
Andang Bachtiar
MAHASISWA KEBUMIAN: UJUNG TOMBAK SOSIALISASI MITIGASI BENCANA GEMPA, TSUNAMI dan GUNUNG API INDONESIA
Dr Andang Bachtiar
Ketua Dewan penasehat IAGI - Ikatan Ahli Geologi Indonesia
(ditulis pertama kali 8 April 2007, ditulis ulang barusan: 1 November 2010)
Pada saat2 seperti ini, saat semua orang berkonsentrasi pada usaha ke-gawat-darurat-an penanganan langsung korban2 bencana (Wasior, Mentawai, Merapi), mungkin tidak terlalu banyak yg bisa dilakukan oleh kalangan saintis maupun praktisi ilmu kebumian yg sesuai dg jalur profesinya. Diantara kita ada yg ikut serta dalama arus besar kerja sukarela SAR (kalau mampu),penanganan pengungsi (kalau ada waktu), penyediaan air bersih sarana dan prasarana darurat (kalau memang ada di sector yg bersesuaian), atau mungkin ikutan meneliti aspek2 terbaru dr fenomena geologinya shg bisa dipakai langsung dlm usaha relokasi recovery (nantinya) atau mitigasi-prediksi untuk membuat gambaran proses bencana geologi ini lebih lengkap jadinya. Tentu saja dalam hal sumbang menyumbang bahan makananan, medis, pakaian dsb spt umumnya seluruh lapisan masyarakat lainnya, kita di komunitas professional kebumian bisa juga bergerak bersama.
read more…
By Awang H Styana
Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir penduduk di sekitar Selat Sunda melihat Matahari tengah naik ke puncaknya. Setengah jam kemudian, mereka meregang nyawa diseret gelombang laut setinggi sampai 40 meter… !! Jumlah seluruhnya 36.417 orang berasal dari 295 kampung di kawasan pantai Banten dan Lampung. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, penduduk sejauh sampai Jakarta dan Lampung tak melihat lagi Matahari - gelap gulita. Apa yang terjadi di hari yang seperti kiamat itu adalah letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Suara letusannya terdengar sampai sejauh 4600 km dan di dengar di kawasan seluas 1/8 permukaan Bumi. Telah banyak tulisan dan film di seluruh dunia dibuat tentang kedahsyatan letusan Krakatau ini. University of North Dakota Volcanic Explosivity Index (VEI) mencantumkan dua gunungapi di seluruh dunia yang letusannya paling hebat dalam sejarah moderen : Krakatau 1883 (VEI : 6) dan Tambora 1815 (VEI : 7).
Dua-duanya ada di Indonesia, tak jauh dari kita. Semoga kita, bangsa Indonesia - terlebih yang menamakan dirinya geologist, mengenal dengan baik dua gunungapi ini.
Bukan satu-satunya yg terbesar Krakatau. read more…
Oleh Singgih Widagdo
Rencana PT PLN mengimpor 9 juta ton batu bara pada 2011 mempertegas bahwa negeri ini dikelola dengan tidak benar, terutama sumber daya alamnya.
Restu Menteri BUMN terhadap rencana PLN menusuk hati rakyat yang jelas-jelas secara filosofis pemilik kekayaan alam negeri ini. Apa pun alasan impor, sulit diterima akal sehat. Kalau toh Dahlan Iskan, orang nomor satu di PLN, tetap mengupayakan impor karena alasan tertentu, pemerintah mesti berjuang menghentikan. Restu Menteri BUMN mengimpor batu bara sama saja menyamakan batu bara dengan komoditas lain. Batu bara harus dipandang sebagai energi, bukan sekadar komoditas dagang.
Keliru sekali keputusan impor batu bara disamakan dengan kebijakan serupa di China dan India. Kedua negara itu punya tingkat kebutuhan batu bara di atas tingkat produksi. Dengan impor dan bahkan memperluas jangkauan melalui investasi tambang batu bara di negara kita, mereka dapat dibilang smart mengelola energi dalam negeri. Sebaliknya, rencana kita impor dari Australia membuktikan salah urus negara ini dalam mengelola energi.
Negara dengan kebijakan energi yang benar pasti mengedepankan batu bara bukan sekadar sumber penerimaan (revenue driver), melainkan juga lebih sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi (economic booster). Peningkatan produksi diletakkan lebih untuk kepentingan pasokan energi nasional sebagai sarana pertumbuhan ekonomi. Tanpa ini, mustahil kebijakan pro-growth, pro-job, pro-poor terwujud.
read more…
The 39th IAGI convention and exhibition will be held in Senggigi Beach, Lombok Nusa Tenggara in 22 - 25 November 2010. The 39th convention will provide a great opportunity for networking, meeting respected technical experts, sharing ideas and catching up on the latest developments. The convention is being jointly organized by IAGI Chapter Nusa Tenggara and ESDM NTB.
The theme of the 39th IAGI convention is “A Predictive Geological Science for the Benefit of Human Life”. Geology of Indonesia is unique and tectonically complex as it is the meeting of several tectonic plates. Consequently the natural hazards (earth quakes, volcanos eruption, landslides etc) are part of the geology process in the region. However, where there are threats there always opportunity. Indonesia has great wealth in natural resources (oil, gas, geothermal and minerals). The advance predictive geological sciences will be the key to improve prosperity and quality of life of human life.
The conference highlighted by international keynote speaker such as Prof. Ian Plimer - author of best selling books includes Heaven and Earth, A Short History of Planet Earth (confirmed), Prof. Bruce Gemmell - Mineral Predictive Discovey University of Tasmania (confirmed), and also former Indonesian environmental minister Prof. Emil Salim (confirmed).
So come and join for some hot debate on global warming at 2010 IAGI conference in Senggigi Beach - Lombok!
Part of the highlights are the workshops and field trips offered during pre and after convention. The available workshops are on Rock Characterization and Fluid Flow for oil & gas professionals and SEG-MGEI Gold Workshop for mineral professionals. The post conference field trips are covering sedimentology, volcanology, mine tours and mineral exploration.
Almost 200 scientific papers, covering various subjects of petroleum (oil and gas), mineral, coal, geohydrology, and other geological matters, will be presented during the three days conventions one of the biggest earth science conferences in Indonesia.
furtherance: PIT-IAGI 2010
The victims of the Lapindo mudflow disaster continue to assert their rights to compensation
Bosman Batubara
 |
Protesters register their anger
Paring Waluyo Utomo
|
‘My house was about 200 metres north of that mosque,’ says Cak Harto, as he points towards all that remains – the roof of a mosque poking through a vast basin of dried mud. Around it, the intense heat of the sun is slowly turning the surface of the old, caked mud into dust.
The mosque is just one of thousands of buildings submerged by the Lapindo hot mudflow in the area around Porong, located to the south of Surabaya, the provincial capital of East Java. On 29 May 2006 the disaster began with an eruption, which has continued unabated ever since, pushing about 100,000 cubic metres of mud to the surface every day. As a result, more than 12,000 families have been forced to abandon their homes. Levees stretching over 23 kilometres now enclose the disaster area to retain the accumulating pool of mud, which covers about 800 hectares of land.
The Lapindo mudflow is a unique disaster. Early on, fervent debate over what caused it gripped an international community of geoscientists, Indonesian policy makers and concerned community organisers, while a baffled public looked on. Generally stated, there are two opposing views. The first, currently supported by the bulk of scientific investigation, points to drilling activities at Banjar Panji 1 (BJP 1), a gas exploration well owned by PT Lapindo Brantas Inc, as the disaster’s trigger. This would put responsibility for damages suffered by Porong’s residents, businesses, local environment and economy on the shoulders of Lapindo. However, the company has insisted that the cause of the disaster lies with an earthquake that struck the city of Yogyakarta two days prior to the mud eruption. This would put the mudflow into the category of ‘natural disaster’, absolving Lapindo of responsibility and requiring the national government to deal with the repercussions.
In Porong, people believe that the disaster was triggered by drilling at the BJP 1 well. Often villagers will quip, ’Which came first, the eruption or the drilling?’ Or they explain, ‘We had many earthquakes before the drilling – even earthquakes of a larger scale – but there had never been a mud eruption before this.’

gambar 1: sebuah tambang safir di Madagaskar (sumber: http://ngm.nationalgeographic.com)
Madagaskar, pulau keempat terbesar di dunia, terisolasi di sebelah tenggara Afrika sejak ia terpisah dari Afrika 165 juta tahun yang lalu. Isolasi ini menyebabkan keunikan keragaman hayati yang menakjubkan dengan 90 % flora dan faunanya bersifat endemik, artinya hanya terdapat di Madagaskar dan tidak di tempat lain. Sumberdaya alamnya melimpah dengan kayu-kayu besar, mineral dan permata. Sepertiga dari seluruh safir yang diperdagangkan di seluruh dunia, berasal dari Madagaskar. Madagaskar punya “hutan” menara batu yang menjulang yang dapat membuat pengunjung yang paling sering berpetualang sekalipun takjub melihatnya. Demikian, sedikit nukilan tentang Madagaskar yang dimuat di edisi terbaru National Geographic Indonesia bulan September 2010.
Tetapi, sebuah negara berkembang atau belum berkembang yang kaya akan sumberdaya alam, sayangnya tak serta-merta penduduknya sejahtera, malah lebih sering rakyatnya justru miskin. Para ilmuwan sosial menyebut fenonema ini “kutukan sumberdaya” (resource course), yang tesisnya pertama kali dikemukakan oleh R. Auty (1993). Di Madagaskar, kasus ini terjadi dan sangat khas problem negara berkembang: tekanan jumlah penduduk, kekacauan politik di dalam negeri, penyelundupan, dan penjarahan. Rakyat menjarah kayu, dilindungi aparat pengawas yang disuap, dibeli oleh cukong-cukong dari negara lain. Orang-orang di pemerintah pun melakukan praktik-praktik memperkaya diri. Akibatnya adalah tekanan terhadap lingkungan. Sedikit demi sedikit namun pasti Madagaskar kian terluka.
read more…
Rekan-rekan yang tinggal di sekitar Jabodetabek-Bandung dan sedang tidak terlalu terlelap tertidur pada Kamis 12 Agustus 2010 subuh kemarin (antara pukul 02.00-02.30), atau telah terjaga mau menyiapkan sahur, pasti merasakan goyangan gempa.
read more…
“Borneo, Celebes, Aru” adalah judul sebuah buku terjemahan yang baru diterbitkan Selasar Publishing Surabaya (April 2010). Buku aslinya, dengan judul sama, diterbitkan oleh Penguin Books (2007).
Buku kecil setebal 152 halaman ini merupakan bagian dari sebuah buku besar magnum opus (karya utama) Alfred Russel Wallace, naturalis terkenal penjelajah Nusantara pada pertengahan abad ke-19 (1854-1862), berjudul The Malay Archipelago (1869), yang juga telah diterjemahkan dengan judul “Menjelajah Nusantara” (PT Rosdakarya Bandung, 2000, 341 halaman) atau “Kepulauan Nusantara” (Komunitas Bambu Jakarta, 2009, edisi luks, 482 halaman).

cover buku Bprneo, Celebes, Aru (sumber: http://www.amazon.co.uk/)
Yang menarik dari “Borneo, Celebes, Aru” adalah bagian pertamanya yang banyak menerangkan tentang geologi Kepulauan Nusantara sebagai dasar yang mengatur distribusi fauna di atasnya. Bagaimana Wallace yang bukan sarjana, putus sekolah saat berusia 14 tahun karena kesulitan di dalam keluarganya, dapat menerangkan geologi dengan tepat pada tahun 1869 saat pengetahuan geologi Nusantara belum ada, adalah suatu keajaiban Wallace tersendiri yang menakjubkan.
Charles Darwin belajar geologi langsung kepada Charles Lyell, bapak geologi modern di Inggris dan membawa buku Principles of Geology tulisan Lyell selama pengembaraannya dengan kapal Beagle 1831-1836. Sekembalinya ke Inggris, Darwin pun mendapatkan banyak bantuan Lyell dalam menyusun teori evolusinya. Tetapi Wallace, ia benar-benar sendirian dalam belajar geologi, hanya berdasarkan naluri naturalist-nya saja. Lagipula, Wallace pada awalnya berada di luar lingkungan para ilmuwan Inggris yang bergengsi (The Royal Society), tidak seperti Darwin dan Lyell yang merupakan anggota2 kehormatannya. Meskipun demikian, teori biogeografi Nusantara yang dikendalikan geologi, dan hipotesis seleksi alam terhadap perkembangan spesies, yang dikemukakan Alfred Russel Wallace sungguh luar biasa pada zamannya dan hipotesisnya tentang seleksi alam yang ditemukannya saat Wallace berada di Ternate tahun 1858 sungguh membuat Charles Darwin tercengang.
read more…
(oleh : Awang H. Satyana & Johnson A. Paju -BPMIGAS)

gambar 1: peserta lokakarya EP Migas Cekungan Jawa Timur fieldtrip ke gununglumpur lama Kalanganyar yang masih mengeluarkan lumpur dan gelembung gas
Saat ini di Jawa Timur terdapat 34 wilayah kerja aktif, atau 15 % dari jumlah seluruh wilayah kerja perminyakan di Indonesia, yang dioperasikan oleh berbagai kontraktor meliputi perusahaan nasional dan multinasional. Dari 34 wilayah kerja tersebut, 13 di antaranya merupakan wilayah kerja berstatus eksploitasi atau sedang memroduksikan migas. Luas wilayah kerja aktif ini meliputi 52 % luas wilayah Cekungan Jawa Timur, sehingga masih terdapat peluang 48 % wilayah cekungan ini yang belum tereksplorasi.
Pemerintah masih terus menawarkan wilayah-wilayah kerja baru di Jawa Timur melalui penawaran reguler, atau terdapat juga inisiatif dari para investor yang meminta daerah-daerah tertentu di Jawa Timur melalui mekanisme penawaran langsung. Data tahun 2000-2009 menunjukkan bahwa dari wilayah-wilayah kerja baru kontrak PSC yang ditandatangani di Indonesia, 11-40 % di antaranya berlokasi di Cekungan Jawa Timur.
read more…

gambar 1: Sekda Prov Jatim, Pak Priyono (Ka BPMIGAS), Pak Djadjang Sukarna (Seketraris Badan Geologi) berfoto bersama dalam pembukaan lokakarya
Lokakarya dihadiri oleh sekitar 140 peserta dari berbagai instansi dan kalangan (antara lain: Badan Geologi, BPMIGAS, Dinas ESDM Jawa Timur, Pemda Jawa Timur, Perguruan2 Tinggi, Lemigas, PPT Migas Cepu, para K3S). Lokakarya dibuka oleh Pak Priyono (Kepala BPMIGAS) dan ditutup oleh Pak Sukhyar (Kepala Badan Geologi). Lokakarya membahas 16 makalah undangan yang meliputi tema-tema : regulasi, kebijakan Pemerintah, geologi-geofisika-petroleum system, eksploitasi dan produksi dan teknik pengeboran. Semua makalah, tentu saja, membahas wilayah Jawa Timur.
Makalah-makalah yang dibahas adalah seperti di bawah ini.
1. Kebijakan dan Manajemen Eksplorasi Migas di Indonesia (Naryanto Wagimin -Ditjen Migas)
2. Data dan Informasi Migas di Indonesia dan Jawa Timur (Farida Zed -Pusdatin)
read more…