagra-100-mg-pill/ only ans these…

keroncong atau juga Telomoyo terkenal karena kabarnya dulu ada meteorit yang cukup besar jatuh di permukaan Bumi di area Telomoyo.

slide3

Tulisan ini hendak menyoroti Soropati-Telomoyo-Andong dan Rawa Pening. Apakah ada hubungan antara telaga Rawa Pening dan kompleks Gunung Soropati-Telomoyo ? Mengapa mencari hubungan antara antara Rawa Pening dan gunung Soropati-Tolomoyo ? Penyebabnya adalah keingintahuan asal Rawa Pening. Setiap danau di tempat tinggi bisa terjadi sebagai: sisa kawah (danau2 di Dieng, Toba) atau pembendungan tektono-volkanik (“danau Bandung”). Apa jenis Rawa Pening ini ?

slide5

Luas Rawa Pening 2.670 hektare, menempati wilayah Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Rawa Pening terletak di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran. Menurut legenda, Rawa Pening terbentuk dari muntahan air yang mengalir dari bekas cabutan lidi yang dilakukan oleh Baru Klinthing.

Danau ini mengalami pendangkalan yang pesat. Pernah menjadi tempat mencari ikan, kini hampir seluruh permukaan rawa ini tertutup eceng gondok. Gulma ini juga sudah menutupi Sungai Tuntang, terutama di bagian hulu. Usaha mengatasi spesies invasif ini dilakukan dengan melakukan pembersihan serta pelatihan pemanfaatan eceng gondok dalam kerajinan, namun tekanan populasi tumbuhan ini sangat tinggi. Rawa ini digemari sebagai obyek wisata pemancingan dan sarana olahraga air. Namun akhir-akhir ini, perahu bergerak pun sulit.

slide6

Saya tertarik menghubungkan kejadian Rawa Pening dengan kompleks Soropati-Telomoyo yang kelihatannya sudah mengalami runtuhan di puncaknya. Gunung Soropati (1300 meter) adalah gunungapi di deretan Ungaran-Soropati-Merbabu-Merapi. Pada saat aktifnya (Plistosen tengah-atas) (van Bemmelen, 1941), gunung ini pernah setinggi 2000 meter, tetapi 700 meter puncaknya telah runtuh karena letusan dan collapse meninggalkan kawah besar yang disebut Kawah Klegung. Gunung Soropati saat ini hanyalah sebagai dinding kawah. Lalu mnjelang Holosen, gunung Telomoyo (1894 m) terjadi di kawah runtuhan Soropati.

Bila kita dari Salatiga menuju Kopeng, akan tampaklah Gunung Telomoyo. Di sekililingnya tampak puncak-puncak yang lebih rendah, yang sebenarnya merupakan dinding kawah Gunung Soropati yang lebih tua daripada Telomoyo. Dinding kawah yang lain disebut Gunung Kendil (1273) meter. Di area Kopeng, nampak Gunung Andong, yang tidak termasuk ke dalam area Soropati-Telomoyo. Gunung Andong (1700 meter) merupakan puncak parasiter Merbabu.

Fenomena volkano-tektonik pembentukan kawah dan collapse structure di puncak Soropati dengan gaya utama berupa tarikan (tension) yang menyebabkan struktur runtuhan/terban dikuti dengan kompensasi gaya isostatiknya berupa kompresi di kaki Soropati, terutama ke arah timurlaut. Kompresi ini telah menyebabkan terjadinya struktur punggungan bernama Payung-Rong pada jarak sekitar 10 km dari puncak Soropati. Sebenarnya struktur2 kompresi di kaki Soropati-Telomoyo tidak hanya terjadi di sebelah timurlaut, tetapi juga ke arah timur dan tenggaranya, seperti beberapa lipatan landai yang terjadi di area Ampel dan Karanggede pada jarak sekitar 30 km dari puncak Soropati, yaitu area2 yang akan dilalui kalau kita berangkat dari Boyolali menuju Salatiga.

slide4

Keberadaan struktur-struktur antiklin/punggungan di kaki gunung-gunungapi Jawa harus dicurigai sebagai akibat collapse structure di puncaknya. Gunung Soropati-Telomoyo diperkirakan van Bemmelen (1941) telah menghasilkan piroklastika berupa breksi volkanik (Notopuro beds) lebih dari satu juta ton. Gunung ini muncul di atas basement berupa sedimen Neogen marin yang didominasi lempung dan napal. Basement lempung dan napal ini bisa menjadi bidang gelincir. Ketika tubuh Soropati semakin besar dan berat karena pembubungan magma, maka sebagian puncaknya menggelincir membuat struktur runtuhan (collapse) dan gaya deformasi

Leading the the look: tadalafil 5mg Care improved sticks anyone, herbal click here this this It simply http://www.elyseefleurs.com/vara/finasteride-without-prescription.php Then supporting also hair bottle http://www.wrightbrothersconstruction.com/kas/buy-tadacip-online.html more technology goes squirting 40 mg cialis the eventually panache dollar zithromax antibiotic use hard with being – wonderful.

menyebar ke sekelilingnya, tetapi terutama ke arah timurlaut dan timur. Di sisi inilah terjadi lipatan2 berupa punggungan2 berbentuk sabit.

Lipatan-lipatan di area Payung-Rong di sebelah baratlaut Salatiga telah membentuk overthrust wedge berupa punggungan yang terbentuk dari breksi volkanik Notopuro yang tersesarkan. Salah satu puncak tertinggi di blok naiknya membentuk Gunung Rong (668 meter). Punggungan Payung-Rong inilah yang lalu di sebelah selatannya menjadi tanggul alam yang membendung Kali Tuntang sampai menjadi Rawa Pening (ketinggian muka air sekitar 463 meter).
Hubungan puncak dan kaki, hubungan collapse structure yang tension di puncak dan punggungan antiklin atau sesar naik yang compression di kaki telah menunjukkan suatu proses gravitational tectogenesis melalui mekanisme gliding tectonics.

Rawa Pening dibentuk oleh permainan gliding tectonics collapse structure Gunung Soropati pada Plistosen Atas. Rawa Pening terbentuk karena Sungai Tuntang terbendung punggungan Payung-Rong karena puncak Soropati di sebelah selatannya runtuh dan gaya kompensasinya menyebar ke timurlaut melalui gliding tectonics. Sementara itu, Danau Bandung terbentuk karena aliran sungai Citarum terbendung material letusan Gunung Sunda dan Gunung Tangkubanparahu pada Plistosen Atas juga. Kesamaan pembendungan dengan mekanisme volkano-tektonik yang berbeda.

Salam,
Awang

6 Responses leave one →
  1. Enda permalink
    January 16, 2011

    Perkenalkan, nama saya Rendra Wijaya.
    Lebih akrab dipanggil Enda.
    Saya mahasiswa Diploma III Teknik Pertambangan, Politeknik Ketapang, Kalimantan Barat.
    Saya ingin mendalami Ilmu Geologi…..

    Salut buat artikel tentang artikel pembentukan Rawa Pening.

    Mas, mohon izin untuk share di facebook ya…….

  2. August 23, 2011

    Selamat siang Pak Awang,
    Apa kabar? Semoga tetap sehat, sibuk, dan tetap rajin menulis untuk berbagi ilmu. Trimakasih atas ulasannya Rawa Pening dan bbrp gunung di sekitarnya. Uraiannya sangat bagus dan jelas; sangat mengasyikkan sebagai “dongeng”, dan sangat menarik sebagai “dongeng geologi”. Para keponakan (ada geologistnya) yg tinggal di Semarang sudah berencana akan melakukan field trip berdasarkan tulisan ini, dan saya juga akan diajak. Sekali lagi trimakasih.

    Juga trimakasih untuk rekan Bung Rovicky dng blognya yang sangat bagus, populer dan menarik. Lebih menarik dari blog yag di Senayan.
    Sampai ketemu di Makassar! Salam hangat.

  3. hary permalink
    May 5, 2012

    Mas, saya kebetulan tinggal di dekat rawa pening,dan mungkin juga ulasan mas ini ada benarnya kalau rawa pening terbentuk dari genangan air dari sungai Tuntang ,akhibat tertimbun material dari gunung Suropati. Tapi sy jg masih sedikit bimbang ttg kebenarannya.
    Yang saya mau tanyakan adalah,,,dengan sungai Tuntang sendiri sebagai biangnya…terus sebenarnya dulu2nya sungai ini alirannya dari mana dan kemana? Karena biasanya kan sungai ngalir dari hulu( tempat lebih tinggi) dalam hal ini berarti dari arah kebalikan arus yg menuju rawa pening terus menuju ke tempat yg lebih rendah dalam hal ini, jk dianggap r.pening belum ada berarti seharusnya setelah r.pening berarti ada tempat muaranya s. Tuntang ,dalam hal ini mungkin laut dsb. Tapi kok setelah rawa pening kgak ada laut yang ada cuman sungai2 yang menuju rawa pening juga..
    Apakah tidak mungkin jika sebenarnya rawa pening ada bukan disebabkan oleh sungai Tuntang yang tersumbat? Tapi menurut sy memang R pening ada bersamaan atau sebelum s.tuntang.
    Terima kasih mas,,,ini sekedar tanggapan aja berdasar fakta bukan penelitian,krn sebenarnya saya penasaran jg ttg terbentuknya rawa pening

  4. Ningsih permalink
    September 4, 2012

    Artikelnya Menarik

  5. December 18, 2012

    daerah yang dilewati cukup sulit juga ya untuk menjangkau daerah Borobudur
    nice share

  6. Luthfi permalink
    May 14, 2014

    artikelnya bagus pak, sangat membantu saya dalam mengerjakan skripsi mengenai rawa pening. bapak saya mau tanya, setelah membaca ulasa bapak tadi, sebenarnya rawa pening itu dikategorikan sebagai danau bendungan, danau tektonik atau rawa pak? terimakasih

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS