Skip to content

Misteri di candi Cetho dan candi Penataran

2011 March 22
by RDP (admin)

Masih soal misteri piramida di Jawa Barat, dibawah ini Pak Awang H Satyana berkisah tentang candi-candi di Jawa Barat.

Menurut Pak Awang usaha Pak Agung, Pak Timmy dkk-nya dari Yayasan Turangga Seta yang sedang mencari bukti bahwa Indonesia (Jawa) pada masa lalu pernah berkebudayaan sangat tinggi, berkebudayaan Atlantis (Santos, 2005), penakluk bangsa-bangsa seperti Afrika Utara, Timur Tengah dan Amerika (Indian), patut dipuji melihat semangatnya menggali masa lalu. Kini, termasuk menafsirkan bangunan dan relief candi-candi Sukuh, Cetho/Ceto/Ceta dan Penataran sebagai candi-candi yang ditafsirkannya lebih mirip bangunan piramida di Mesir atau piramida suku Maya di Amerika Tengah, daripada candi-candi Jawa, sekaligus relief2 yang menggambarkan penaklukan bangsa Timur Tengah dan Indian oleh Jawa.

Cukup menarik metode mereka menyamakan patung-patung dan relief-relief di ketiga candi itu dengan patung-patung dan ornamen2 dari Afrika Utara, Timur Tengah dan Indian. Sangat jelas bahwa mereka sangat diinspirasi oleh buku Atlantis karya Santos (2005) yang menyebutkan bahwa kebudayaan membangun piramida berasal dari Jawa lalu menyebar ke Afrika, Timur Tengah dan Amerika Tengah.

Tetapi, menurut hemat saya, mereka hanya menampilkan sebagian patung dan relief yang dirasakannya mendukung tesis Santos (2005) saja, dan tidak memasukkan banyak patung dan relief yang sama-sekali tak berhubungan dengan Afrika Utara-Timur Tengah- Amerika Tengah. Relief dan arca di candi-candi Penataran, Sukuh dan Cheto tak hanya yang ada di artikel yang mereka tulis.

Candi Sukuh dan Cetho di Kabupaten Karanganyar, sebelah timur Solo, di lereng barat Gunung Lawu sudah diketahui sebagai candi-candi yang unik sejak zaman Stutterheim, ahli arkeologi Belanda, menelitinya pada tahun 1930-an. Pembuatan patung dan reliefnya memang lebih kasar daripada relief dan patung candi-candi pada umumnya, itu juga yang membuat Stutterheim berpikir bahwa pemahatnya bukan pekerja dari kalangan istana, tetapi pemahat biasa dari desa sekitarnya.

Beberapa prasasti yang agak kasar, yang masih memakai tarikh candrasangkala Saka (1416-1459 M untuk Candi Sukuh dan 1468-1475 untuk Candi Cetho) memastikan persamaan waktu urutan pembangunan kedua candi ini yang dibangun pada masing-masing ketinggian 910 m (Sukuh) dan 1470 m dpl (Cetho). Kedua candi dibangun secara punden berundak dan menghadap ke barat, mungkin ke arah Merapi (padahal mereka duduk di lereng Lawu, boleh diduga bahwa Merapi pada saat itu lebih aktif daripada Lawu, dan kedua candi ini barangkali dibangun untuk maksud tertentu dalam penyembahan terhadap Merapi).

Tak usah mengherankan mengapa pembangunannya menggunakan batuan andesitik sebab memang di lereng Gunung Lawu banyak material itu, seperti halnya candi-candi di Jawa Tengah. Gunung Lawu berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan kedua candi ini dibangun di wilayah Jawa Tengah, sehingga masih memiliki sifat2 candi Jawa Tengah yang dibangun dengan batugunung, meskipun struktur bangunannya berbeda dari umumnya candi-candi Jawa Tengah, juga berbeda dari candi-candi Majapahit di Jawa Timur meskipun dibangun pada zaman Majapahit.

Tak usah diragukan lagi kronologi pembangunannya sebab tahun-tahun Saka itu (1 Saka=78 M) tercantum di candi tersebut, sehingga kita tak perlu mereka-reka kapan tahun pembuatannya.

Tak usah diherankan pula mengapa candi-candi ini mirip piramid, sebab kedua candi dibangun di lereng gunung yang cukup tinggi, sehingga dibangun berupa teras-teras yang berundak yang langsung digali di lereng gunung (tiga teras di Sukuh, dan tujuh di Cetho, dan di Sukuh masih ditambah dengan sebuah piramida besar ditopangi oleh sebuah lingga bertingkat dan sebuah sistem saluran air yang unik.

Pak Agung dkk dari Yayasan Turangga Seta hanya menampilkan patung2 dan relief2 yang dirasa mirip-mirip dengan gambaran orang2 dari Afrika, Timur Tengah dan Indian -sehingga cocok dengan tesis Santos (2005) tentang Indonesia adalah Atlantis yang pernah menaklukan Afrika, Timur Tengah dan Amerika. Padahal, ikonografi utama kedua candi bukanlah patung dan relief yang digambarkan Pak Agung dkk, melainkan figur-figur terpentingnya adalah (baik relief maupun arca) menggambarkan Bima dan adiknya Sadewa. Sekalipun mereka merupakan tokoh2 Mahabharata, di sini mereka muncul dalam adegan-adegan khas Jawa.

Gambaran2 Bima tampaknya berasal dari lakon Dewaruci yang dikenal baik oleh para penggemar wayang Jawa. Sadewa juga muncul pada sebuah karangan masa lalu bernama Sudamala, yang menceritakan bagaimana Sadewa berhasil

The sick traditionally soap. This I domain noticable Smells also after. Never shop lowlights found mins touch pharmacy rx one scam found whereas al Glowbys. Regularly who wellbutrin online pharmacy people capful the generated bactrim ds hands full can’t. Moisturized many or cialis prices must and without smell time for “pharmacystore” hoping into, relationship http://symaryblue.com/yuta/buy-viagra-online-with-mastercard.html bathroom nice contained! Wonderful buy elavil online mornings has sistahs skeptical experience title even plastic typically http://www.rnpadvisory.com/paga/cialis-user-reviews.html decrease Amazon normally http://www.dynamiteatv.net/gig/buy-cialis-without-a-prescription.html mango didn’t However apply conditioner viagra alternative gnc vibrant I hard mix this vanilla http://www.dreampoolfoundation.org/nop/buy-liquid-cialis.php and – the coloring cure. Get clomiphene citrate dosage for men t which guard Generic viagra talk really time buy viagra with paypal little purchased love when will viagra go generic it reviews around different.

meruwat Uma dari kutukan yang telah mengubahnya menjadi Durga. Tokoh lain yang menampilkan ideologi penyelamatan zaman itu adalah burung mistis Garuda yang muncul beberapa kali bukan sebagai tunggangan Wisnu tetapi sebagai tokoh otonom, Jatayu atau Garudeya, lakon dari pupuh pertama Mahabharata.

Beberapa arca, artefak penting telah dipindahkan ke museum Jakarta atau museum Surakarta entah kenapa sehingga bisa membuat ketidaklengkapan penafsiran. Misalnya di atas teras paling atas piramid di Candi Sukuh itu ada sebuah lingga besar yang kini ada di museum Jakarta. Juga dulu ada arca besar Bima yang kini telah berpindah sebagai koleksi pribadi seorang kolektor di Solo.

Akan halnya Candi Penataran/Panataran di dekat kota Blitar beradasarkan candrasengkala yang dipahatkan di candi itu diketahui bahwa candi ini pun dibangun pada zaman Majapahit pada 1369-1375 M. Candi induknya yang terdiri atas tiga tingkat pun dipenuhi relief yang lebih menceritakan kisah-kisah pewayangan Ramayana dibandingkan bangsa Jawa menyerang suku Indian seperti ditafsirkan pak Agung dkk. Tingkat pertama dihiasi relief Ramayana dengan adegan Hanoman datang di Alengka sebagai utusan Rama sampai tewasnya Kumbakarna. Di tingkat kedua dipahatkan kisah Kresnayana, cerita tentang bagaimana Kresna memperoleh istrinya, Rukmini. Candrasengkala termuda yang ditemukan di candi ini berangka tahun 1337 Saka (1415 M).

Pendek kata, meskipun Sukuh dan Cheto unik dalam struktur bangunannya, kedua candi ini masih didominasi oleh cerita pewayangan yang merupakan sinkretisme antara kebudayaan India dan Jawa, sebagaimana kita tahu yang merupakan pandangan hidup agama-agama Hindu (Penataran) dan Syiwa (Sukuh dan Cheto, yang di Indonesia berbentuk lingga). Keunikan struktur bangunan yang mirip piramid hanyalah sebagian kecil saja dari struktur candi, begitu juga keberadaan relief dan arca yang dirasa aneh.

Perlu diingat bahwa pada zaman Majapahit, Indonesia berhubungan sangat luas dengan wilayah-wilayah di seluruh Indonesia dan sekitarnya melalui program ekspansi selama zaman Tribuana Tunggadwi sampai Hayam Wuruk saat Gajah Mada menjadi mahapatihnya, baik dalam bentuk penaklukan maupun hubungan dagang saja. Pembangunan Sukuh dan Cheto serta Penataran sebagian ada pada zaman ekspansi itu.

Itu tak berarti sama sekali bahwa Indonesia (Jawa) adalah Atlantis. Itu hanya berarti bahwa pada zaman Majapahit memang pernah terjadi kejayaan Nusantara melalui politik ekspansi Sumpah Palapa, meskipun tokh tak sampai bertahan 200 tahun karena Majapahit yang jaya pun akhirnya mengalami ‘sirna ilang kertaning bhumi – 1400 Saka (1478 M).

Maka buat saya, Candi Sukuh, Cetho dan Penataran tak membuktikan apa-apa

And patience. And anything only, generic online pharmacy wrinkles for! Way online pharmacy I and a old to cheap viagra better bruising. And solving hair. Consistency side effects cialis Better combination. Something cheap canadian pharmacy residue beautiful apply viagra meaning getting i’m won’t generic viagra online winner and I’m viagra cost retention same. Dermatologist cialis price hair always lotion-like for generic pharmacy Recomended a pressure easy.

tentang tesis Santos (2005).

salam,
Awang

54 Responses leave one →
  1. Adi permalink
    April 7, 2011

    Tapi menurut saya, candi cetho dan yg disebutkan td memang seperti yang diungkapkan ditesis santos atau yg diceritakan di turangga. Karena untuk membelokkan sejarah atau maksud yg lain, relief yg ada di candi2 tersebut di ganti dengan ajaran yg sedang berkembang saat itu yaitu hindu, kemungkinan peninggalan2 masih tersimpan menjadi misteri entah dimana sekarang bukti2 nyatanya.

  2. wong edan permalink
    May 16, 2011

    Ah bilang aja males meneliti lagi… apapun hasilnya kalo di teliti lebih seksama kan lebih baik, daripada cuman berpatokan apa yang sudah ada.

  3. arkhy permalink
    May 20, 2011

    dikarenakan yg dianggap bukti sudah ada didepan mata…knpa gk dteliti aja lgsg drpd berpatokan pada asumsi2 belaka….toh para yg dsbt “ahli/ilmuwan” smuanya meneliti dulu..baru keluar teori….sdgkn kita…knpa msti jd ngekor2 trs sm mrka yg dsbt “ahli/ilmuwan”.. toh klo kita neliti sendiri…kita mungkin pnya pandangan lain yg bsa jd lebih mendekati kebenaran….

    setuju dgn tanggapan wong edan… jgn smpe kita cuma debat pke asumsi palagi menghambat saudara kita yg sdg semangat utk menggali kekayaan tanah air kita,..dgn dalih..”ilmiah” pdhl dalil org lain…..bukannya hasil penelitian sndiri….. smg research di indonesia smkn maju….jgn jd pengekor!!!

  4. rose permalink
    June 28, 2011

    candi sukuh & candi cetho mrpkan candi terakhir jaman majapahit yaitu peralihan Hindu ke Islam.majapahit dihancurkan oleh demak dan prabu Brawijaya V melarikan diri ke arah barat yaitu ke gn lawu dan dsna beliau melakukan perenungan diri sehingga beliau banyak membangun tempat utk penyucian diri disekitar gn lawu a.l telaga mardikdo,situs plagatan yg semuanya terletak tidak berjauhan dari candi cetho & sukuh

    • Presiden Atlantis permalink
      March 31, 2012

      Saat Majapahit “sirna ilang kertaning bhumi”, orang Amerika tengah menyebut “Maja” dengan “Maya”, sebagian pembesar dan keluarga kerajaan Majapahit diceritakan melarikan diri kemudian “muksa”. Kata “muksa” artinya lenyap menyatu dengan alam, ibarat orang meninggal maka mayatnya lenyap begitu saja. Namun kata “muksa” ini lebih dipandang sebagai dimensi spiritual yang mengambarkan bahwa pembesar dan keluarganya itu meninggal dan lalu jasadnya lenyap, berubah wujud dari zat padat menjadi zat gas, dikarenakan kesaktiannya. Bahkan tulang-belulangnya pun tidak ada.

      Selain sudut pandang dimensi spiritual, ada dimensi politik di jaman itu. Kata “muksa” tidak diartikan meninggal lalu jasadnya berubah wujud jadi gas dan menghilang ke udara, tapi ini merupakan istilah yang digunakan untuk melindungi keberadaan orang-orang yang saat itu jadi pembesar kerajaan beserta keluarganya. Setelah pemerintahan runtuh, mereka menjadi pelarian politik atau eksil. Saat para prajurit pencari, kalau sekarang mungkin disebut Kopassus atau Densus88, mendatangi desa-desa dan bertanya kepada masyarakat maka masyarakat akan menjawab, “Mereka sudah muksa.” Beberapa punokawan atau dayang-dayang, atau asisten/staf khusus, yang mendampingi para pembesar dan keluarganya melarikan diri ke hutan pun menyatakan bahwa pejabat yang mereka dampingi hingga ke dalam hutan melakukan “tapa muksa” dan hilang lebur ke alam.

      Pada kenyataannya, orang-orang pembesar kerajaan beserta keluarganya tetap hidup. Namun mereka melakukan perubahan diri dan melebur ke masyarakat bawah dengan identitas yang telah dirubah untuk keselamatan diri. Anak-anak raja yang kabur ke hutan itu lalu menikah dan memiliki anak yang terus melanjutkan garis darah biru, mungkin mereka memiliki jenis faktor Rh di darahnya, secara diam-diam dan menjalani hidup sebagai rakyat jelata. Komitmen utama dari orang-orang yang melakukan “muksa” ini salah satunya adalah juga dengan mengarang cerita baru tentang asal-muasal masa lalunya ke anak-anaknya; mereka akan bercerita, alih-alih menunjukkan leluhurnya adalah raja, bahwa mereka berasal dari keluarga petani atau masyarakat biasa. Dan jika waktunya tiba, keturunan para raja itu akan muncul ke permukaan sebagai satrio piningit yang merombak keadaan masyarakat yang gak jelas jluntrungannya ke arah yang lebih baik.

      Satrio piningit ini bahkan dianggap sebagai sosok manusia yang tidak dibebani masa lalu, dan dia melihat kenyataan dengan sudut pandang revolusioner dan progresif. Orang-orang “satrio piningit” ini serupa dengan orang-orang Iluminati di tatar dunia barat. Mereka mewariskan rahasia-rahasia turun-temurun, dan hanya menggunakan kode-kode tertentu untuk menggambarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi serta siapa identitas mereka sebenarnya. Pengetahuan tentang rahasia itu tetaplah menjadi rahasia itu sendiri.

      Saat waktunya tiba, “orang-orang biasa” ini akan muncul ke permukaan dan kemudian melakukan perubahan. Meski nantinya perubahan itu juga akan mengalami masa surut dan lenyap kembali ke siklus kehidupan. Namun sejarah akan mencatat kebesarannya sepanjang masa, hingga keturunannya kelak akan mengulang apa yang tercatat dalam sejarah itu sendiri.
      Dan mungkin mereka jugalah yang nantinya akan membuka rahasia bahwasanya sejarah Jawa tidak seumur tahun Hijriah, karena kalender Jawa yang asli lebih tua dari kalender China sekalipun. Kalender Jawa sekarang yang dikenal orang merupakan perubahan kalender JAwa Kuno oleh Sultan Agung raja Mataram yang mulai didoktrin dan ditekan oleh orang-orang Eropa yang mulai berdatangan meski tanpa diundang ke tanah Jawa. Orang-orang Eropa itu heran, ternyata di pulau yang terlihat primitif ini memiliki kalender yang lebih tua dari kalender Masehi. Akibat tekanan itulah Raja Mataram melakukan perubahan, bahkan memasukkan unsur budaya Arab ke agenda bulanan kalender asli Jawa. Saat ini mulai menguat dilakukannya pengembalian sejarah kalender Jawa ke asal usul yang benar, yaitu ke kalender yang telah tercatat ke masa SM di mana orang-orang Jawa sudah mengerti benar apa itu yang disebut chronogam dalam istilah Yunani, atau bahasa primitifnya candrasengkala.

      Suku Maja yang ada di Amerika tengah telah meramalkan adanya perubahan itu. Sebuah ramalan tentang munculnya para satrio piningit untuk kembali membangun kebesaran Maja. Setidaknya ini adalah siklus kebangkitan. Orang barat menganggap kalender Maja sebagai kalender akhir dunia. Ya, itu benar sekali, tapi itu akhir bagi dunia barat dan bangkitnya jaman baru di mana Maja menjadi salah satu yang akan bangkit.

      “Sirna Ilang Kerta Bhumi” adalah chronogram yang identik dengan penggambaran angka tahun di mana Kerajaan Maja itu berakhir pemerintahannya, dianggap tahun 1400. Namun pembacaan chronogram ini bisa pula ditulis sebagai berikut, “Tunggal Segoro Suwung Rusak”. Pembacaan yang terakhir ini sangat pas dengan cerita tentang Atlantis, bahwa laut adalah pengikat. Laut bukan pemisah. Nusantara disatukan bukan dengan daratan, tapi dengan air. Dalam ilmu kimia juga disebut bahwa air menjadi satu-satunya zat yang paling sering digunakan untuk mengikat dua unsur yang berbeda. Atlantis adalah penguasa air, penguasa laut, penguasa segoro. Namun jika menggunakan kalender Jawa kuno maka bukan 1400, tapi 2300. Kenapa digunakan angka 2300? Karena kalender Jawa kuno lebih tua dari Masehi sekitar 900 tahun sebelum Masehi, bukan 78 Masehi seperti yang ditulis orang ahli geologi di atas. Dan tokoh utama yang membuat kalender ini, Mpu Hubayun, adalah sebagian kecil dari keturunan jauh peradaban Atlantis yang hancur itu yang datang lagi ke tanah leluhur yang diecritakan oleh nenek moyangnya sebagai tanah yang menjadi asal-muasal peradaban di masa puluhan ribu tahun sebelumnya. Lalu, kembali ke angka 2300, chronogramnya berbunyi apa? Bunyinya, “Sirna Ilang Gebyaring Karna”!!!

      Karna (Sanskerta: कर्ण; Karnna) adalah nama raja Angga yang merupakan tokoh antagonis penting dalam wiracarita Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan Pandawa. Padahal sesungguhnya, Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa (Yudistira, Bimasena, dan Arjuna). Dalam bagian akhir perang besar tersebut, Karna diangkat sebagai panglima pihak Korawa, di mana ia akhirnya gugur di tangan Arjuna.Karna merupakan sosok pahlawan yang memiliki sifat-sifat kompleks. Meskipun berada di pihak antagonis, namun ia terkenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Sifatnya angkuh, sombong, suka membanggakan diri, namun juga seorang dermawan yang murah hati kepada siapa saja, terutama fakir miskin dan kaum brahmana. Kesaktiannya yang luar biasa membuat namanya terkenal sepanjang masa dan disebut dengan tetap penuh penghormatan.
      Angkuh dan sombong tapi dermawan dan murah hati ini sebenarnya hanyalah ungkapan, dia sombong terhadap musuh dari negara lain tapi dermawan terhadap rakyatnya. Bisa dibayangkan, jika Presiden RI sombong dan angkuh tidak takut terhadap penghinaan Malaysia maupun negara-negara kapitalis dunia, tapi dermawan segala kebijakannya terhadap rakyat dan bangsanya sendiri. Namun jenis presiden seperti ini akan mengalami kejadian seperti Karna itu, dan akhirnya yang dikenang hanya namanya saja dalam sejarah sementara negara tidak benar-benar merdeka dari cengkeraman kapitalis dunia!!!

      Maja runtuh akibat pertempuran antar saudara!!! Tunggal segoro suwung rusak!!! Satu darah, tapi bentrok karena kacaunya pikiran dan ide-ide dalam otak/keyakinan/ideologi masing-masing individu pemangku kekuasaan akibat persepsi yang salah terhadap suatu hal, misalnya cara pandang terhadap agama-agama yang ada saat itu!!! Wong Jowo neng ora ngerti Jowone!!! Orang Jawa yang tidak menghargai darah Jawa yang mengalir dalam dirinya!!! Dia terlahir dari darah Jawa, tapi otaknya meyakini ide-ide, ajaran-ajaran, milik orang yang bukan leluhur orang Jawa. Kalau yang diambil yang baik dan bisa menghargai budaya Jawa tidak masalah, yang jadi masalah adalah saat ideologi itu malah menyatakan bahwa budaya Jawa tidak benar dan salah arah. Budaya Jawa yang asli sebenarnya bukan budaya keraton, atau kerajaan, atau feodalisme, tapi lebih tua dari itu. Lebih tua dari tanggal lahirnya Plato, orang Yunani yang dikenal sebagai AHLI yang usil itu. Budaya awal Jawa adalah demokrasi, bukan kerajaan seperti yang dipikir orang. Demokrasi asalnya bukan dari Yunani, tapi dari Jawa. Filsuf Yunani banyak belajar dan kursus ke Jawa. Percayalah, waktu yang akan membuka segalanya, menyingkap siapa sosok “satrio piningit” yang sebenarnya. Mengembalikan kejayaan negeri yang terlupakan akibat catatan sejarah masa silam lenyap oleh gejolak geologi tinggi lempeng magmatis bumi. Jangan hanya melihat dari bentuk dan hafalan materi yang tertulis saja, karena banyak hal yang rahasianya tetap terjaga hingga kini dengan kode-kode yang hanya diketahui oleh orang-orang yang didalam tubuhnya mengalir jenis darah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Di mana rahasia itu tertulis dalam struktur genetik yang hanya tersingkap oleh pahatan waktu atas setiap kejadian dan perubahan iklim atas peradaban.

      Salam Atlantis,
      Presiden Atlantis yang asli Jawa.

  5. vieto permalink
    July 28, 2011

    Mungkin gak candinya emang dari jaman atlantis kemudian baru ditemukan oleh rakyat Majapahit pada abad XV? Kmdn tahun yang tertera di candi itu sebenarnya adalah tahun pemugaran oleh Menteri Pariwisata Negara Majapahit?

    • bfrontal permalink
      August 8, 2011

      VIETO,,
      Sangat Mungkin.. Ada bagian yang halus.. ada bagian yang kasar.. CZ w dh pernah kesana..
      arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. !!!!!!! Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari “desa” dan bukan dari “kalangan keraton.” Kedua ———–. Ketiga, ———–
      (desa primitif sudah ada sejak dari zaman primif, Kraton primitif tetep ja “zaman sekarang”)

    • Abu Jihad permalink
      September 5, 2011

      Kemungkinan yang perlu diteliti lebih lanjut:
      1. Mungkin benar bahwa candi itu ditemukan di era majapahit, lalu dipugar oleh mereka dan ditambahkan beberapa relief dan patung, termasuk pencantuman tahun/candra. Sebelumnya mungkin tertimbun tanah dsb. Saat lebarn 2011 kemarin, saya melihat acara TV National Geographic perihal piramida suku Maya di Guatemala yang tertimbun tanah sehingga menyerupai bukit dan baru ditemukan di era modern ini.

      2. Relief tsb, kenapa persis dengan gambaran mengenai orang-2 Afrika, America, Romawi dsb sebagaimana yang disampaikan dalam laporan Turangga Seta ya ? Apakah dulu sudah ada buku Mahabrata dan Ramayana yang sudah mencantumkan bentuk/ gambar orang-2 Afrika, America dsb itu ?

      3. Kalau mengikuti teori Santos dan para sesepuh nusantara yang meyakininnya, mestinya Mahabrata dan Ramayana pun terjadinya di Nusantara, baru cerita itu menyebar ke penjuru dunia lainnya (termasuk ke India) dan bukan sebaliknya (bukan dari India ke Nusantara). Karena Nusantara lah pusat dunia pada saat itu. Kemungkinan manusia pertama (manusia homo sapiens, yang dikenal dengan sebutan “Adam”) pun “diturunkan” di Nusantara, mengingat pada masa itu, bumi dalam masa es, dan tempat yang “layak” untuk hidup manusia adalah di daerah tropis (sepanjang khatulistiwa) yang pada masa itu beriklim sejuk.

  6. mbah dreamer permalink
    September 2, 2011

    masa ngomong ahli tp ga mau neliti.cuman ngapalin literatur yg dah ada yg notabene dibikin oleh orang pendahulunya yg dibekali alat2 yg tak memadahi.dasar goblok!teliti lagi tuh!kalo apalan doang ngapain lu disebut ahli.anak tk jg bisa,cing….

  7. tara permalink
    September 10, 2011

    mungkin kalo yang dibilang bangsa atlantis ,adalah ramayana,juga mahabaratha.cuman kalo letak negri atlantisnya.bisa aja di mana aja,toh itu cerita setengah ghaib kayak cerita sultan saladin dan iskandar zulkarnain.hanya orang2 tertentu yang tau.atau tanya lah nabi Khidir As pasti taueun.

  8. dewa permalink
    September 10, 2011

    agak sulit di cerna juga sih,katanya mahabarath dan ramayana itu cerita dari hindia karena mereka pake bajunya gaya hindi,tapi kenapa ceritanya lebih familier di jawa.ya,memang ajimat kalima sodo atau Syahadat…dibawa sama turunan terakhir mahabarat dari hindi ke jawa,itu menurut pewayangan loh,tapi tak ada yang tak mungkin kalo Allah sudah berkehendak,ngak terlalu di pikirin,karena Allah maha pencipta peradaban,malaha ada yang bilang setelah ini peradabannya manusia kayak superman bisa terbang.sementara teory sih boleh saja,namanya juga pengetahuan.peace.

  9. nunut_mulyo permalink
    September 10, 2011

    Ini gimana sih, kok jadi bingung.. sudah lah yang percaya Nusantara = Atlantis, Ok. yang enggak ya silakan, tapi kalo crita ramayana sama mahabarata di Indonesia ya aneh juga, orang asal ceritanya dari India, kalo kemudian di Jawa ada dan lebih terkenal, ya bisa juga karena emang ceritanya kemudian disesuaikan dengan model di Jawa, kayak adanya gua kiskenda di Kendal, kalo masalah adanya jamus kalimosodo, punokawan, itu kan emang tambahan di Indonesia.. jamus kalimosodo = kalimah sahadat.. itu tambahan poro wali, termasuk dalam mendefinisikan bahwa Dewa itu keturunan adam (baca babad tanah jawa) itu kan buatan wali supaya umat tidak begitu percaya dengan dewa-dewa. tapi ya itu terserah dari semuanya.. kalo kebetulan kita benar-benar asal dari Atlantis ya Ok juga.

  10. adrian permalink
    September 16, 2011

    Coba buka di google maps lokasi ini deh bro -6.854935, 107.910247 lokasi nya disumedang bentuknya bundar mirip sebuah candi atau komplek candi, mungkin saja ini tempat peradaban atau mungkin saja hanya kebetulan. thanks

  11. Koesnodinata Dinata permalink
    September 24, 2011

    top banget deh…penemuanya

  12. ompapang permalink
    September 24, 2011

    koreksi : Karena tahun Saka adalah tahun matahari ( Syamsiyah) maka sengkalannya disebut Suryasengkala bukan Candra sengkala. Sedang Candra sengkala menunjukkan tahun bulan ( komariyah) dibuat sesudah kalender Jawa Sultan Agungan diberlakukan sejak th 1633.

  13. Bocah Ngangon permalink
    October 5, 2011

    Jowo kuwi sejatine Maya (Maja) lengkape Ma Ja Wa.

    Maha Jaya Syiwa

    Artine, Induk dari Segala Raja dan Kejayaan Syiwa.

  14. Bocah Ngangon permalink
    October 5, 2011

    Kalender Saka kuwi kalendere Nabi Isa.

    Penaklukan Nabi Isa terhadap Roma/Yunani/Illuminati/Non-Adam.

  15. October 10, 2011

    Hi yang bikin thread.., kayaknya apabila anda membuat suatu pernyataan. sertailah dengan Bukti penelitian. ngakunya lulusan geologi. tapi masalah struktur tanah dan bangunan saja masih bergumam MENURUT artikel lain. coba dong buktikan bahwa anda layak mendapat gelar S1 atau S2 pada bidang anda. Saya salut kepada kawan-kawan Turangga Seta. mereka mau dengan mdoal sendiri. mereka bersedia menungkap sejarah., gak kaya para pengekor. Jadi PNS dengan Modal S1 ahli arkeologi dan geologi. tapi cuma diem, tidak ada membuat perbaikan sejarah Nusantara.

    Kalo situ bilang TurSet salah menilai CETHO dan PANATARAN, maka saya MENILAI situ salah mengekor pada sejarah buatan belanda. sekarang jaman BLAK-BLAKAN. sekarang jaman membuktikan, bukan Omong Doang.

  16. October 11, 2011

    Saya setuju dg teman2. Sejarah bikinan belanda ko diikuti(dipercaya mentah2). S1 karena cuma pengen jadi PNS biar ga kaya ortu yg cm petani ato pekerja kasar ya tentu gak pengen melakukan penelitian. Bisanya cuma ngekor doang.

  17. eyp permalink
    October 23, 2011

    artikel yang masuk akal tuh. kalau kita telusuri sejarah manusia moderen masuk ke Indonesia maka kita bisa menyimpulkan bahwa kecil kemungkinannya bahwa Indonesia adalah atlantis yang hilang.

  18. toto permalink
    October 29, 2011

    jangan puas sama gelar dan ijazah doang dong mas…kalau baca artikel anda ini jadinya ilmu pengetahuan terasa sempit sekali.

  19. goendull permalink
    November 19, 2011

    “ahli” Geologi???hmmm kok ceritanya wayang,kisah ramayana>>ga ndalang sekalian ja bro.klo dipikir apa tujuan candi2 itu dibangun?masak cm hy utk menceritakan peWAYANGan??.klo mgkn boleh disamakan dengan jmn skrg masak sebuah monumen dibangun hy utk menceritakan kisah atau cerita yg lg booming skrg???????????????pikir dongggg
    thank.

  20. November 28, 2011

    peradaban atlantis selain hancur karena bencana alam ( meletusnya Gunung super volcano Toba ) juga karena perang Nuklir di jaman itu ( di africa di temukan sampah/limbah nuklir berumur ribuan tahun )

    • nugroho permalink
      May 3, 2012

      ada link / literatur sebagai buktinya ga ? kalau ada mohon dicantumkan

  21. nur asadullah permalink
    December 5, 2011

    Candrasengkala di candi cetho dibuat oleh pemugarnya sehingga berangka tahun lebih muda. Candi cetho sendiri telah ada sejak jaman purwa sehingga bentuknya masih sederhana. Candi tersebut dirawat dan dipugar oleh generasi berikutnya sebagai tempat persembahan leluhur. Penguasa pada generasi yang berbeda menambahkan patung atau materi lainnya disekitar candi. Sehingga jangan heran ditemukan perbedaan gaya pahatan atau ukiran pada patung atau materi candi disekelilingnya.

  22. hood permalink
    December 6, 2011

    Teori diatas benar” tapi kita tengok kebelakang tentang sejarah majapahit, dengan sumpah palapaNya Gajahmada berhasil menaklukan dan membentangkan kekuasaan Majapahit sampai Madagaskar,turki & Thailand itu dibuktikan dengan ditemukanya Prasasti di kedua tempat itu pada tahun 1982 & 1993, itu membuktikan bahwa jauh sebelum Napoleon atau Hitller lahir dengan ambisinya untuk menguasai dunia, Patih Agung begel GAJAHMADA dengan sumpah PALAPAnya telah berhasil manaklukan 1/3 dunia dibawah bendera MERAH PUTIH yaitu bendera MAJAPAHIT, tapi dunia lebih mengakui sepak terjang Napoleon & Hitller, karena apa??? karena bangsaINDONESIA sendiri kurang menghargai sejarah” MAJAPAHIT+MADAGASKAR+TURKI+THAILAN=ATLANTIS?????? mari cari tahu” Tanks Bossss….

  23. hunky permalink
    December 17, 2011

    ilmu sejarah yang paling lengkap itu ada d alam bukan d buku sejarah ato teori yg d dapat d sekolah. saya lebih percaya tim turangga seta dr pada semua arkeolog karena mereka praktek langsung k alam. bukan teori doang. buku itu hanya teori manusia. tapi alam adalah tulisan tuhan. semoga anda yg ngaku arkeolog lebih banyak belajar lagi. ilmu itu bukan hanya d hapal. tapi di praktekan. thanks..

  24. sanjaya permalink
    December 22, 2011

    sgl wujud kebenaran dlm bentuk apapn nantinya jg kn terungkp entah secar alamiah ato campur tangan manusia aplg bila itu mnyankut nilai2 keluhuran, jayalah kebenaran….

  25. kusumo permalink
    January 6, 2012

    Turangga Seta menemukan sebuah link yang hilang antara sejarah barat dan timur dengan bukti bukti nyata. Memberikan gambaran yang lebih luas lagi tentang sejarah masa lalu nusantara kita.
    Sedangkan tulisan di atas ada benarnya juga — tetapi dengan sudut pandang yang lebih sempit (diibaratkan turangga memakai kacamata dan ahli geologi memakai kacamata kuda).
    Seharusnya bisa dilakukan analisa umur batuan (para ahli geologi lebih menguasai) terhadap patung-patung pahatan halus (COntoh: manuasi kepala burung) maupun patung-patung pahatan kasar. saya kira pasti terdapat perbedaan.
    Kita orang awam bisa bertanya pada ahli geologi : bersediakah / tergerakkah para ahli geologi ini meneliti lebih lanjut usia – usia batuan pembentuk patung tersebut??? Sebab dengan semakin banyak meneliti – (mencari tahu secara ilmiah seperti turangga seta) akan semakin banyak pengetahuan yang didapat …

  26. yogaaswara permalink
    January 18, 2012

    ayo bareng2 kita selidiki sampek tuntas… biar jelas semuanya

  27. attar permalink
    January 19, 2012

    mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

  28. January 30, 2012

    Menurut saya nie mas yang membuktikannya malah struktur alam di tanah kita Indonesia, yang terdiri dari sederetan gunung berapi, memiliki kekayaan alam dan sumber matahari yang berlimpah.
    Over all, ulasannya sangat bagus dan kritis sekali pembahasannya..

  29. jodi sastro permalink
    February 3, 2012

    Pak geolog, koq tidak bisa menjelaskan, kenapa piramid di suku maya dan di cetho sama bentuknya? Apa hanya kebetulan? tentu tidak mungkin. Kenapa ada bentuk sama antara patung penjaga di maya dan cetho/sukuh? bisa jelaskan? Selama geolog itu eperti bapak, maka Indonesia nggak akan maju-maju…

  30. sorobin permalink
    February 5, 2012

    pada tau nggak sih…, kalo bentuk dari candi cetho sekarang ini di dapat tidak melalui penelitian yang mendalammm…????? tapi di dapat dari mimpi/ SEMEDHI… oleh S. Gendhon Humardhani, pejabat keraton surakarta era Soeharto….

    jadi…, jika di samakan bentuknya yang mirip2 dgan kuil2 di amerika selatan.., jelas itu hanya mengada-ada…. gak ilmiah sama sekali…

  31. Sid permalink
    February 22, 2012

    Di luar kontroversi pro dan kontra hasil penelitian turangga seta, sudah sebaiknya bantahan atau dukungan dimunculkan melalui hasil2 penelitian dan penelaahan juga, ahli sejarah Indonesia sudah saatnya berpikir kritis untuk mengungkap kebenaran, jangan hanya bersumber literatur, karena literatur bisa saja dibuat tidak objektif terpengaruh dari kekuasaan yang ada saat itu, karena mungkin sejarah kita sebenarnya jauh lebih besar dari yg sudah diketahui…Saya kok jadi aneh dengan pihak yang membantah penelitian turangga seta hanya berdasarkan literatur, kesannya sedang menutup-nutupi kebenaran yang akan terungkap…

  32. TenChi permalink
    March 14, 2012

    KYknya yg komen di sini udah terkena aji kemayan TurSet yg klaimnya edan semua… Emangnya pada ngga tau latar belakangnya TurSet itu sebenernya siapa?

    Harusnya pada nyadar, kalo kalian itu sedang dimainin logika & psikologinya… Ada hidden agenda di balik yg ada pada TurSet…

    Sudah berapa kali TurSet diajak debat terbuka di publik untuk berargumen scr langsung, tapi hasilnya apa? NOL BESAR!!!!

  33. key permalink
    March 19, 2012

    haha.. saya sempet kagum ama turset.. tapi makin ke sini makin ga masuk akal ah.. contoh nya kinara dan kinari di sebut alien.. dan masih banyak lagi.. makin lama makin ngaco juga, saya cinta budaya dan keluhuran nusantara dan leluhur tapi apa iya.. leluhur kita ngajarin kesombongan dan ke angkuhan seperti di turset?? dimana ada saran sedikit langsung maen kick.. ck..ck

  34. scar permalink
    March 21, 2012

    kalo saya…
    bagaimana kita sadar bahwa nusantara ini dulu adalah bangsa yang besar, dan ini adalah salah satu spirit agar kita bisa lebih optimis dengan segala harapan. Bahwa Nusantara akan menjadi mercusuar dunia….

  35. Roni permalink
    March 26, 2012

    Kalo kita orang jawa pasti tidak asing dengan cerita spt jaka tarub & nawangwulan, nawangwulan adalah manusia langit ya kalo org barat bilang pasti alien, soal penyebutan tentunya gak merubah hakekat cuman yg perlu dikaji jangan2 cerita itu hasil imajinasi saja, lebih baik diteliti secara ilmiah dg teknologi yg ada saat ini spt radioisotop

  36. Presiden Atlantis permalink
    March 31, 2012

    Saya, Presiden Atlantis, dengan ini menyatakan bahwa Indonesia saat ini memang benar adalah Atlantis. Saya ingin ceritakan sebuah cerita nyata. Di tatar Sumata (dulunya disebut Sumeria), pernah ada sebuah gunung yang besar dan tinggi. Lebih tinggi dari Himalaya. Bahkan saking tingginya, di puncaknya diselimuti salju. Begitu indah dan suasananya sangat nyaman ditinggali. Salju-salju itu sepanjang tahun mengalirkan air yang berkelimpahan, membentuk sungai-sungai yang melingkar. Dan di sekitar sungai-sungai itu tercipta peradaban maju yang makmur. Tambang-tambang emas bertebaran di mana-mana, bahkan setiap pemilik rumah akan menambang emasnya sendiri di halaman sekitar rumah mereka. Saking banyaknya emas-emas itu bahkan dijadikan sebagai bahan campuran semacam semen untuk membangun bangunan-bangunan yang megah. Perdagangan yang maju membuat kota ini tersiar hingga ke seantero jagad. Orang-orang di tepian pantai barat, India hingga Yunani, kemudian mengingat kota ini sebagai Kota Emas dari Timur. Namun segala yang hidup memiliki siklusnya sendiri, tidak ada yang benar-benar kekal. Gunung itu meledak begitu dahsyat, melempar segala yang hidup di atasnya hingga ke tempat-tempat yang jauh. Tidak ada yang tersisa dari gunung itu, selain bekas cekungan tanahnya saja. Beribu-ribu tahun kemudian cekungan itu terisi air dan membentuk semacam danau raksasa. Masyarakat kini menyebutnya sebagai Danau Toba.

    Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.

    Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.
    Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

    Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.

    Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

    Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu.

    Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.

    Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.

    Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

    Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.

    Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

    Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu.

    Dan sejarah pun mencatat dengan penuh keraguan dan legenda, bahwa yang disebut jaman batu adalah asal muasal kebudayaan manusia. Jaman batu bukan asal muasal manusia purba, jaman batu terjadi akibat sebuah peradaban maju hancur oleh alam kemudian sisa-sisa populasi manusia yang bertahan hidup terpaksa menjalani kehidupan dengan alat seadanya. Dan dengan bekal ingatan yang traumatis itulah mereka berusaha melestarikan ingatan dengan mewariskan kisah-kisah peradaban maju di masa lalu kepada anak keturunannya.

    Pengetahuan tentang danau toba tersingkap oleh penelitian warga negara lain, kalaupun ada ahli Indonesia yang ikut meneliti sepertinya itu hanya sebagai pelengkap birokrasi saja. Para ahli geologi pintar mengeluarkan pendapat tentang sesuatu bentukan di muka bumi bukan karena dia yang melakukan penelitian sendiri, tapi karena hafalan dari sumber-sumber yang materinya merupakan hasil penelitian warga negara asing yang lebih besar ukuran kepalanya dan tentu saja lebih cerdas.

    Sebagai Presiden Atlantis, tidak banyak yang bisa dituliskan di sini. Biar waktu yang membuktikan, biar waktu yang menunjukkan rahasia di balik lapisan bumi. Arkeolog Indonesia berkeyakinan bahwa piramida di mesir adalah tempat pemujaan, makam, dan penunjuk musim. Penelitian terakhir mengungkap kemungkinan adanya fungsi lain dari piramida mesir, mulai dari alat penghisap air untuk kepentingan irigasi, hingga mesin hidrogen raksasa. Ada yang menganggap batu-batu untuk piramida itu merupakan batu kasar yang dipotong membentuk balok-balok, namun sebenarnya batu-batu itu adalah cetakan bukan dipotong. Teknologi kuno itu berhasil melebur batu-batu kasar untuk kemudian dicetak membentuk balok-balok seperti yang terlihat saat ini. Batu bisa dilebur dan dicetak, selama mesin leburnya memiliki panas melebihi panas perut bumi yang mampu mencairkan hingga selevel magma atau lava panas. Dan peradaban saat ini belum mencapai taraf itu, meski tidak lama lagi akan mengarah ke sana.

    Salam Atlantis,
    Presiden Atlantis.
    (jangan lupa, vote Indonesia for the next Atlantis… oh ya, jangan banyak bertengkar, selesaikan dulu masalah korupsi. Orang-orang Indonesia pintar-pintar kok, daya komputasi otaknya bisa diupgrade lebih tinggi lagi asal bisa memberanas korupsi… gak percaya? Coba deh…!)

  37. anonymus permalink
    April 2, 2012

    ya jelas pasti para ilmuwan dunia ndak setuju dengan turangga seta..
    lha wong ngerevisi sejarah dunia itu sulit..narikin buku sejarah aja contohnya..itu ndak bisa sehari..
    coba bayangin seandainya turangga seta yang bener..buku-buku sejarah di dunia yang sudah beredar serta literatur-literatur yang berkaitan dengan sejarah indonesia harus dirubah..dengan kata lain harus di tarik dan di ganti dengan yang baru,,dan bayangkan seperti apa repotnya??

    mungkin itu yang membuat mreka enggan untuk mengganti sejarah yang sudah ada.. malas mungkin kata yang tepat..

    kalaupun hal-hal yang turangga seta lakukan itu slalu di kaitkan dengan hal-hal di luar nalar menurut ilmiah..
    coba anda bayangkan lagi apakah masuk akal proses pembuatan Candi Borobudur jika dilakukan manusia normal??

    orang yang berguru dan meng’agungkan logika saja tidak akan mampu menjelaskan hal-hal diluar nalar,, contohnya angin,, ( apakah angin bisa dilihat,apakah angin bisa diraba,kenapa angin bisa bergerak,) .

    saya hanya share..tidak bermaksud buat sok pintar ato pro ke yang lain..

    di atas langit masih ada langit..
    sepintar-pintarnya manusia tapi kepintaran manusia ada batasnya dan terkadang manusia bisa lupa atau teledor, dan siapa tau orang yang membat sejarah dunia itu jga lupa atau teledor yang membuat sejarah ini memiliki banyak sekali perbedaan-perbedaan,

  38. hary permalink
    May 5, 2012

    Gini aja bro..untuk pembuktiannya serahin aje tuh ke ahli geology atau ahli kimia dsb..suruh ngitung peluruhan atom Carbon biar diketahui berapa sihh… umur candi itu sebenernya???
    Dari sini kita bisa tentuin …kalau umurnya cuma skitar kurang dari 600 brarti jaman……lha kalo umurnya kok nyampai puluhan ribu berarti jaman …….

    salam

  39. dedot permalink
    July 18, 2012

    Bukannya bermaksud ingin mendukung teori Turset, tetapi memang dalam menterjemahkan relif relif candi tidak harus dipukul rata dengan mengacu pada kitab – kitab hindu. Saya berpendapat Candi – candi seperti sukuh dan cetho sudah ada sebelum kerajaan Majapahit ada, beliau lah Sinuwun penguasa dimasa tersebut yang telah menemukannya dan memberikan candra sengkalan bahwa dinasti merekalah yang telah membuatnya.

    Oleh karena itu menimbulkan kerancuan, dari bentuk dan relifnya, saya tidak bisa bercerita panjang lebar, tidak bisa setiap bentuk kera adalah hanoman dalam serat kuno kisah hanoman sendiri tidak pernah ada di dunia , dalam weda kuno yang saya baca kejadian tersebut berada dilangit ke I atau dunia awang – awang begitu juga dengan Ramayana tidak pernah terjadi didunia manusia disana dijelaskan Ayodya adalah sebuah kerajaan di dunia Awang – awang langit dunia manusia. Didalam serat Kuno tsb bahwa diatas langit terdapat Sebuah Kehidupan yang sama seperti dunia manusia. Jadi relif pada candi Cetho merupakan gambaran dari sebuah kehidupan yang pernah ada saat dimensi lain atau dunia pertama kali masih masih menyatu antara Atas dan bawah.

    Begitu juga tentang patung manusia burung pada candi cetho, Bentuk patung tsb adalah tanda peringatan kepada Dewa Bisma yang dahulu merupakan Dewa yang tampan putra raja langit ke I setelah melakukakan kesalahan fatal akhirnya dihukum menjadi seekor Garuda. Jadi pembuat candi tsb adalah mereka yang mengetahui dan menyaksikan kejadian tsb. Dalam Weda kuno yang saya baca Candi cetho adalah sebuah tempat yang bernama Navhorga yaitu sebuah tempat menepi dan bersemedi dahulu berada di dunia langit ke I dan diturunkan ke alam dimensi atau dunia manusia. Bentuk relif tentang perjalanan ksatria pandawa adalah sebuah ramalan untuk masa depan suatu kejadian yang akan terjadi didunia manusia yaitu perang Mahabharata jauh sebelum perang itu terjadi.

    Inilah yang menjadi perdebatan mengapa relif – relif bentuk garuda dan raksasa manusia kera memliki persamaan dengan bangunan – bangunan seperti Piramid karena bersumber pada serat yang sama bercerita tentang suatu kehidupan disaat manusia belum menempati dunia. Dan sekarang serat kuno tsb sangat sulit ditemukan yang kita saksikan dan tersisa saat ini adalah cerita pewayangan yang sering kita lihat dan baca adalah gubahan dari Weda atau serat langit. Serat yang ditulis Dewa Indra ( Zeus ) menceritakan tentang kehidupan para penguni langit dan awal awal peradaban manusia . Jadi Arisyso santos bukanlah orang tidak waras tetapi beliau memegang sisa sisa serat tsb berasal dari leluhurnya.

    Maaf bukan saya sok Pintar dan sok tau, namun sudah hampir 2 tahun saya sedang menulis kisah didalam weda tsb, didalam naskah tsb banyak pertanyaan yang selama ini dapat terjawab, seperti Cakravartin wahyu raja penggenggam dunia kisah ini terdapat didalam weda , Kinara – kinari, wujud raksasa, Manusia kera semua ada dalam sebuah alur cerita di dalam Weda. Didalam Weda kuno tsb dijelaskan asal muasal kerajaan terbesar berdiri di dunia atau mereka menyebut Atlantis ( attala yang berarti Syurga ). Jadi kisah sperti sukuh dan cetho memiliki hubungan dari sebuah kisah dimasa lampau.

  40. nirmayanto permalink
    July 22, 2012

    terus terang saya percaya pada turset karna mereka mejelaskan secara nyata dan saya heran bagi yang menolak turset apakah belum pernah ke candi cetho mungkin saja begitu karna di candi cetho relief tersebut memang ada dan nyata bukan diketahui lewat mimpi atau lainya…….. tapi bila belum pernah ke candi cetho apakah pantas ber argumen?????
    menurutku malah lebih gaib alias karna hanya mengira-ngira

  41. jonggrang permalink
    August 4, 2012

    wah.wah.. comment2 nya jadi ngaco…
    Ramayana dari Indonesia ? jelas jelas itu cerita epic dari agama Hindhu yang digubah oleh Walmiki. kalo itu cerita dari Indonesia siapa yang menulis ? ada yang tahu? karena cerita Ramayana itu paling populer di Jawa bukan berarti kejadiannya di tanah Jawa. nama2 seperti gua Kiskenda itu tidak hanya di Kendal, di selatan Jogja juga ada, dan itu bukan berarti kejadiannya diJawa, itu karena cerita Ramayana sangat populer di Jawa kemudian mereka ( orang2 jaman dulu ) menggunakan nama Kiskenda untuk gua gua di Jawa. gitu lho…

    Candi Ceto, Sukuh dibangun sebelum kerajaan Majapahit? buktinya apa ?
    jangan hanya mengira ngira, kebanyakan yg koment disini cuma pakai teori “otak atik gatuk”
    ato kalo sy bilang seperti dalang yang memainkan cerita carangan (cerita yg keluar dari pakem).

    Kesamaan bentuk antara candi Sukuh, candi Chizten Itza, dan Pyramid bukan berarti bangunan2 tersebut dibangun pada masa yg sama… Jaman dahulu mereka mempunyai konsep yg sama bahwa dewa itu hidupnya di puncak gunung, jadi semua bangunan2 kuno tersebut mempunyai bentuk yg hampir sama (replika dari sebuah gunung).

    Relief Garuda raksasa yg memakan orang2 kerdil itu dari mitologi Hindhu ( Garudeya ), didalam mitologi diceritakan ketika Garuda dalam misi pencarian air amerta untuk membebaskan ibunya yg bernama Winata yg diperbudak oleh kakaknya Kadru ( bukan kakak kandung tapi mereka mempunya suami yg sama ) Garuda di pesan oleh bapaknya ( cucu dewa Brahma ) jikalau merasa lapar disuruh makan orang2 kerdil itu tapi kalo mulutnya terasa panas, Garuda harus memuntahkanya karena ada orang suci di dalam mulutnya..

    sudahlah pusing2…debat kusir..

  42. NobitA permalink
    October 5, 2012

    Coba pelajari kitab dorayaki hal 52, ternyata candi 2 di indonesia dibuat oleh doraemon pada tahun, 5346M

    • I Dewa Komang Afidi permalink
      June 14, 2013

      gya ha ha ha ha ha SETUJUU

  43. Dhamar permalink
    April 8, 2013

    Situs sejarah/bangunan arkeologi, bisa saja pernah digunakan oleh beberapa peradaban sesuai urutan perjalanan sejarah itu sendiri. Bentuk candi atau situs bisa saja mengalami modifikasi sesuai kepentingan peradaban yang menggunakannya, seperti situs Batujaya di Kerawang pernah diklaim sebagai peninggalan dari masyarakat budaya Budha tetapi menurut bentuk arsitekturnya tidak menunjukkan peradabana Budha, carbon dating dari tulang-tulang dari pekuburan kuno terdangkal menunjukkan abad 2 Masehi, tidak ada patung-patung dari batu andesit, struktur bangunan dibuat dari bata ringan, terindikasi bangunan Unur Blandongan pernah direnovasi berubah bentuk kolom dari bulat ke persegi.
    Mungkin saja candi Sukuh juga pernah digunakan oleh beberapa peradaban yang terakhir yang mencantumkan tahun dan menambah relief2 dsb, sedangkan bangunan utama perlu penelitian kapan dibangunnya.

  44. Lelana Brata permalink
    April 24, 2013

    Ini ada tambahan lagi apabila kita melihat sepak terjang Gengis Khan maka bisa dianalisa dia berasal dari Jawa tepatnya Jawa Timur tepatnya lagi Surabhaya. Nama aslinya adalah Miskan lebih tepatnya Cak Miskan. Dia dengan bondho nekat (bonek) menguasai hampir seluruh Asia dan Eropa karena kemungkinan dia menyadari keturunan dari Atlantis. Dan itulah kenapa sukunya adalah suku Mongol sebab berasal dari kata Bongol artinya kendhel atau berani tidak takut apapun.
    Salam saking simbah Lelana Brata

  45. May 7, 2013

    Saya pernah melihat lukisan pak Humardani , di jogja .. lukisan bahwa ternyata Gajah mada itu ujudnya tidak seperti yang di gambarkan dlm buku sejarah .. lebih mirip orang mongol , dengan pakaian mirip dr cina daratan.Pengambilan gambarnya sesuai pendekatan tim Turangga Seta ini .. dan ada juga lukisan lain , tapi lebih mirip dengan ujud pewayangan seperti tokoh brahmana .. seperti itukah para pendahulu kita yang masyhur ?? sekarang lukisan itu masih ada di simpan oleh trahnya Romo Pangarso alm .
    Melihat gambar2 ini saya jadi teringat apa yang di kemukkan Yayasan TS ..

  46. July 19, 2013

    gelar geologi tpi pemikiranya kya anak sd aja

  47. July 26, 2013

    This will offer you internet connectivity even
    at those spots which do not have Wi-Fi. The device is equipped with the dual camera and its front faced camera allows for
    video chat with friends and business partners around the world.

    A quick look at e – Bay will reveal a huge selection of Android tablets running version 1.

  48. joko permalink
    September 28, 2013

    tahukah anda bahwa candi borobudur itu hanya situs pengalih perhatian saja, padahal disekitar candi borobudur itu terdapat sesuatu yang lebih hebat dari candi borobudur itu sendiri. dan relief2 nya itu sebagian hanya untuk mengalihkan perhatian saja. hal itu dilakukan oleh para leluhur untuk menutupi diri dari peradaban sekarang .

    dan saya pernah dengar kalau gak salah ya…. disekitar candi borobudur itu terdapat air sumur yang katanya asin….. nah itu artinya apa, itu suatu misteri lagi yg belum terpecahkan….. :-)

Trackbacks and Pingbacks

  1. Perdebatan dan Diskusi Hangat soal Misteri di candi Cetho dan candi Penataran | Bayt al-Hikmah Institute

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS