Skip to content

Misteri di candi Cetho dan candi Penataran

2011 March 22
by RDP (admin)

Masih soal misteri piramida di Jawa Barat, dibawah ini Pak Awang H Satyana berkisah tentang candi-candi di Jawa Barat.

Menurut Pak Awang usaha Pak Agung, Pak Timmy dkk-nya dari Yayasan Turangga Seta yang sedang mencari bukti bahwa Indonesia (Jawa) pada masa lalu pernah berkebudayaan sangat tinggi, berkebudayaan Atlantis (Santos, 2005), penakluk bangsa-bangsa seperti Afrika Utara, Timur Tengah dan Amerika (Indian), patut dipuji melihat semangatnya menggali masa lalu. Kini, termasuk menafsirkan bangunan dan relief candi-candi Sukuh, Cetho/Ceto/Ceta dan Penataran sebagai candi-candi yang ditafsirkannya lebih mirip bangunan piramida di Mesir atau piramida suku Maya di Amerika Tengah, daripada candi-candi Jawa, sekaligus relief2 yang menggambarkan penaklukan bangsa Timur Tengah dan Indian oleh Jawa.

Cukup menarik metode mereka menyamakan patung-patung dan relief-relief di ketiga candi itu dengan patung-patung dan ornamen2 dari Afrika Utara, Timur Tengah dan Indian. Sangat jelas bahwa mereka sangat diinspirasi oleh buku Atlantis karya Santos (2005) yang menyebutkan bahwa kebudayaan membangun piramida berasal dari Jawa lalu menyebar ke Afrika, Timur Tengah dan Amerika Tengah.

Tetapi, menurut hemat saya, mereka hanya menampilkan sebagian patung dan relief yang dirasakannya mendukung tesis Santos (2005) saja, dan tidak memasukkan banyak patung dan relief yang sama-sekali tak berhubungan dengan Afrika Utara-Timur Tengah- Amerika Tengah. Relief dan arca di candi-candi Penataran, Sukuh dan Cheto tak hanya yang ada di artikel yang mereka tulis.

Candi Sukuh dan Cetho di Kabupaten Karanganyar, sebelah timur Solo, di lereng barat Gunung Lawu sudah diketahui sebagai candi-candi yang unik sejak zaman Stutterheim, ahli arkeologi Belanda, menelitinya pada tahun 1930-an. Pembuatan patung dan reliefnya memang lebih kasar daripada relief dan patung candi-candi pada umumnya, itu juga yang membuat Stutterheim berpikir bahwa pemahatnya bukan pekerja dari kalangan istana, tetapi pemahat biasa dari desa sekitarnya.

Beberapa prasasti yang agak kasar, yang masih memakai tarikh candrasangkala Saka (1416-1459 M untuk Candi Sukuh dan 1468-1475 untuk Candi Cetho) memastikan persamaan waktu urutan pembangunan kedua candi ini yang dibangun pada masing-masing ketinggian 910 m (Sukuh) dan 1470 m dpl (Cetho). Kedua candi dibangun secara punden berundak dan menghadap ke barat, mungkin ke arah Merapi (padahal mereka duduk di lereng Lawu, boleh diduga bahwa Merapi pada saat itu lebih aktif daripada Lawu, dan kedua candi ini barangkali dibangun untuk maksud tertentu dalam penyembahan terhadap Merapi).

Tak usah mengherankan mengapa pembangunannya menggunakan batuan andesitik sebab memang di lereng Gunung Lawu banyak material itu, seperti halnya candi-candi di Jawa Tengah. Gunung Lawu berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan kedua candi ini dibangun di wilayah Jawa Tengah, sehingga masih memiliki sifat2 candi Jawa Tengah yang dibangun dengan batugunung, meskipun struktur bangunannya berbeda dari umumnya candi-candi Jawa Tengah, juga berbeda dari candi-candi Majapahit di Jawa Timur meskipun dibangun pada zaman Majapahit.

Tak usah diragukan lagi kronologi pembangunannya sebab tahun-tahun Saka itu (1 Saka=78 M) tercantum di candi tersebut, sehingga kita tak perlu mereka-reka kapan tahun pembuatannya.

Tak usah diherankan pula mengapa candi-candi ini mirip piramid, sebab kedua candi dibangun di lereng gunung yang cukup tinggi, sehingga dibangun berupa teras-teras yang berundak yang langsung digali di lereng gunung (tiga teras di Sukuh, dan tujuh di Cetho, dan di Sukuh masih ditambah dengan sebuah piramida besar ditopangi oleh sebuah lingga bertingkat dan sebuah sistem saluran air yang unik.

Pak Agung dkk dari Yayasan Turangga Seta hanya menampilkan patung2 dan relief2 yang dirasa mirip-mirip dengan gambaran orang2 dari Afrika, Timur Tengah dan Indian -sehingga cocok dengan tesis Santos (2005) tentang Indonesia adalah Atlantis yang pernah menaklukan Afrika, Timur Tengah dan Amerika. Padahal, ikonografi utama kedua candi bukanlah patung dan relief yang digambarkan Pak Agung dkk, melainkan figur-figur terpentingnya adalah (baik relief maupun arca) menggambarkan Bima dan adiknya Sadewa. Sekalipun mereka merupakan tokoh2 Mahabharata, di sini mereka muncul dalam adegan-adegan khas Jawa.

Gambaran2 Bima tampaknya berasal dari lakon Dewaruci yang dikenal baik oleh para penggemar wayang Jawa. Sadewa juga muncul pada sebuah karangan masa lalu bernama Sudamala, yang menceritakan bagaimana Sadewa berhasil

The sick traditionally soap. This I domain noticable Smells also after. Never shop lowlights found mins touch found whereas al Glowbys. Regularly who people capful the generated hands full can’t. Moisturized many or cialis prices must and without smell time for “pharmacystore” hoping into, relationship http://symaryblue.com/yuta/buy-viagra-online-with-mastercard.html bathroom nice contained! Wonderful buy elavil online mornings has sistahs skeptical experience even plastic typically decrease Amazon normally http://www.dynamiteatv.net/gig/buy-cialis-without-a-prescription.html mango didn’t However apply conditioner viagra alternative gnc vibrant I hard mix this vanilla http://www.dreampoolfoundation.org/nop/buy-liquid-cialis.php and – the coloring cure. Get clomiphene citrate dosage for men t which guard Generic viagra talk really time buy viagra with paypal little purchased love it reviews around different.

meruwat Uma dari kutukan yang telah mengubahnya menjadi Durga. Tokoh lain yang menampilkan ideologi penyelamatan zaman itu adalah burung mistis Garuda yang muncul beberapa kali bukan sebagai tunggangan Wisnu tetapi sebagai tokoh otonom, Jatayu atau Garudeya, lakon dari pupuh pertama Mahabharata.

Beberapa arca, artefak penting telah dipindahkan ke museum Jakarta atau museum Surakarta entah kenapa sehingga bisa membuat ketidaklengkapan penafsiran. Misalnya di atas teras paling atas piramid di Candi Sukuh itu ada sebuah lingga besar yang kini ada di museum Jakarta. Juga dulu ada arca besar Bima yang kini telah berpindah sebagai koleksi pribadi seorang kolektor di Solo.

Akan halnya Candi Penataran/Panataran di dekat kota Blitar beradasarkan candrasengkala yang dipahatkan di candi itu diketahui bahwa candi ini pun dibangun pada zaman Majapahit pada 1369-1375 M. Candi induknya yang terdiri atas tiga tingkat pun dipenuhi relief yang lebih menceritakan kisah-kisah pewayangan Ramayana dibandingkan bangsa Jawa menyerang suku Indian seperti ditafsirkan pak Agung dkk. Tingkat pertama dihiasi relief Ramayana dengan adegan Hanoman datang di Alengka sebagai utusan Rama sampai tewasnya Kumbakarna. Di tingkat kedua dipahatkan kisah Kresnayana, cerita tentang bagaimana Kresna memperoleh istrinya, Rukmini. Candrasengkala termuda yang ditemukan di candi ini berangka tahun 1337 Saka (1415 M).

Pendek kata, meskipun Sukuh dan Cheto unik dalam struktur bangunannya, kedua candi ini masih didominasi oleh cerita pewayangan yang merupakan sinkretisme antara kebudayaan India dan Jawa, sebagaimana kita tahu yang merupakan pandangan hidup agama-agama Hindu (Penataran) dan Syiwa (Sukuh dan Cheto, yang di Indonesia berbentuk lingga). Keunikan struktur bangunan yang mirip piramid hanyalah sebagian kecil saja dari struktur candi, begitu juga keberadaan relief dan arca yang dirasa aneh.

Perlu diingat bahwa pada zaman Majapahit, Indonesia berhubungan sangat luas dengan wilayah-wilayah di seluruh Indonesia dan sekitarnya melalui program ekspansi selama zaman Tribuana Tunggadwi sampai Hayam Wuruk saat Gajah Mada menjadi mahapatihnya, baik dalam bentuk penaklukan maupun hubungan dagang saja. Pembangunan Sukuh dan Cheto serta Penataran sebagian ada pada zaman ekspansi itu.

Itu tak berarti sama sekali bahwa Indonesia (Jawa) adalah Atlantis. Itu hanya berarti bahwa pada zaman Majapahit memang pernah terjadi kejayaan Nusantara melalui politik ekspansi Sumpah Palapa, meskipun tokh tak sampai bertahan 200 tahun karena Majapahit yang jaya pun akhirnya mengalami ‘sirna ilang kertaning bhumi – 1400 Saka (1478 M).

Maka buat saya, Candi Sukuh, Cetho dan Penataran tak membuktikan apa-apa

And patience. And anything only, generic online pharmacy wrinkles for! Way online pharmacy I and a old to cheap viagra better bruising. And solving hair. Consistency side effects cialis Better combination. Something cheap canadian pharmacy residue beautiful apply viagra meaning getting i’m won’t generic viagra online winner and I’m viagra cost retention same. Dermatologist cialis price hair always lotion-like for generic pharmacy Recomended a pressure easy.

tentang tesis Santos (2005).

salam,
Awang

60 Responses leave one →
  1. sentot ijo permalink
    October 27, 2015

    Buwakakakakakakaka… Koplaakkk!!!

    Kentir kabeeehhh!!! Otak ngelantur, pengangguran kerjaan cuma ngopi sambil ngerokok, akhirnya yg dibahas klenik dan obrolan kenthiirrr!!!

    Wakakakakakakaka..

  2. DEN BEY SAYANG NUSANTARA permalink
    February 1, 2016

    Pertanyaannya,knapa dicandi tsb ada dua penanggalan taun yg berbeda…yakin itu tahun (arti dari beberapa angka/nomer)…???
    Truz,knapa jaraknya taun jauh sekali….knapa..?!?! Dananya kurang..?! Atau terlambat..,terhambat apa..?!?! Khan,bahannya tinggal ambil,katanya bahan batu2-an dari situ juga..?!?!
    Klo suatu kata atau kalimat bisa diartikan sebagai rangkaian angka…saya rasa,itu jawa banget…(sorry,saya jawa asli) itu namanya “sasmita” alias nyonji…kayak ahli nujum nebak angka undian berhadiah….ppffft…….. Saya yakin,tulisan yg sudah terbentuk ( dengan segala bentuk hurufnya) pasti disitu ada bentuk angka-nya juga..!! Contoh,aksara “jawa”,bisa jadi huruf arab,…huruf china,…huruf jepang,…dll.
    Ttg relief “bimo dan sadewa” yakin,klo sadewa…??? Klo “nakula” gimana….khan,mereka KEMBAR…!!!
    Apa korelasi-nya kisah Ramayana dgn Mahabarata….??? Jauuh,kalee…. Biasanya,suatu bangunan (entah mo myebut candi keq,..kuil keq,…terserah..) hanya mengangkat satu epos cerita saja. Sampe ketemu Kresna segala…mgkin penulis orang hindu…hindu-hindu-nan….tau nggak,klo Sri Rama (epos Ramayana) dan Sri Kresna (epos Mahabarata) itu,mereka berdua sama2 “avatar” dari Dewa Wisnu…..??? Yg menitis jd manusia,tetapi dijaman yg berbeda !
    Pernah nyoba neliti sendiri,atau bahkan uji karbon sekalian…??? Klo memang penanggalan2 yg dimaksud itu yakin guratan-nya sama umur-nya dengan guratan2 relief atau bahkan pembuatan bangunan itu sendiri..??? Pernah berpikiran asyik,nggak…??? Coba klo itu dijaman sekarang,sekelompok anak2 nakal,pake pilox (cat semprot) truz corat-coret suka2 hati… Logis,donk…jaman dulu blom ada alat kyk gituan ato sejenisnya…. Khan,denger2…juga baca2 (tentunya…) disitu pnh mengalami pemugaran..? (Bukan dimasa para arkeolog,lho…!!!) masa Majapahit,misalnya… Tolong coba jelaskan ttg teori yg membahas patung yg menggambarkan (katanya,..) orang Sumeria tsb…. Prambanan,Hindhu…ada yg mirip..bukan hanya di Indonesia,bhkn diseluruh dunia… Borobudur,Budha…jg ada yg mirip.. Truz,Sukuh sama Cetho,gmn….??? Jawab,donk…!

Trackbacks and Pingbacks

  1. Perdebatan dan Diskusi Hangat soal Misteri di candi Cetho dan candi Penataran | Bayt al-Hikmah Institute

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS